Halaman

Minggu, 19 Maret 2017

Rindu tentang Rindu


Aku rindu pada wujud tanpa rupa
Rindu pada yg ada namun tak ada
Rindu akan hal tanpa sebab
Rindu akan sesuatu tanpa keadaan
Kerinduan yg bebas dari dimensi ruang dan waktu.
Bukan tentang ini dan itu
Bukan pula soal dia dan mereka.
Aku rindu tentang Rindu!

Yaa ayatuhan nafsul muthmainnah, irji'i ila robbiki rodiatan mardiyah, fadkhuli fii ibadi, wadkhuli jannati

Senin, 13 Maret 2017

Manusia Pembuat "Masalah" (2)


Sebenarnya, masalah yg dihadapi manusia itu bukanlah semata kesialan yg ditimpakan Tuhan atasnya. Semakin manusia melek terhadap segala sesuatu, saat itulah pintu "masalah" mulai terbuka untuk dirinya. Walaupun sejatinya masalah itu sudah hadir sejak mahluk bernama manusia lahir ke alam fana ini. Hanya saja, pemikiran yg belum sampai pada tahapnya. Sehingga kita belum menganggap itu sebagai masalah.

Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa agar masalah yg kita hadapi itu hilang, ada dua cara : tinggikan pengetahuan atau ilmu agar masalah ini menjadi semakin tak berarti, atau pasrahkan segalanya, terus jalani saja, percayakan pasti nanti ada jalan keluarnya. Layaknya anak kecil yang belajar berjalan.

Minggu, 18 Desember 2016

Manusia, Si Pembuat "Masalah;



Semakin Maju, Semakin Kompleks Masalah Kita

Kita dilahirkan ke dunia ini membawa nasibnya sendiri, dan kita menentukan nasib diri kita sendiri. Baik buruknya kita tergantung pada pilihan pribadi, meskipun kita lahir ditengah marsyarakat atau orang-orang yg heterogen.

Seberapa pun besarnya lingkungan mempengaruhi kita, pada taraf tertentu, dg perkembangan pemikiran kita, tentu dapat menimbang dan memilah mana yg terbaik diantara sekian banyak pilihan hidup. Karena itulah, Allah tidak menghukum manusia atas apa yg dipilihnya sebelum manusia itu sampai pada taraf pemahaman yg cukup dewasa. Allah membebani hukum sesuai taraf pengetahuan kita.

Untunglah, Allah, Tuhan semesta ini maha pemaaf dan maha mengetahui sehingga beban masalah, beban hukum diberikan sesuai kapasitasnya. Itulah bedanya dg hukum yg dibuat manusia. Hukum manusia berlaku menyeluruh sejak diberlakukannya peraturan meskipun orang tersebut belum mengetahui peraturannya.

Manusia lahir, tumbuh dewasa dengan pengalaman-pengalaman yg menyertainya. Manusia itu diberi bakat untuk terus berkembang. Karena itulah manusia mendapat tugas sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi ini. Naluri manusia adalah ingin menguasai, serba ingin mengetahui, dan berambisi. Manusia adalah mahluk peradaban.

Dulu sekali, manusia turun ke dunia ini dg ala kadarnya. Semua serba simpel, sederhana, ga njlimet. Manusia tidak perlu repot memikirkan tata masyarakat, tak perlu pusing membuat aturan-aturan, tak perlu capek membuat segala sesuatu untuk kebutuhan. Sederhananya, manusia hidup seadanya.

Dengan tabiat manusia yg cenderung berambisi dan tak pernah puas dg yg ada, maka manusia terus berkembang menciptakan "masalah-masalahnya" sendiri. Makin berkembang peradaban mahluk bernama manusia, maka secara bersamaan makin kompleks juga masalah yg dihadapi. ....