Halaman

Senin, 05 September 2016

Generasi Jadoel


SEKEDAR KITA-KITA TAU*
*Yang lahir angkatan
60 - 70 - 80
Sekedar anda tau.
Kita yg lahir di tahun 60-70-80an, adalah generasi yg layak disebut generasi paling beruntung.
Karena kitalah generasi yg mengalami loncatan teknologi yg begitu mengejutkan di abad ini, dg kondisi usia prima.

Kitalah generasi terakhir yg pernah menikmati riuhnya suara mesin ketik.
Sekaligus saat ini jari kita masih lincah menikmati keyboard dari laptop kita.
πŸ“ƒπŸ“„πŸ“πŸ’»πŸ’»
Kitalah generasi terakhir yg merekam lagu dari radio dg tape recorder kita.
Sekaligus kita juga menikmati mudahnya men download lagu dari gadget. πŸ”ŠπŸ“»πŸ“ΌπŸ“±
Kitalah generasi dg masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, galasin adalah permainan yg tiap hari akrab dg kita.
Sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan berbagai game di gadget .
πŸƒπŸŽˆπŸŠπŸ’ƒπŸ“±πŸ’»

Masa remaja.
Kitalah generasi terakhir yg pernah mempunyai kelompok /geng yg tanpa janji, tanpa telpon/sms tapi selalu bisa kumpul bersama menikmati malam minggu sampai pagi.
Karena kita adalah generasi yg berjanji cukup dg hati.
Kalau dulu kita harus bertemu untuk terbahak bersama.
Kini kitapun tetap bisa ber ''wkwkwkwk
πŸ˜„πŸ˜ƒπŸ˜€πŸ˜πŸ˜›πŸ˜œπŸ˜‚''
Di grup Facebook/whatsApp/line.

Kitalah generasi terakhir yg pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet dimana-mana.
Juga bersepeda motor menikmati segarnya angin jalan raya tanpa helm di kepala kita. πŸš΄ 🚡
Kitalah generasi terakhir yg pernah menikmati jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik yg membayangi kita.

Kitalah generasi terakhir yg pernah merasakan nikmatnya nonton tv dg senang hati tanpa diganggu remote untuk pindah chanel sana sini .

Kita adalah Generasi yang selalu berdebar debar menunggu hasil cuci cetak foto, seperti apa hasil jepretan kita.
Selalu menghargai dan berhati2 dalam mengambil foto dan tidak menghambur hamburkan jepretan dan dan mendelete nya jika ada hasil muka yang jelek.
Saat itu hasil dengan muka jelek kita menerimanya dengan rasa ihklas.
Ihklas dan tetap ihklas apapun tampang kita di dalam foto.
Tanpa ada editan Camera 360 photoshop atau Beauty face.
Betul2 generasi yg menerima apa adanya.

Kitalah generasi terakhir yg pernah begitu mengharapkan datangnya pak pos menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih hati.

Kita mungkin bukan generasi terbaik. Tapu kita adalah generasi yg
LIMITED EDITION.
Kita adalah generasi yg patuh & takut kpd ortu (meskipun sembunyi2 nakal & melawan) tp kita generasi yg mau mendengar & komunikatif terhadap anak cucu.
Itulah kita.... selalu bersyukur atas nikmat yg telah kita terima
Anda generasi itu?
Bagikan ini...
Biar yg belum tau menjadi tau. Biar yg pernah tau tetap ingat kalau mereka tau dan menikmati lagi indahnya masa lalu yg tidak semua generasi tau..
*Indahnya waktu itu........*

Senin, 29 Agustus 2016

Dear My Blog!

Dear my blog!

Oke, aku akan cerita lagi nih. Ceritanya soal beberapa hari lalu. Tepatnya hari Senin, 22 Agustus 2016, aku mengantarkan adik perempuanku ke Semarang. Alhamdulillah, setelah berkali-kali daftar dan ikut tes masuk PTN dan selalu gagal,tapi di tahun keempat sejak kelulusan SMA nya, dia diterima jg di salah satu PTN di ibukota provinsi Jawa Tengah. 

Perjalanan dimulai pagi hari sekitar jam 10 naik kereta. Sampai di Semarang sekitar jam 13.30, sampai kampus sekitar jam 2 siang. Oke, inti masalahnya bukan disitu. Saat rencana ke Semarang, aku coba kontak salah satu teman. Temanku ini sebenernya sudah sangat akrab karena pertemananku sangat intens saat satu tim penelitian di Pulau Alor, NTT. Hampir 3 bulan kami bersama, bahkan tidur satu atap yg sama. Jadi cukup mengenal dekat. Setelah penelitian selesai, aku tak pernah bertemu lagi. Sudah sekitar hampir 3 tahun ga ketemu lagi. Karena itulah, saat ke Semarang aku coba kontak dia utk bisa ketemuan karena kebetulan rumahnya di Semarang. 

Singkat cerita, dia bersedia ketemuan dg waktu yg sudah disesuaikan. Sebenarnya aku kangen dengan dia. Rencananya aku yg akan datang menemui dia setelah urusan dg adikku selesai. Tak disangka dia malah bersedia yg akan datang menghampiriku. Baiklah, akhirnya aku kontak tempatnya agar dia mudah mencariku. 

Anehnya, aku ngerasa deg-degan sendiri waktu mau ketemu. Grogi, ganggung dan bingung nanti harus gimana saat ketemu. Sekitar jam 15.30 akhirnya dia datang. Deg! Makin grogi. 

Dia datang dg motor dg setelan baju terusan yg panjang. Orang menyebutnya gamis. Dengan jilbab lumayan lebar, dia tampak anggun. Sekilas aku sempat terpana, atau boleh dibilang terpesona. Pangling. Kini dia berubah jd sosok wanita yg kalem, anggun, bersahaja dan mungkin rajin mengaji dan tentu rajin menabung. Hehee....

Untuk menutupi grogi, aku berusaha rileks dan becanda untuk menyapanya. Sebenarnya aku udah tau kalau dia bakalan menolak berjabat tangan, tapi aku iseng mencoba mengajak salaman sambil becanda. Benar saja, dia menolak halus ajakan berjabat tangan. 

Shit! Aku coba kuasai diriku biar ga terlihat kaku. Karena sebenarnya ku akui kalau aku naksir dia sejak lama. Tapi dulu hanya sebatas naksir, karena dulu posisiku sudah ada orang lain yg mengisi hati. Selama hampir 3 bulan waktu itu, aku jaga jarak dengannya. Bukan karena aku ga mau dekat atau gimana, itu kulakukan justru aku sangat menghormatinya, menghargainya. Aku menyadari sikapku itu berbeda saat aku berhubungan dg teman perempuan satu tim yg lain. Kalau dg yg lain aku masih bisa bersikap biasa dan cuek. Tapi dengannya, aku berusaha jaga sikap dan menghindari kontak atau hubungan yg intens. 

Entahlah. Bahkan walaupun hampir 3 bulan kami bersama dan pernah satu tim berdua saja dengan dia, aku ga berani sengaja menyentuhnya, kalau bukan kondisi darurat. Kalaupun menyentuh, hanya sekedarnya saja. Begitupun saat berjalan bersama melewati medan sulit atau terjal yg naik turun bukit, aku tak pernah berani untuk menggandengnya. Aku lebih memilih berjalan dibelakangnya atau tepat disampingnya agar kalau terjadi apa-apa, aku bisa cepat menolongnya. Pada kondisi tertentu, justru dia sendiri yg coba meraih tanganku utk digandeng atau minta bantuan untuk bantu ditarik. Ya lagi lagi aku hanya sekedarnya saja. Bahkan, utk duduk pun aku hampir ga pernah berdekatan sekali. Selalu aku buat jarak. 
Itu semua aku lakukan karena aku menghormati dan menghargainya, dan juga untuk menjaga perasaanku sendiri. 

Mungkin waktu itu aku sudah menyadari kalau aku sudah naksir. Makanya aku sengaja menjaganya. Itulah caraku pd perempuan yg kutaksir. Kebanyakan laki-laki biasanya melancarkan berbagai aksi utk bisa berdekatan atau kontak secara langsung dan intens. Tapi sikapku berbeda. Justru sebaliknya, aku berusaha membuat jarak aman, menghindari kontak langsung dan menghormatinya. Soal boncengan motor pun, sebisa mungkin aku ga dengan dia, kecuali kondisi terpaksa. Selain karena aku bisa grogi, juga lagi2 untuk "menjaga jarak aman". 

Dulu aku sempat berpikir kalau sebenarnya dia punya pesona yg tersembunyi, yg kalau bisa dimunculkan kuncinya, bakal punya daya tarik dan karakter yg memukau. Itu pikiran sok tau ku dulu. Hehehe.. tapi sepertinya itu jadi kenyataan sekarang. Saat pertemuanku kemarin dengannya. Cukup membuatku makin terpesona. Sekarang dia udah berubah. Saat bertemu dengannya kemarin, diam-diam aku tersenyum dalam hati. Aahhh... 

Allah, tapi aku malu berhadapan dengannya dengan kondisiku yg seperti ini. Sepertinya aku terlalu kotor kalau harus berhadapan dengannya. Dia telah Kau ubah jd sosok wanita yg luar biasa. Sedikit banyak, aku tau kehidupan dan peristiwa-peristiwa yg dialaminya akhir-akhir ini telah mampu mengubahnya. Dia telah menemukan kuncinya utk menjadi sosok yg patut dikagumi. Sedangkan aku, hanya biasa-biasa saja. 
Engkau Yang Maha Tau Allah. Engkau yang mampu mengubah segala hal. Engkau yg mampu membolak-balikkan hati. 

Minggu, 10 Juli 2016

Pernahkah Demikian?


Pernahkah kamu berharap pada seseorang?  Kamu berharap kebaikannya, kehadirannya, perhatiannya, kasih sayangnya? Tapi seringkah engkau dikecewakannya, menangis karenanya, disakiti olehnya? Lalu, pantaskah kamu masih berharap padanya? Ataukah dalam kecewa, dalam tangis dan dalam sakit itu Adakah kebahagiaan yang kamu dapatkan? Apakah dengan kecewamu, dia berubah menjadi baik? Apakah dengan tangismu, dia akan hadir? Ataukah dengan perasaan sakit hatimu, dia menyayangimu?
Mungkin jawabannya TIDAK

Jadi, bukankah ini saatnya untuk kamu pergi, berpaling, menjauh? Setidaknya pergilah dari rasa kecewa itu. Berpalinglah untuk tetesan airmata itu.  Menjauhlah untuk membahagiakan hatimu. Sulitkah itu bagimu?
Jika “YA”,  Pikirkanlah betapa dia tak pernah mengharapkanmu, mempedulikanmu, memikirkanmu. Tanpa kamu sadari, kamu telah hanyut dalam harapan, impian dan angan kosongmu.  Sedikit kata darinya sudah membuat kamu merasa diperhatikan. Sedikit senyum darinya sudah membuat kamu pikir dia peduli.  Sedikit kabar darinya sudah membuat kamu terlena, tak beranjak.
Ya, semua yg sedikit itu saja sudah membuat kamu bahagia. Yang sedikit bahkan semu, sudah membuat kamu bertahan.
Untuk apa? Untuk sesuatu yang KOSONG, tak pernah dia pikirkan, bkn apa-apa untuknya, DIA TIDAK TAHU, TAK AKAN PEDULI. Dan esok, lusa, nanti ataupun detik yang akan datang kamu akan kecewa, menagis dan sakit hati lagi. Tidakkah semua itu CUKUP?

Saatnya kamu melangkah. Mendaki di terjal kehidupan dan mengalir bagai sungai. Jangan bertahan untuk harapan yg tak pernah ada. Jangan menunggu hembus angin yang lalu
Jangan sampai kamu terbangun dalam keadaan remuk. Selagi kamu bisa berdiri, selagi airmatamu belum habis, selagi hatimu belum bernana, biarlah sakitnya terasa hari ini.
Esok luka itu akan mengering. Biarlah dia menjadi bagian kenanganmu, tapi dia tak lagi menghancurkanmu. Bahkan ketika kamu pergi, dia tak akan menangisimu. Mungkin dia tak menyadarinya karena kamu bukan yang diharapkannya. Kamu bukan yang dipirkannya. Kamu bukanlah apa-apa baginya.

Jangan pernah menoleh lagi untuknya. Jika hari ini kamu sadar siapa dia, besok, tahun depan, sepuluh tahun lagi
dia akan menjadi orang yang sama yang tak pernah mempedulikanmu. Yang hanya memberimu sedikit kata, sedikit senyum. Yang akan menumpahkan air matamu, Menggoreskan rasa kecewa, dan mengguratkan luka dihatimu.

Maka PERGILAH , PERGILAH..!
Biarkan hari ini adalah akhir kecewa kamu. Biarkanlah airmata itu menetes sederasnya. Dan biarlah rasa sakit itu menghunjam dalam, tapi itu yang TERAKHIR untuknya. Itu yang TERAKHIR.

Ingat!  Tuhan tidak menciptakan satu orang didunia ini. Bukalah hatimu. Diluar sana masih banyak yang membutuhkanmu. Cukuplah dirimu untuk mereka yang siap menerima cintamu Yang lebih menghargai cintamu.