Halaman

Minggu, 03 Desember 2017

Soal Karir

Assalamu'alaikum.

Setelah sekian lama tak menulis, kali ini saya akan bercerita tentang dunia nyata di kehidupan sehari-hari. Saya teringat dg pesan papah dulu. Papah pernah bilang, "kamu sekolahlah yg tinggi, carilah kerja yg bener. Apa saja. Siapa tau itu jalan rejekimu"

Karena pesan itulah, saya selalu berusaha menekuni pekerjaan apapun, walaupun itu ga sesuai dg minat atau disiplin ilmu saya.  Yg penting jalani dan tekuni dg serius, maka rejeki nanti akan ada jalannya sendiri. Bukannya lg sombong, semua pekerjaan yg pernah saya geluti, ga pernah ada yg saya lakoni setengah hati. Sebisa mungkin untuk maksimal, walaupun itu bidang pekerjaan baru bagi saya.

Dulu saya memimpikan utk bisa menjadi konsultan politik, kebijakan, peneliti dan jg dosen. Untuk mencapai itu, saya lakoni apapun tawaran pekerjaan. Mulai dari marketing alat kesehatan, marketing konsultan pendidikan, wartawan ekonomi, bahkan sekarang terjun di dunia properti. Dunia yg jauh dari disiplin ilmu saya.

Saat ditawari pekerjaan ini, mimpi saya sederhana. Saya ingin belajar bisnis properti agar kelak saya bisa memiliki bisnis properti sendiri, karena kebetulan salah satu adik saya lulusan sarjana teknik sipil. Adik saya yg lain saya arahkan untuk ambil bidang ekonomi, dan hukum. Saya membayangkan nanti bisnis yg akan dibangun akan saya libatkan adik-adik saya agar mereka ga perlu repot-repot mencari lowongan pekerjaan.

Saya mulai belajar menekuni dari lapangan, seorang pengawas dan pelaksana lapangan. Tau apa saya soal bangunan? Ga sama sekali. Tapi saya tetap belajar untuk bisa, sampai akhirnya ga butuh waktu lama saya dipercaya mengelola proyek sendirian. Hanya sekitar 3 bulan sampai akhirnya saya dapat kepercayaan. Tapi pengelolaan ini sebatas pengelolaan pelaksanaan lapangan. Walaupun sedikit-sedikit saya pun ngurus soal marketing, dan legal.

Selesai proyek tersebut, saya belajar lagi untuk siap ditempatkan pada rencana proyek selanjutnya. Singkat cerita, proyek demi proyek perumahan pun dibuka. Berpindah-pindah saya ditempatkan. Sampai akhirnya, saya dipercaya untuk memegang proyek baru di Banjarnegara. Saya mengawali sendiri disitu. Bahkan, saat proyek kedua dibuka di banjarnegara, saya yg dipercaya untuk memegang/mengelolanya. Ga butuh waktu lama saya bisa dipercaya memegang jabatan "tertinggi" di area. Area Manager. Jabatan yg cukup prestisius. Tapi bagi saya, ini biasa saja. Bahkan berkali-kali saya nolak dikasih amanah ini, karena masih banyak senior yg lebih dulu terjun dan berkecimpung di dunia properti. Tapi jawaban bos saya, "saya lebih percaya kamu".

Kadang saya rikuh atau ga enak hati untuk memegang jabatan ini. Karena beberapa senior saya di perusahaan, beberapa kali ditempatkan sebagai staf. Salah seorang pendiri perusahaan ini pun pernah ditempatkan sebagai staf dibawah pimpinan saya di area. Saya sering berfikir, takut ini malah menimbulkan kecemburuan sosial di perusahaan.

Waktu terus berjalan. Sepertinya, kini perusahaan telah mengandalkan saya dalam sistem kerja perusahaan. Boleh dibilang, saya cukup punya "pengaruh" bagi perusahaan. Bahasa kasarnya, kalau saya keluar dari kerjaan, perusahaan ini akan cukup kalang-kabut.

Ada pepatah, "janganlah kamu hidup dari organisasi, tapi berusahalah agar kamu bisa menghidupi organisasi". Kiranya itu pepatah yg berusaha selalu saya pegang. Rasanya malu kalau saya harus hidup dan bergantung dari organisasi tanpa bisa menyumbangkan apa-apa untuk organisasi.

Kamis, 01 Juni 2017

Jika dia untukku

Ya allah, jika Kau anugerahkan lagi perasaan ini, maka labuhkanlah hati ini pd orang yg benar-benar tepat.
Jika memang dia orang yg pantas untukku, maka dekatkanlah. Ridhoilah atas apa yg aku rasakan.
Engkaulah pewaris terbaik, maka wariskanlah padaku pasanganku yg aku kehendaki dan Engkau berkahi atasnya.
Mudahkan jalanku sebagaimana Engkau mudahkan jalan orang yg Engkau kehendaki. Engkaulah penguasa hati, genggamlah hatinya untukku jika itu memang hak ku.

Minggu, 19 Maret 2017

Rindu tentang Rindu


Aku rindu pada wujud tanpa rupa
Rindu pada yg ada namun tak ada
Rindu akan hal tanpa sebab
Rindu akan sesuatu tanpa keadaan
Kerinduan yg bebas dari dimensi ruang dan waktu.
Bukan tentang ini dan itu
Bukan pula soal dia dan mereka.
Aku rindu tentang Rindu!

Yaa ayatuhan nafsul muthmainnah, irji'i ila robbiki rodiatan mardiyah, fadkhuli fii ibadi, wadkhuli jannati

Senin, 13 Maret 2017

Manusia Pembuat "Masalah" (2)


Sebenarnya, masalah yg dihadapi manusia itu bukanlah semata kesialan yg ditimpakan Tuhan atasnya. Semakin manusia melek terhadap segala sesuatu, saat itulah pintu "masalah" mulai terbuka untuk dirinya. Walaupun sejatinya masalah itu sudah hadir sejak mahluk bernama manusia lahir ke alam fana ini. Hanya saja, pemikiran yg belum sampai pada tahapnya. Sehingga kita belum menganggap itu sebagai masalah.

Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa agar masalah yg kita hadapi itu hilang, ada dua cara : tinggikan pengetahuan atau ilmu agar masalah ini menjadi semakin tak berarti, atau pasrahkan segalanya, terus jalani saja, percayakan pasti nanti ada jalan keluarnya. Layaknya anak kecil yang belajar berjalan.

Minggu, 18 Desember 2016

Manusia, Si Pembuat "Masalah;



Semakin Maju, Semakin Kompleks Masalah Kita

Kita dilahirkan ke dunia ini membawa nasibnya sendiri, dan kita menentukan nasib diri kita sendiri. Baik buruknya kita tergantung pada pilihan pribadi, meskipun kita lahir ditengah marsyarakat atau orang-orang yg heterogen.

Seberapa pun besarnya lingkungan mempengaruhi kita, pada taraf tertentu, dg perkembangan pemikiran kita, tentu dapat menimbang dan memilah mana yg terbaik diantara sekian banyak pilihan hidup. Karena itulah, Allah tidak menghukum manusia atas apa yg dipilihnya sebelum manusia itu sampai pada taraf pemahaman yg cukup dewasa. Allah membebani hukum sesuai taraf pengetahuan kita.

Untunglah, Allah, Tuhan semesta ini maha pemaaf dan maha mengetahui sehingga beban masalah, beban hukum diberikan sesuai kapasitasnya. Itulah bedanya dg hukum yg dibuat manusia. Hukum manusia berlaku menyeluruh sejak diberlakukannya peraturan meskipun orang tersebut belum mengetahui peraturannya.

Manusia lahir, tumbuh dewasa dengan pengalaman-pengalaman yg menyertainya. Manusia itu diberi bakat untuk terus berkembang. Karena itulah manusia mendapat tugas sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi ini. Naluri manusia adalah ingin menguasai, serba ingin mengetahui, dan berambisi. Manusia adalah mahluk peradaban.

Dulu sekali, manusia turun ke dunia ini dg ala kadarnya. Semua serba simpel, sederhana, ga njlimet. Manusia tidak perlu repot memikirkan tata masyarakat, tak perlu pusing membuat aturan-aturan, tak perlu capek membuat segala sesuatu untuk kebutuhan. Sederhananya, manusia hidup seadanya.

Dengan tabiat manusia yg cenderung berambisi dan tak pernah puas dg yg ada, maka manusia terus berkembang menciptakan "masalah-masalahnya" sendiri. Makin berkembang peradaban mahluk bernama manusia, maka secara bersamaan makin kompleks juga masalah yg dihadapi. ....

Senin, 05 September 2016

Generasi Jadoel


SEKEDAR KITA-KITA TAU*
*Yang lahir angkatan
60 - 70 - 80
Sekedar anda tau.
Kita yg lahir di tahun 60-70-80an, adalah generasi yg layak disebut generasi paling beruntung.
Karena kitalah generasi yg mengalami loncatan teknologi yg begitu mengejutkan di abad ini, dg kondisi usia prima.

Kitalah generasi terakhir yg pernah menikmati riuhnya suara mesin ketik.
Sekaligus saat ini jari kita masih lincah menikmati keyboard dari laptop kita.
πŸ“ƒπŸ“„πŸ“πŸ’»πŸ’»
Kitalah generasi terakhir yg merekam lagu dari radio dg tape recorder kita.
Sekaligus kita juga menikmati mudahnya men download lagu dari gadget. πŸ”ŠπŸ“»πŸ“ΌπŸ“±
Kitalah generasi dg masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, galasin adalah permainan yg tiap hari akrab dg kita.
Sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan berbagai game di gadget .
πŸƒπŸŽˆπŸŠπŸ’ƒπŸ“±πŸ’»

Masa remaja.
Kitalah generasi terakhir yg pernah mempunyai kelompok /geng yg tanpa janji, tanpa telpon/sms tapi selalu bisa kumpul bersama menikmati malam minggu sampai pagi.
Karena kita adalah generasi yg berjanji cukup dg hati.
Kalau dulu kita harus bertemu untuk terbahak bersama.
Kini kitapun tetap bisa ber ''wkwkwkwk
πŸ˜„πŸ˜ƒπŸ˜€πŸ˜πŸ˜›πŸ˜œπŸ˜‚''
Di grup Facebook/whatsApp/line.

Kitalah generasi terakhir yg pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet dimana-mana.
Juga bersepeda motor menikmati segarnya angin jalan raya tanpa helm di kepala kita. πŸš΄ 🚡
Kitalah generasi terakhir yg pernah menikmati jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik yg membayangi kita.

Kitalah generasi terakhir yg pernah merasakan nikmatnya nonton tv dg senang hati tanpa diganggu remote untuk pindah chanel sana sini .

Kita adalah Generasi yang selalu berdebar debar menunggu hasil cuci cetak foto, seperti apa hasil jepretan kita.
Selalu menghargai dan berhati2 dalam mengambil foto dan tidak menghambur hamburkan jepretan dan dan mendelete nya jika ada hasil muka yang jelek.
Saat itu hasil dengan muka jelek kita menerimanya dengan rasa ihklas.
Ihklas dan tetap ihklas apapun tampang kita di dalam foto.
Tanpa ada editan Camera 360 photoshop atau Beauty face.
Betul2 generasi yg menerima apa adanya.

Kitalah generasi terakhir yg pernah begitu mengharapkan datangnya pak pos menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih hati.

Kita mungkin bukan generasi terbaik. Tapu kita adalah generasi yg
LIMITED EDITION.
Kita adalah generasi yg patuh & takut kpd ortu (meskipun sembunyi2 nakal & melawan) tp kita generasi yg mau mendengar & komunikatif terhadap anak cucu.
Itulah kita.... selalu bersyukur atas nikmat yg telah kita terima
Anda generasi itu?
Bagikan ini...
Biar yg belum tau menjadi tau. Biar yg pernah tau tetap ingat kalau mereka tau dan menikmati lagi indahnya masa lalu yg tidak semua generasi tau..
*Indahnya waktu itu........*

Senin, 29 Agustus 2016

Dear My Blog!

Dear my blog!

Oke, aku akan cerita lagi nih. Ceritanya soal beberapa hari lalu. Tepatnya hari Senin, 22 Agustus 2016, aku mengantarkan adik perempuanku ke Semarang. Alhamdulillah, setelah berkali-kali daftar dan ikut tes masuk PTN dan selalu gagal,tapi di tahun keempat sejak kelulusan SMA nya, dia diterima jg di salah satu PTN di ibukota provinsi Jawa Tengah. 

Perjalanan dimulai pagi hari sekitar jam 10 naik kereta. Sampai di Semarang sekitar jam 13.30, sampai kampus sekitar jam 2 siang. Oke, inti masalahnya bukan disitu. Saat rencana ke Semarang, aku coba kontak salah satu teman. Temanku ini sebenernya sudah sangat akrab karena pertemananku sangat intens saat satu tim penelitian di Pulau Alor, NTT. Hampir 3 bulan kami bersama, bahkan tidur satu atap yg sama. Jadi cukup mengenal dekat. Setelah penelitian selesai, aku tak pernah bertemu lagi. Sudah sekitar hampir 3 tahun ga ketemu lagi. Karena itulah, saat ke Semarang aku coba kontak dia utk bisa ketemuan karena kebetulan rumahnya di Semarang. 

Singkat cerita, dia bersedia ketemuan dg waktu yg sudah disesuaikan. Sebenarnya aku kangen dengan dia. Rencananya aku yg akan datang menemui dia setelah urusan dg adikku selesai. Tak disangka dia malah bersedia yg akan datang menghampiriku. Baiklah, akhirnya aku kontak tempatnya agar dia mudah mencariku. 

Anehnya, aku ngerasa deg-degan sendiri waktu mau ketemu. Grogi, ganggung dan bingung nanti harus gimana saat ketemu. Sekitar jam 15.30 akhirnya dia datang. Deg! Makin grogi. 

Dia datang dg motor dg setelan baju terusan yg panjang. Orang menyebutnya gamis. Dengan jilbab lumayan lebar, dia tampak anggun. Sekilas aku sempat terpana, atau boleh dibilang terpesona. Pangling. Kini dia berubah jd sosok wanita yg kalem, anggun, bersahaja dan mungkin rajin mengaji dan tentu rajin menabung. Hehee....

Untuk menutupi grogi, aku berusaha rileks dan becanda untuk menyapanya. Sebenarnya aku udah tau kalau dia bakalan menolak berjabat tangan, tapi aku iseng mencoba mengajak salaman sambil becanda. Benar saja, dia menolak halus ajakan berjabat tangan. 

Shit! Aku coba kuasai diriku biar ga terlihat kaku. Karena sebenarnya ku akui kalau aku naksir dia sejak lama. Tapi dulu hanya sebatas naksir, karena dulu posisiku sudah ada orang lain yg mengisi hati. Selama hampir 3 bulan waktu itu, aku jaga jarak dengannya. Bukan karena aku ga mau dekat atau gimana, itu kulakukan justru aku sangat menghormatinya, menghargainya. Aku menyadari sikapku itu berbeda saat aku berhubungan dg teman perempuan satu tim yg lain. Kalau dg yg lain aku masih bisa bersikap biasa dan cuek. Tapi dengannya, aku berusaha jaga sikap dan menghindari kontak atau hubungan yg intens. 

Entahlah. Bahkan walaupun hampir 3 bulan kami bersama dan pernah satu tim berdua saja dengan dia, aku ga berani sengaja menyentuhnya, kalau bukan kondisi darurat. Kalaupun menyentuh, hanya sekedarnya saja. Begitupun saat berjalan bersama melewati medan sulit atau terjal yg naik turun bukit, aku tak pernah berani untuk menggandengnya. Aku lebih memilih berjalan dibelakangnya atau tepat disampingnya agar kalau terjadi apa-apa, aku bisa cepat menolongnya. Pada kondisi tertentu, justru dia sendiri yg coba meraih tanganku utk digandeng atau minta bantuan untuk bantu ditarik. Ya lagi lagi aku hanya sekedarnya saja. Bahkan, utk duduk pun aku hampir ga pernah berdekatan sekali. Selalu aku buat jarak. 
Itu semua aku lakukan karena aku menghormati dan menghargainya, dan juga untuk menjaga perasaanku sendiri. 

Mungkin waktu itu aku sudah menyadari kalau aku sudah naksir. Makanya aku sengaja menjaganya. Itulah caraku pd perempuan yg kutaksir. Kebanyakan laki-laki biasanya melancarkan berbagai aksi utk bisa berdekatan atau kontak secara langsung dan intens. Tapi sikapku berbeda. Justru sebaliknya, aku berusaha membuat jarak aman, menghindari kontak langsung dan menghormatinya. Soal boncengan motor pun, sebisa mungkin aku ga dengan dia, kecuali kondisi terpaksa. Selain karena aku bisa grogi, juga lagi2 untuk "menjaga jarak aman". 

Dulu aku sempat berpikir kalau sebenarnya dia punya pesona yg tersembunyi, yg kalau bisa dimunculkan kuncinya, bakal punya daya tarik dan karakter yg memukau. Itu pikiran sok tau ku dulu. Hehehe.. tapi sepertinya itu jadi kenyataan sekarang. Saat pertemuanku kemarin dengannya. Cukup membuatku makin terpesona. Sekarang dia udah berubah. Saat bertemu dengannya kemarin, diam-diam aku tersenyum dalam hati. Aahhh... 

Allah, tapi aku malu berhadapan dengannya dengan kondisiku yg seperti ini. Sepertinya aku terlalu kotor kalau harus berhadapan dengannya. Dia telah Kau ubah jd sosok wanita yg luar biasa. Sedikit banyak, aku tau kehidupan dan peristiwa-peristiwa yg dialaminya akhir-akhir ini telah mampu mengubahnya. Dia telah menemukan kuncinya utk menjadi sosok yg patut dikagumi. Sedangkan aku, hanya biasa-biasa saja. 
Engkau Yang Maha Tau Allah. Engkau yang mampu mengubah segala hal. Engkau yg mampu membolak-balikkan hati. 

Minggu, 10 Juli 2016

Pernahkah Demikian?


Pernahkah kamu berharap pada seseorang?  Kamu berharap kebaikannya, kehadirannya, perhatiannya, kasih sayangnya? Tapi seringkah engkau dikecewakannya, menangis karenanya, disakiti olehnya? Lalu, pantaskah kamu masih berharap padanya? Ataukah dalam kecewa, dalam tangis dan dalam sakit itu Adakah kebahagiaan yang kamu dapatkan? Apakah dengan kecewamu, dia berubah menjadi baik? Apakah dengan tangismu, dia akan hadir? Ataukah dengan perasaan sakit hatimu, dia menyayangimu?
Mungkin jawabannya TIDAK

Jadi, bukankah ini saatnya untuk kamu pergi, berpaling, menjauh? Setidaknya pergilah dari rasa kecewa itu. Berpalinglah untuk tetesan airmata itu.  Menjauhlah untuk membahagiakan hatimu. Sulitkah itu bagimu?
Jika “YA”,  Pikirkanlah betapa dia tak pernah mengharapkanmu, mempedulikanmu, memikirkanmu. Tanpa kamu sadari, kamu telah hanyut dalam harapan, impian dan angan kosongmu.  Sedikit kata darinya sudah membuat kamu merasa diperhatikan. Sedikit senyum darinya sudah membuat kamu pikir dia peduli.  Sedikit kabar darinya sudah membuat kamu terlena, tak beranjak.
Ya, semua yg sedikit itu saja sudah membuat kamu bahagia. Yang sedikit bahkan semu, sudah membuat kamu bertahan.
Untuk apa? Untuk sesuatu yang KOSONG, tak pernah dia pikirkan, bkn apa-apa untuknya, DIA TIDAK TAHU, TAK AKAN PEDULI. Dan esok, lusa, nanti ataupun detik yang akan datang kamu akan kecewa, menagis dan sakit hati lagi. Tidakkah semua itu CUKUP?

Saatnya kamu melangkah. Mendaki di terjal kehidupan dan mengalir bagai sungai. Jangan bertahan untuk harapan yg tak pernah ada. Jangan menunggu hembus angin yang lalu
Jangan sampai kamu terbangun dalam keadaan remuk. Selagi kamu bisa berdiri, selagi airmatamu belum habis, selagi hatimu belum bernana, biarlah sakitnya terasa hari ini.
Esok luka itu akan mengering. Biarlah dia menjadi bagian kenanganmu, tapi dia tak lagi menghancurkanmu. Bahkan ketika kamu pergi, dia tak akan menangisimu. Mungkin dia tak menyadarinya karena kamu bukan yang diharapkannya. Kamu bukan yang dipirkannya. Kamu bukanlah apa-apa baginya.

Jangan pernah menoleh lagi untuknya. Jika hari ini kamu sadar siapa dia, besok, tahun depan, sepuluh tahun lagi
dia akan menjadi orang yang sama yang tak pernah mempedulikanmu. Yang hanya memberimu sedikit kata, sedikit senyum. Yang akan menumpahkan air matamu, Menggoreskan rasa kecewa, dan mengguratkan luka dihatimu.

Maka PERGILAH , PERGILAH..!
Biarkan hari ini adalah akhir kecewa kamu. Biarkanlah airmata itu menetes sederasnya. Dan biarlah rasa sakit itu menghunjam dalam, tapi itu yang TERAKHIR untuknya. Itu yang TERAKHIR.

Ingat!  Tuhan tidak menciptakan satu orang didunia ini. Bukalah hatimu. Diluar sana masih banyak yang membutuhkanmu. Cukuplah dirimu untuk mereka yang siap menerima cintamu Yang lebih menghargai cintamu.

Senin, 25 April 2016

Harus Bagaimana?



Katamu jadi cowok musti rajin kerja demi masa depan, tapi begitu aku giat berkerja sampai malam minggu lembur kamu malah ngambek 3 bulan?!

Katamu jadi cowok harus pinter ngasih kejutan, tapi waktu taun baru kemaren aku diam-diam ngeledakin mercon di kamarmu kenapa kamu maki-maki aku?!

Katamu cowok itu sekali-kali harus ngasih kembang pada pacarnya, tapi kenapa kemarin kamu malah ngajak berantem waktu aku beliin kamu kembang api?!

Katamu jadi cowok itu harus bisa memberi yang lebih baik, tapi pernah waktu kamu kepedesan makan bakso, trus minta akua gelas, aku beliin akua galon kenapa kamu justru tampar-tampar akuh?! Ha!

Katamu jadi cowok itu harus perhatian, tapi kenapa tadi waktu aku merhatiin tete ibu-ibu yang lagi nyapu halaman kamu malah ngajak putus?! Doh!

Katamu jadi cowok itu harus percaya diri, tapi kenapa saat aku benar-benar percaya diri bahwa diriku ini ganteng kamu malah muntah-muntah?! Kamu hamil? Anak siapa itu?

Katamu jadi cowok juga harus mau menyayangi keluarga pacar, giliran aku menyayangi sepupumu yang seksi itu kenapa kamu ga terima?!

Katamu jadi cowok itu harus pemberani. Kurang berani apa coba?! Dari SD aku udah berani melawan guru?! Suruh berantem sama preman aku juga berani yang penting badannya lebih kecil dari aku? Tapi kenapa kamu malah menuduhku sarap?!

Aku harus gimana?

Minggu, 31 Januari 2016

Untuk Kamu yang Sempat Hadir


Untuk kamu, Yang sempat hadir.

Apa kabar? Sudah lama kita tak jumpa. Jangankan berjumpa, saling sapa pun sudah tidak. Aku maklumi itu semua. Aku menghargai kehidupanmu, dan kau? entahlah masih peduli dengan hidupku atau tidak.

Mungkin kamu akan bertanya, kenapa aku menulis ini semua? Jika kau mengira, karena aku ingin mencuri perhatianmu tentu tidak. Untuk apa. Lalu jika kau mengira, aku ingin mendramatisir keadaan itupun tidak. Sama sekali tidak.
Aku menulis semua ini hanya karena rindu. Tak pernahkah kau merasakannya juga? Aku harap kau sempat merindukanku walau hanya semalam. Setidaknya kau mengingat bagaimana aku tertawa lalu menangis. Setidaknya kau mengingat bagaimana susahnya berusaha dan mudahnya menyerah.

Cinta kita hanyalah cinta monyet. Cinta yang tumbuh dibawah atap kampus. Cinta yang terus tumbuh hanya karena memandang dari jauh. Cinta yang terus tumbuh ketika kita bertukar sapa dan senyum. Cinta yang terus tumbuh karena pipiku merona setiap kali mendengar namamu. Manis. Aku masih bisa merasakannya walaupun hanya sedikit mengingatnya.

Aku masih ingat betapa lucunya saat pertama kali aku melihatmu. Kita terlihat canggung. Lalu saling tersenyum sesudahnya. Aku masih ingat saat kau dg lugunya memujiku hingga aku hilang kesadaran sejenak karena belum pernah dipuji wanita seperti ini. Sampai aku lupa harus melanjutkan pembicaraan apa. Hilang konsentrasiku.

Aku juga masih ingat betapa indahnya hujan kala itu. Hujan yg menahanku untuk tetap berada di sebelahmu, di depan kosanmu. Serasa rinai turun tersenyum menggodaku yg malu dan grogi kala itu.
Aku juga masih ingat soal hujan. Aku terus melajukan motor dengan cepat agar kau tidak lama terkena hujan dan kedinginan. Kau hanya bisa bersembunyi sambil mengeratkan pelukan dibalik punggungku. Kau tidak tahu, seberapa banyak aku tersenyum saat itu..

Aku tidak peduli, apakah aku cinta pertamamu atau bukan. Aku menyimpan memori dalam hidupmu atau tidak. Yang aku tahu aku merasakannya. Cukup aku.
Tapi ketahuilah, kau kekasih pertamaku. Kau membuatku mengenal banyak hal untuk pertama kalinya. Kau membuat aku belajar untuk pertama kalinya.
Kau orang pertama yang membuatku merasa berharga dan merasa dihargai. Kau membuat aku merasa bahwa kau adalah seseorang yang patut diperjuangkan. Bukan orang yang selalu menunggu, menanti bahkan meminta.

Untuk kamu, yang sempat hadir.

Maaf aku sempat membuatmu muak. Dengan sikapku yang kekanak-kanakan. Yang sering mengeluh, yang sering berdrama dengan segala masalah. Kau selalu mengingatkanku. Dan lagi, aku terlambat menyadarinya. Aku tau aku salah, tapi siapa yang peduli saat itu. Yang aku tau hanya, cinta itu menyakitkan ketika kamu pergi. Itu saja. Bodoh? Iya. Sangat bodoh. Kadang aku pun hanya tertawa bila mengingatnya. Perjalanan kita amat sangat lucu ternyata.

Aku ingat, kita memulai dengan cara yang salah. Entah aku, atau kamu. Tapi aku tak ingin menyalahkan siapapun, karena untuk masalah perasaan semua orang akan merasa benar. Meskipun penuh kebohongan dan ketidakpedulian. Cukup aku saja yang tau maksud semuanya.

Perjalanan memang kadang membuat aku terbang lalu jatuh. Dan terimakasih, kamu telah menjadi perjalananku. Hidup kadang terasa manis seperti gulali yang aku beli di taman kota/alun2, tapi ada masanya terasa pahit sama seperti aku yg tidak sengaja menyesap ampas kopi. Dan kamu telah menjadi keduanya di saat yang bersamaan. Sekali lagi, terimakasih. Untuk pernah hadir lalu pergi. Dan untuk sempat memulai lalu mengakhiri.

Untuk kamu, yang sempat hadir.

Aku tadi bilang bahwa aku merindukanmu, tapi setelah aku menulis ini semua aku tak lagi merasakannya. Aku sedang tersenyum, percayalah. Aku bahagia. Tak perlu aku yang merindukanmu lagi. Tugasku sudah cukup. Tugasku kini pergi lalu menghilang. Untuk tak saling mengenal akan lebih baik, mungkin? Hahaha aku hanya bercanda. Aku tidak kekanak kanakan lagi. Aku hanya berharap aku dan kamu baik baik saja. Kita bahagia bersama, di jalan yang berbeda.
Dan harapan terakhirku adalah suatu saat aku dapat bertemu kamu, dengan senyuman. Tak ada lagi kecanggungan. Lalu berbincang. Dan aku akan mengenalkan seseorang padamu. Dan sebaliknya.
Iya, seseorang yang aku kenalkan adalah orang yang membuat aku tersenyum setelah kamu membuat aku menangis. Semoga saja nanti aku menemukannya. Dan kamu, mengenalkan seseorang yang kamu ajak tersenyum ketika aku sedang menangis.

Untuk kamu. Yang sempat hadir.
Aku merasa cukup. Dan aku mencoba pergi.

~wibiono~
31 Januari 2016
22:08 wib

Selasa, 19 Januari 2016

Jejak Masa Lalu di Mana-Mana

Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Tapi tetap saja sepertinya sulit bagiku untuk melupakan begitu saja. Masih saja menyisakan ruang luka di hatiku. Masih teringat bagaimana sulitnya aku berusaha segala macam. Mulai dari berusaha memahami, berusaha mengerti, berusaha sabar, berusaha menuruti, berusaha untuk memperbaiki masa depan, berusaha mengumpulkan rejeki untuk nikah dsb.. Boleh dibilang di sini saya mencoba mengungkit-ungkit.

Terlalu sulit melupakan. Terlalu banyak jejak yang ditinggalkan disini. Tiap sisi dan sudut kota ada jejak masa lalu. Tiap yang saya pakai, mulai dari baju, sepatu, celana, jaket, handphone, ada jejak masa lalu yang menempel di sana. Belum lagi, tiap ku susuri jalan-jalan di kota ini, ada jejak dan bayang masa lalu yang tertinggal di sana. Bahkan saat aku merebahkan tubuhku di kosan, di sana juga ada jejak masa lalu. Motor yang tiap hari ku tumpaki pun ada bekas-bekas masa lalu. Terus, harus lari kemana diriku agar terlepas dari bayang masa lalu??

Satu-persatu bekas-bekas masa lalu sudah aku singkirkan. Mulai dari foto, bahkan sampai pakaian, hp pun mulai tak ku pakai lagi. Sebab hanya sakit tiap ku mengingatnya. Sakit!! Tapi aku sadar, mungkin ga mungkin bisa semuanya aku buang. Kalaupun harus aku buang, tetap saja aku tak bisa berlari menghindar dari bayang masa lalu. Selama aku masih di kota ini, selama aku masih menaiki motor yang sama, selama masih memakai baju yg sama, selama itu pula aku tak bisa benar-benar pergi jauh dari masa lalu. Masih berkutat tak jauh dari pusaran masa lalu.

Kurang ajar!! Masa lalu ternyata bukan ada jauh di belakang, tapi terus mengikutiku.


Kamis, 31 Desember 2015

Nih aku tulis sesuatu lagi...

Apa kamu?? Lagi nunggu cerita selanjutnya?? Mau tau curhat apa lagi yang bakal aku tulis di sini?? Kepoo???!
Sory akhir-akhir ini aku malas menulis curhatan di sini.

Nih aku tulis sesuatu lagi...

Intinya aku udah bubar bar!! dengan si R. The End! Dia mau njengking kek, mau nyungsep kek, mau sekarat kek, mau seneng kek, mau bahagia kek, mau susah kek, mau punya cowo lagi kek, mau lamaran kek, mau galau kek, bodooo amaattt!

Dia yang ga pernah menghargai usaha laki-laki yg sedang berjuang untuk menghalalkannya, sedang berjuang untuk memenuhi janjinya, sedang ikhtiar untuk kebaikan masa depannya, sedang berupaya mensucikan hubungannya, suatu saat dia pun akan paham tentang sesuatu yang tak ada harganya. Mungkin, jika Tuhan berkenan, aku akan menyaksikan saat dia dalam kondisi tak ada harganya lagi.

Sampai tgl 15 Desember kemarin, saat papahku menghadiri wisuda adikku, masih saja menanyakan hubunganku. Seolah tak yakin kalau hubunganku bubar. Seolah antara masih berharap dan kecewa. lalu aku tegaskan, tidak! Tidak perlu datang ke rumahnya kalau hanya membuat muka malu.

Usiaku kini sudah lewat dari 30th. Dan kini kembali sendiri. Dan belum ada minat untuk menjalin hubungan lagi dengan perempuan. Kalaupun ada, hanya ingin untuk senang-senang. Ga lebih. Nanti dulu kalau untuk serius. Kecuali perempuannya yang datang memintaku dan mau menerima segalanya tentangku yg brengsek, yang kere, yang ga jelas masa depannya, yang jelek, kuper.

Entah sejak kapan pikiranku menjadi liar, tingkahku menjadi masa bodo, menjadi nakal, menjadi seolah bukan aku. Aku menjadi orang yang tak percaya lagi dengan perempuan yang sok suci soal hubungan. Sok romantis, sok idealis, sok toleran.

"ya Tuhan, pertemukanlah aku dengan orang yang terbaik menurut pilihan-Mu" 
Fuck dg kata-kata itu!! tebaik menurut nafsu dan keinginanmu mungkin maksudnya. Setelah kau melihat ada kerugian dimasa depan, maka kau akan berupaya mencari yang lain. Mencari yang "terbaik", menurut pikiranmu sendiri tentunya. Bukan berupaya membangun kebaikan bersama. Bukan berupaya membangun visi bersama untuk lebih baik. Lihat saja, kau tak akan dapatkan itu! Saat itu kau akan sadar, yang terbaik itu telah berlalu. Mungkin dia ada di belakangmu, atau mungkin sudah jauh melesat di depanmu yang sudah tak mungkin lagi untuk kamu kembali, atau mengejarnya. Cinta, jodoh, diukur dengan kalkulasi ekonomi. Dihitung tentang untung rugi.

Apa?? kau bilang aku terlalu kejam menghakimi? terlalu berburuk sangka? Iya! Aku menjadi orang yang memandang sinis tentang itu.

Rabu, 25 November 2015

Tidakkah Kau Pikirkan??

Kemarin, entah kenapa kamu tiba-tiba cerita tentang laki-laki barumu? tidakkah kau pikirkan perasaanku yg masih sakit dan hancur? Belum bisa aku bangkit dari keterpurukan akibat ulahmu, tapi kau malah bercerita soal seseorang yg membuatmu nyaman. Kau bilang bahwa dia mampu membuatmu nyaman dan kau berniat untuk komitmen dengannya.

Tidakkah kau memikirkan perasaanku yg hancur berantakan akibat komitmenmu yg kau campakkan begitu saja? Sempat aku tak kuat membalas sms mu. Kalau bukan karena perasaan sayangku, aku tak akan peduli lagi dengan semua tentangmu dan segala urusanmu. Aku coba kuatkan. Barulah aku beranikan diri membalas sms mu.

Dengan entengnya kau katakan "aku pun sudah bisa move on dan mencoba membuka hati untuk orang lain".  Kau pikir hati kita sama? Tidak!! Hatiku tak semudah itu. Ketika hatiku ku putuskan berlabuh padamu pun butuh pemikiran dan pemantapan yang panjang. Karena aku yakinkan bahwa pilihan ini adalah serius, yg pertama dan terakhir. Jadi sungguh sangat sangat sulit untuk ku kembalikan hatiku seperti semula.  Mungkin  waktu beberapa bulan pun ga cukup. Terbukti, telah 8 bulan berlalu, hatiku tetap seperti ini. Tetap terpuruk. Tak ada yg tau seberapa terpuruknya aku.

Minggu lalu, sempat aku pulang ke rumah. Yang membuatku tak enak adalah saat papah menanyakan hubunganku denganmu. Bahkan papah berniat menemui orang tuamu bulan Desember nanti. Saat adikku wisuda, rencananya akan sekalian mampir ke rumahmu. Papah juga sudah ribut soal penyiapan mas kawin. . Bingung harus ku jelaskan apa dan dari mana. Biar sajalah. . Takut papah kecewa karena anak tertuanya kembali tak jelas kapan nikah. Itu artinya juga, semakin lama pula papah bisa menimang cucu.

Tak kau pikirkan itu semua kah?

Aku hanya menyarankan bahwa jika kau serius dan merasa nyaman, silahkan lanjutkan. Pesanku padamu hanya jangan kau ingkari janji dan komitmenmu lagi. Jangan sekali-kali kau coba-coba lg soal perasaan. Ketika kau mengulanginya lagi dengan laki-laki barumu, itu sama saja kau melukaiku untuk yg kedua kalinya. Semoga kau bahagia dg laki-laki barumu. Aku hanya menunggu kabar baikmu.

Jumat, 13 November 2015

Seandainya Tak Sendiri

Sering ku termenung sendirian. Saat aku sibuk mengurus sendiri, mengurus dan mebereskan kamar sendiri, aku berpikir betapa kasiannya aku mengerjakan semua ini sendirian. Bahkan saat kondisi sakit seperti ini, aku lebih merasa nelangsa. Aku harus merawat diriku sendiri yg kepayahan, ditambah harus melakukan ini itu sensiri.

Sering aku menjerit kesakitan sendiri saat aku merawat sakitku. Aahh... andai ada orang yg bisa membantu merawatku, tentu tak perlu kepayahan seperti ini.  

Untuk mandi pun kesulitan, apalagi harus beraktivitas seperti mencuci, ngepel, nyapu, sampai merawat luka sendiri. Mungkin nasibku saat ini memang masih harus belajar sendiri dulu.

Seandainya ada seseorang yg bisa menemani dan merawatku...

Minggu, 01 November 2015

Surat Tertutup Untukmu

Dear you..

Tulisan ini aku persembahkan untukmu. Sebagai surat tertutup yg tak pernah aku kirimkan padamu. Semoga ada takdir yg membawamu sampai kau membaca ini.

Dulu, aku tak pernah memintamu berjanji. Tapi kau ucapkan sendiri janji, bahwa kau akan selalu ada untukku disaat senang maupun susah. Saat ku suruh kau pergi mencari yg lain yg lebih mapan dan bisa memberi kebahagiaan, kau malah berkata aku sudah lebih dari cukup memberimu bahagia. Kau pun jg katakan, bahwa akan terus mendukungku, akan terus ada disisiku dalam kondisi apapun. Bahkan kau berjanji akan terus menungguku sampai aku siap.

Di hari yg lain, kau ucapkan pula bahwa kau akan terus mencintaiku, menyayangiku. Kau pun berjanji bahwa aku orang terakhir yg akan mengisi hidupmu. Kau yg akan menjadikanku imammu. Kau memberiku angin segar, harapan dan semangat agar aku terus memperbaiki diri sampai siap menjadi imammu.

Kalau kau lupa, sajadahmu yg menjadi saksi. Al Qur'an yg masih kau pegang pun mendengar perkataanmu. Bahkan mukena yg masih kau kenakan saat itu menjadi mata dan saksi atas semua ucapanmu. Setelah itu kau cium tanganku, lalu kau ucapkan "kita berusaha bareng-bareng ya mas".

Dulu, aku yg berjanji bahwa kau adalah wanita pertama dan terakhir. Aku pernah berjanji bahwa kau yg nanti akan aku nikahi. Aku tak mau ada wanita lain selain dirimu. Karena jauh sebelum mengenalmu, aku sudah meyakinkan diriku sendiri, bahwa kelak saat aku memutuskan ada wanita yg singgah dan mengisi hatiku, maka dialah orang yg akan aku jadikan istri.

Tapi entahlah, mendadak kau campakkan semua ucapanmu sendiri. Mendadak kau berpaling arah dan membiarkanku sendiri berjalan. Hanya dengan alasan sudah tak ada lagi perasaan seperti dulu. Sampai saat ini masih tidak ku mengerti alasanmu. Sedangkal itukah penghalang yg mampu menghentikan langkahmu? Bukan seperti kamu yg aku kenal, yg keras kepala, ngeyel, dan ga peduli dg apapun yg ada di depan.

Semudah itukah kau berpaling setelah sekian lama kebersamaan kita, setelah sekian banyak kisah yg kita lalui? kata itu pula yg sering kau ucapkan. "ga mungkin aku berhenti, ga mungkin aku menyerah gitu aja setelah sekian lama dan sejauh ini denganmu, mas".

Dulu, kau katakan bahwa benih yg ku tanam dalam hatimu terus tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Sampai kau katakan, bahwa kau tak sanggup membiarkannya begitu saja.  Mau coba buka kisah dan percakapan kita dulu? Sepertinya pernah aku tulis d blog, silahkan baca kalau diperlukan. Hanya untuk menyegarkan ingatan. Bahkan sebagian pernah kamu sendiri yg menuliskannya di blog ku. Kau tuliskan sendiri janji-janjimu di blog ku. Kalau tidak percaya, sempatkanlah waktu, bukalah sendiri.

Aku tak paham dengan alasanmu pergi. Apakah aku kau anggap tak layak, karena belum cukup mapan mencukupi kehidupanmu? Belum cukup mampu memberikanmu bahagia setelah kini kau telah mengenal penghasilan dan kehidupanmu?

Kalau soal itu, aku memang tak bisa janji karena rejeki Tuhan yg mengatur. Kemampuanku hanya bertanggung jawab menafkahimu kelak dg segala kemampuanku, dg terus berikhtiar. Tidakkah kau melihat kebahagiaan dan kemapanan dari sisi lain, seperti saat kau belum mengenal penghasilan dulu? Ahh... terlalu jauh aku menghakimimu. Tentu, sebagai perempuan, biasanya kau lebih tau soal terminologi kebahagiaan.

Aku masih menyayangkan keputusanmu. Semoga dengan ini kau kembali insaf dengan ucapan-ucapanmu dulu. Semoga kau cepat kembali dan tak berlarut-larut terombang-ambing di luar sana mengikuti keinginanmu yg ingin bebas menikmati kehidupan dan dunia barumu. Karena aku masih paham bahwa sebenarnya kau masih rapuh. Tak cukup mampu kau menutupi kerapuhanmu yg mencoba berperang dg hatimu sendiri. Berdamailah dengan jiwa terdalammu, berdamailah dg hati sanubarimu. Karena ia yg paling paham dengan kebutuhan dan maumu yg sebenarnya, tapi kau coba tentang sendiri mati-matian.

Aku tunggu kabar baikmu di sini.

~wibiono~


Selasa, 27 Oktober 2015

Selesai Sampai Disini

Dan kita akhirnya selesai sampai di sini. Hanya segitu kemampuanmu bertahan, tak setangguh ucapanmu dulu. Seolah amnesia terhadap ucapanmu sendiri yg selalu kau ulang-ulang perkataannya.

Dengan sangat menyesal dan berat hati aku melepasmu meski inginku menyelamatkanmu dari tajamnya ucapan yg kau hunus untuk dirimu sendiri. Berkali-kali aku coba menyadarkanmu, tapi sepertinya kau telah memilih jalanmu dengan segala resikonya.

Semoga ini adalah keputusan sadarmu agar tak ada penyesalan dikemudian hari. Karena penyesalan selalu datang terlambat serta jauh lebih menyakitkan.

rekaman percakapan













Selasa, 13 Oktober 2015

KITA ITU SEMPURNA!!





Entah kenapa tiba-tiba terlitas begitu saja pikiran tentang kesempurnaan manusia. Saat mengendarai motor waktu pulang kantor, seketika muncul pikiran bahwa kita adalah sempurna.


Teringat beberapa dalil di Al-Qur'an yg dalam terjemahan bebasnya begini,
"seandainya AKU mau, maka AKU ciptakan saja kalian satu. tapi Aku ciptakan kalian dlm bentuk yg sempurna, berbangsa-bangsa, bersuku-suku agar kalian saling mengenal dan mendapat pelajaran dari penciptaan. itu semua sebagai tanda ke-Maha Kuasaan-Ku."


Sebenarnya pendapat ini sudah sering diucapkan pada khotbah-khotbah di masjid, di sekolah, di acara pengajian, atau acara keagamaan lainnya. Tetapi, saat menemukan sendiri pemahaman itu, entahlah, rasanya berbeda.

Sempurna dan Tidak, Kita Sendiri yg Membuat

Sering kita sebagai manusia merasa kurang, tak sempurna, terlahir cacat, kehidupannya sulit terus, dan rasa kurang lainnya. Kalau kita mau sedikit merenung, yg menciptakan ketidaksempurnaan, ketidakberdayaan, kekurangan, cacat, berbeda dengan yg lain, itu adalah kita sendiri. Jelas-jelas Allah menciptakan manusia dalam bentuk yg paling sempurna. Kitalah yg merasa rendah diri, mengeluh dan tidak bersyukur. Kita yg memperbandingkan diri kita sendiri dengan orang lain dengan ukuran-ukuran yg kita buat sendiri. Padahal memperbandingkan kita dengan yang lain itu tak perlu. Sebab kita diciptakan berbeda dengan yang lain. Karena memang Allah menciptakan berbeda satu dengan yg lainnya, jd untuk apa dibandingkan?

Itulah yg membuat kita menjadi kerdil dg mengkotak-kotakan diri kita sendiri, menjadi sempit. Kita membandingkan fisik kita yg hitam tidak rupawan dengan orang lain yg lebih putih dan rupawan. Kita membandingkan diri kita yg cacat hanya punya satu lengan dengan orang lain yg berlengan lengkap. Kita membandingkan tubuh kita yg pendek dibanding yang lain. Lebih parahnya lagi sampai kita membandingkan kehidupan kita yang tak seberuntung orang lain. Siapa yg menyuruh kita membanding-bandingkan hal semacam itu?? Kita itu berbeda. Bahkan yg kembar identik pun tidak sama persis. Allah pun tidak melihat fisik kita, tidak menilai kesusahan atau kesenangan hidup kita di dunia. Yang dinilai Allah adalah iman kita. Seberapa percaya kita pada Allah yg menciptakan kita sebagai mahluk sempurna? Seberapa percaya kita pada Allah hingga kita terus bersyukur? Mungkin itulah mengapa, ajaran agama apapun, bahkan dalam tradisi norma sosial, bersyukur itu dianjurkan. Tak lain adalah agar kita bisa memaknai kesempurnaan yg kita miliki tanpa harus silau dengan "kesempurnaan" orang lain, dan juga agar kita tak sombong. Kita diciptakan berbeda dan sesuai dengan kegunaannya.

 "Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya", itulah nasihat kitab suci terhadap orang yg sedang merasa sempit. Allah pun tak pernah memerintahkan diluar batas kita. Mari ambil contoh, perintah solat adalah wajib dengan cara berdiri, ruku, sujud sesuai rukunnya. Tetapi Allah tidak mewajibkan orang untuk solat berdiri jika memang tidak mampu berdiri. Orang yg diciptakan berbeda, tidak memiliki tangan misalnya, tentu akan kesulitan untuk melakukan gerakan ruku. Maka gerakan-gerakan baku, seperti ruku dalam solat pun menjadi tidak berlaku. Orang yang diberikan kelebihan harta dianjurkan untuk berkurban seekor kambing, sapi dsb. Tapi bagi yang belum mampu, Allah hanya memerintahkan sedekah dengan kemampuan masing-masing. Artinya, masing-masing kita ini memang berbeda dan tak bisa dipersamakan antara satu dengan lainnya.

Dalam pandangan Allah, kita semua ini sama. Dan itu artinya kita ga perlu risau dengan "perbedaan".  "lakum diinukum waliyadin". Dalam terjemahan fleksibel juga mungkin bisa diartikan "yang Allah berikan padaku, inilah aku dan yang Allah berikan padamu, itulah kamu. tak perlu kita sama-samakan, tak perlu kita beda-bedakan. Kita jalani kehidupan sesuai porsi, fungsi dan peran kita masing-masing".

Layaknya anggota tubuh kita yg masing-masing sudah pada porsinya dan sesuai dg tugas fungsinya. Jempol tak perlu merasa iri karena "kecacatannya" dibanding jari telunjuk yg ukurannya lebih proporsional dan lebih panjang. Kaki tak perlu merasa kecewa dan rendah diri karena posisinya dibawah dan harus selalu jadi yg terdepan saat menginjak sesuatu yg kotor. Tak perlu menganggap tak adil dibandingkan dengan tangan yg kedudukannya lebih "terhormat", berada di atas, memakai perhiasan dan menjadi perantara orang bersedekah memberikan sesuatu untuk orang lain. Dubur tak perlu iri dan protes karena hanya menjadi tempat buangan hal-hal kotor dan najis, ketimbang mulut yg selalu kebagian menerima asupan yg enak-enak dan baik-baik. Kalau seandainya anggota tubuh ini berpikir seperti kita yg cenderung tak bersyukur, tentu mereka pun akan berpikir dan berkata bahwa Tuhan tak adil dalam menciptakan.


Kita Satu dalam Ikatan Semesta

Sadarlah wahai mahluk sempurna, secara hakekat, kita ini satu dalam ikatan semesta. Tugas kita adalah bersyukur dan menjalankan peran kita masing-masing layaknya anggota tubuh yg saling melengkapi, saling bantu dan ikhlas menjalankan amanahnya. "cacat" dan tidak cacat, susah senang, beruntung tidak beruntung, kaya miskin, pintar bodoh, jelek rupawan, semua Allah amanahkan pada kita bukan untuk dibedakan, bukan untuk diperdebatkan, bukan untuk jadi bahan saling iri, tapi untuk kita laksanakan perintah Allah sesuai peran dan kapasitas masing-masing. Allah pasti melebihkan hal lain atas kekurangan kita dan tentu mengurangi sesuatu atas kelebihan kita. Semua diciptakan seimbang dengan teliti dan sempurna. Tak ada yg dirugikan sedikitpun atas penciptaan diri kita. Karena kita berasal dari ketiadaan, maka adanya kita di dunia ini adalah karena kemurahan Allah. Diciptakannya kita ke dunia adalah sudah menjadi sesuatu yang luar biasa dan patut kita berterima kasih. Maha Sempurna Allah atas segala sesuatu.





--Renungan malam tahun baru 1437 Hijriah--
13/10/2015








Minggu, 04 Oktober 2015

Cuma Kamu yang Tau




Cuma kamu yg tau bagaimana air mata ini menetes dan jatuh. Cuma kamu yg tau kapan air mata ini terjatuh. Hanya dihadapanmu aku tak malu menumpahkan kesedihan atas beban masalah dan keluh kesah. Tak ada orang lain yang tau kapan aku bersedih, kapan aku menangis, kecuali saat ku kecil. Setelahnya, tak pernah seorangpun tau kecuali kamu.

Iya, hanya kamu yg tau betul bagaimana sosok rapuhku. Bukan pada teman-temanku, sahabatku, adik-adikku, bahkan orang tua ku pun tak pernah tau kapan dan bagaimana air mata ini tumpah.

Kamu bisa lihat, dan tanya pada orang-orang, saat menyaksikan jenazah ibu ku pun, tak ku tumpahkan kesedihan dan air mataku.. Orang menganggap aku tegar. Orang menganggap aku sabar dan tabah. Tapi, mungkin kau paham sisi tersembunyiku.

Saat orang lain bilang aku tabah, tentu kamu tau kalau sebenarnya aku gundah. Saat orang lain melihatku tegar, kamu paham kalau sebenarnya aku sedih dan cengeng. Saat orang lain menganggapku kuat, kau tau kalau sebenarnya saat itu aku rapuh. Saat orang lain menilai aku mandiri, kamu tau sisi manjaku.

Iya, cuma kamu yang paham itu. Dan hanya padamu aku tunjukkan sisi lainku. Bukan pada orang lain, bahkan orang tuaku pun tidak. Itu karena aku percaya padamu. Itu karena aku ingin berbagi denganmu. Agar kamu tau semua tentangku, bukan dari luar, tapi dari bagian terdalam jiwaku. Aku mempercayakan padamu, agar kita bisa berbagi kekurangan kita dan menerima serta melengkapinya masing-masing.

Cuma kamu yang aku mau. Bukan yang lain. Bagaimanapun kamu, aku hanya inginkan kamu.

Senin, 28 September 2015

Hanya Ingin Tuntaskan

Saya tau kamu enggan bertemu denganku. Saya tau kamu udah punya tempat yg lebih nyaman.  Saya hanya ingin menuntaskan semua urusan diantara kita secara langsung. Seperti yg kau minta pada saya saat ingin memulai semuanya ini. Kamu meminta saya untuk ngomong secara langsug dan gentle dalam mengutarakan maksudnya. Begitupun saat ini. Saya hanya ingin tatap muka denganmu dan bicara secara serius, biar semuanya jelas.

Kalau sekarang, saya masih menanggung beban dan janji serta komitmen sama kamu. Saya harus tegaskan semuanya bagaimana maunya nanti untuk kedepannya. Semua terserahmu