Halaman

Tampilkan postingan dengan label mozaik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mozaik. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Agustus 2016

Dear My Blog!

Dear my blog!

Oke, aku akan cerita lagi nih. Ceritanya soal beberapa hari lalu. Tepatnya hari Senin, 22 Agustus 2016, aku mengantarkan adik perempuanku ke Semarang. Alhamdulillah, setelah berkali-kali daftar dan ikut tes masuk PTN dan selalu gagal,tapi di tahun keempat sejak kelulusan SMA nya, dia diterima jg di salah satu PTN di ibukota provinsi Jawa Tengah. 

Perjalanan dimulai pagi hari sekitar jam 10 naik kereta. Sampai di Semarang sekitar jam 13.30, sampai kampus sekitar jam 2 siang. Oke, inti masalahnya bukan disitu. Saat rencana ke Semarang, aku coba kontak salah satu teman. Temanku ini sebenernya sudah sangat akrab karena pertemananku sangat intens saat satu tim penelitian di Pulau Alor, NTT. Hampir 3 bulan kami bersama, bahkan tidur satu atap yg sama. Jadi cukup mengenal dekat. Setelah penelitian selesai, aku tak pernah bertemu lagi. Sudah sekitar hampir 3 tahun ga ketemu lagi. Karena itulah, saat ke Semarang aku coba kontak dia utk bisa ketemuan karena kebetulan rumahnya di Semarang. 

Singkat cerita, dia bersedia ketemuan dg waktu yg sudah disesuaikan. Sebenarnya aku kangen dengan dia. Rencananya aku yg akan datang menemui dia setelah urusan dg adikku selesai. Tak disangka dia malah bersedia yg akan datang menghampiriku. Baiklah, akhirnya aku kontak tempatnya agar dia mudah mencariku. 

Anehnya, aku ngerasa deg-degan sendiri waktu mau ketemu. Grogi, ganggung dan bingung nanti harus gimana saat ketemu. Sekitar jam 15.30 akhirnya dia datang. Deg! Makin grogi. 

Dia datang dg motor dg setelan baju terusan yg panjang. Orang menyebutnya gamis. Dengan jilbab lumayan lebar, dia tampak anggun. Sekilas aku sempat terpana, atau boleh dibilang terpesona. Pangling. Kini dia berubah jd sosok wanita yg kalem, anggun, bersahaja dan mungkin rajin mengaji dan tentu rajin menabung. Hehee....

Untuk menutupi grogi, aku berusaha rileks dan becanda untuk menyapanya. Sebenarnya aku udah tau kalau dia bakalan menolak berjabat tangan, tapi aku iseng mencoba mengajak salaman sambil becanda. Benar saja, dia menolak halus ajakan berjabat tangan. 

Shit! Aku coba kuasai diriku biar ga terlihat kaku. Karena sebenarnya ku akui kalau aku naksir dia sejak lama. Tapi dulu hanya sebatas naksir, karena dulu posisiku sudah ada orang lain yg mengisi hati. Selama hampir 3 bulan waktu itu, aku jaga jarak dengannya. Bukan karena aku ga mau dekat atau gimana, itu kulakukan justru aku sangat menghormatinya, menghargainya. Aku menyadari sikapku itu berbeda saat aku berhubungan dg teman perempuan satu tim yg lain. Kalau dg yg lain aku masih bisa bersikap biasa dan cuek. Tapi dengannya, aku berusaha jaga sikap dan menghindari kontak atau hubungan yg intens. 

Entahlah. Bahkan walaupun hampir 3 bulan kami bersama dan pernah satu tim berdua saja dengan dia, aku ga berani sengaja menyentuhnya, kalau bukan kondisi darurat. Kalaupun menyentuh, hanya sekedarnya saja. Begitupun saat berjalan bersama melewati medan sulit atau terjal yg naik turun bukit, aku tak pernah berani untuk menggandengnya. Aku lebih memilih berjalan dibelakangnya atau tepat disampingnya agar kalau terjadi apa-apa, aku bisa cepat menolongnya. Pada kondisi tertentu, justru dia sendiri yg coba meraih tanganku utk digandeng atau minta bantuan untuk bantu ditarik. Ya lagi lagi aku hanya sekedarnya saja. Bahkan, utk duduk pun aku hampir ga pernah berdekatan sekali. Selalu aku buat jarak. 
Itu semua aku lakukan karena aku menghormati dan menghargainya, dan juga untuk menjaga perasaanku sendiri. 

Mungkin waktu itu aku sudah menyadari kalau aku sudah naksir. Makanya aku sengaja menjaganya. Itulah caraku pd perempuan yg kutaksir. Kebanyakan laki-laki biasanya melancarkan berbagai aksi utk bisa berdekatan atau kontak secara langsung dan intens. Tapi sikapku berbeda. Justru sebaliknya, aku berusaha membuat jarak aman, menghindari kontak langsung dan menghormatinya. Soal boncengan motor pun, sebisa mungkin aku ga dengan dia, kecuali kondisi terpaksa. Selain karena aku bisa grogi, juga lagi2 untuk "menjaga jarak aman". 

Dulu aku sempat berpikir kalau sebenarnya dia punya pesona yg tersembunyi, yg kalau bisa dimunculkan kuncinya, bakal punya daya tarik dan karakter yg memukau. Itu pikiran sok tau ku dulu. Hehehe.. tapi sepertinya itu jadi kenyataan sekarang. Saat pertemuanku kemarin dengannya. Cukup membuatku makin terpesona. Sekarang dia udah berubah. Saat bertemu dengannya kemarin, diam-diam aku tersenyum dalam hati. Aahhh... 

Allah, tapi aku malu berhadapan dengannya dengan kondisiku yg seperti ini. Sepertinya aku terlalu kotor kalau harus berhadapan dengannya. Dia telah Kau ubah jd sosok wanita yg luar biasa. Sedikit banyak, aku tau kehidupan dan peristiwa-peristiwa yg dialaminya akhir-akhir ini telah mampu mengubahnya. Dia telah menemukan kuncinya utk menjadi sosok yg patut dikagumi. Sedangkan aku, hanya biasa-biasa saja. 
Engkau Yang Maha Tau Allah. Engkau yang mampu mengubah segala hal. Engkau yg mampu membolak-balikkan hati. 

Selasa, 19 Januari 2016

Jejak Masa Lalu di Mana-Mana

Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Tapi tetap saja sepertinya sulit bagiku untuk melupakan begitu saja. Masih saja menyisakan ruang luka di hatiku. Masih teringat bagaimana sulitnya aku berusaha segala macam. Mulai dari berusaha memahami, berusaha mengerti, berusaha sabar, berusaha menuruti, berusaha untuk memperbaiki masa depan, berusaha mengumpulkan rejeki untuk nikah dsb.. Boleh dibilang di sini saya mencoba mengungkit-ungkit.

Terlalu sulit melupakan. Terlalu banyak jejak yang ditinggalkan disini. Tiap sisi dan sudut kota ada jejak masa lalu. Tiap yang saya pakai, mulai dari baju, sepatu, celana, jaket, handphone, ada jejak masa lalu yang menempel di sana. Belum lagi, tiap ku susuri jalan-jalan di kota ini, ada jejak dan bayang masa lalu yang tertinggal di sana. Bahkan saat aku merebahkan tubuhku di kosan, di sana juga ada jejak masa lalu. Motor yang tiap hari ku tumpaki pun ada bekas-bekas masa lalu. Terus, harus lari kemana diriku agar terlepas dari bayang masa lalu??

Satu-persatu bekas-bekas masa lalu sudah aku singkirkan. Mulai dari foto, bahkan sampai pakaian, hp pun mulai tak ku pakai lagi. Sebab hanya sakit tiap ku mengingatnya. Sakit!! Tapi aku sadar, mungkin ga mungkin bisa semuanya aku buang. Kalaupun harus aku buang, tetap saja aku tak bisa berlari menghindar dari bayang masa lalu. Selama aku masih di kota ini, selama aku masih menaiki motor yang sama, selama masih memakai baju yg sama, selama itu pula aku tak bisa benar-benar pergi jauh dari masa lalu. Masih berkutat tak jauh dari pusaran masa lalu.

Kurang ajar!! Masa lalu ternyata bukan ada jauh di belakang, tapi terus mengikutiku.


Kamis, 31 Desember 2015

Nih aku tulis sesuatu lagi...

Apa kamu?? Lagi nunggu cerita selanjutnya?? Mau tau curhat apa lagi yang bakal aku tulis di sini?? Kepoo???!
Sory akhir-akhir ini aku malas menulis curhatan di sini.

Nih aku tulis sesuatu lagi...

Intinya aku udah bubar bar!! dengan si R. The End! Dia mau njengking kek, mau nyungsep kek, mau sekarat kek, mau seneng kek, mau bahagia kek, mau susah kek, mau punya cowo lagi kek, mau lamaran kek, mau galau kek, bodooo amaattt!

Dia yang ga pernah menghargai usaha laki-laki yg sedang berjuang untuk menghalalkannya, sedang berjuang untuk memenuhi janjinya, sedang ikhtiar untuk kebaikan masa depannya, sedang berupaya mensucikan hubungannya, suatu saat dia pun akan paham tentang sesuatu yang tak ada harganya. Mungkin, jika Tuhan berkenan, aku akan menyaksikan saat dia dalam kondisi tak ada harganya lagi.

Sampai tgl 15 Desember kemarin, saat papahku menghadiri wisuda adikku, masih saja menanyakan hubunganku. Seolah tak yakin kalau hubunganku bubar. Seolah antara masih berharap dan kecewa. lalu aku tegaskan, tidak! Tidak perlu datang ke rumahnya kalau hanya membuat muka malu.

Usiaku kini sudah lewat dari 30th. Dan kini kembali sendiri. Dan belum ada minat untuk menjalin hubungan lagi dengan perempuan. Kalaupun ada, hanya ingin untuk senang-senang. Ga lebih. Nanti dulu kalau untuk serius. Kecuali perempuannya yang datang memintaku dan mau menerima segalanya tentangku yg brengsek, yang kere, yang ga jelas masa depannya, yang jelek, kuper.

Entah sejak kapan pikiranku menjadi liar, tingkahku menjadi masa bodo, menjadi nakal, menjadi seolah bukan aku. Aku menjadi orang yang tak percaya lagi dengan perempuan yang sok suci soal hubungan. Sok romantis, sok idealis, sok toleran.

"ya Tuhan, pertemukanlah aku dengan orang yang terbaik menurut pilihan-Mu" 
Fuck dg kata-kata itu!! tebaik menurut nafsu dan keinginanmu mungkin maksudnya. Setelah kau melihat ada kerugian dimasa depan, maka kau akan berupaya mencari yang lain. Mencari yang "terbaik", menurut pikiranmu sendiri tentunya. Bukan berupaya membangun kebaikan bersama. Bukan berupaya membangun visi bersama untuk lebih baik. Lihat saja, kau tak akan dapatkan itu! Saat itu kau akan sadar, yang terbaik itu telah berlalu. Mungkin dia ada di belakangmu, atau mungkin sudah jauh melesat di depanmu yang sudah tak mungkin lagi untuk kamu kembali, atau mengejarnya. Cinta, jodoh, diukur dengan kalkulasi ekonomi. Dihitung tentang untung rugi.

Apa?? kau bilang aku terlalu kejam menghakimi? terlalu berburuk sangka? Iya! Aku menjadi orang yang memandang sinis tentang itu.

Rabu, 01 Juli 2015

Tragedi 28 Juni: Lost in love



Apa yang dirasakan seandainya orang yang dicintai ternyata saat ini sudah ga ada perasaan lagi? Bahkan kini dia bebas dekati laki-laki manapun. Dengan entengnya dia bilang saat ini perasaannya biasa saja. Seolah lupa dengan komitmen dan janji-janji dulu ketika pacaran. Rasanya remuk hati ini, badan terasa panas, dada terasa sesak.
Kemarin, hari Minggu 28 Juni 2015 aku main ke rumah Rya di Temanggung dengan maksud hati silaturahmi sekaligus untuk memperbaiki suasana. Sengaja aku ga bilang kalau mau main. Sebab, beberapa kali aku ingin main ke rumahnya, selalu ada alas an kalau dia tidak di rumah hari itu, atau akan ada acara. Jadi ini ceritanya aku nekat. Kalaupun nanti ternyata Rya ga di rumah, ya ga masalah. Saat sampai di depan gang rumahnya sekitar jam 09.30, aku SMS dulu menanyakan ada agenda keluar ga hari itu. Ternyata ga dibalas. Akhirnya ku coba telpon ke nomornya, berkali-kali ku coba, tetapi ga ada jawaban. Akhirnya aku nekat dating. Memang rejekiku, ternyata dia ada di rumah. Agak terkejut dia ketika tau aku datang dengan kondisi dia belum mandi. Dia Tanya, kenapa aku tidak bilang dulu kalau mau datang. Dalam hatiku, kalau aku bilang kemungkinan dia akan beralasan lagi agar aku mengurungkan niat untuk mampir ke rumah. Padahal sekitar 15 menit sebelumnya pun aku sudah berusaha ingin memberitahu, tapi ga ada tanggapan. Alasannya karena dia sedang sibuk beres-beres. Padahal ketika aku sampai rumahnya, kondisi dia seperti baru bangun tidur. Harusnya SMS dan beberapa kali teleponku dia tau. Mungkin sengaja ga diangkat, ini kecurigaanku saja.
Akhirnya Rya meminta saya menunggu karena akan mencuci dan kemudian mandi. Sekitar sejam lebih aku bengong di ruang tamu menunggu, tanpa sebelumnya dia menghampiriku. Hanya lewat depan kamarnya dan menengok ke ruang tamu sambil lalu ketika aku datang. Ini juga yang membuat aku ga enak hati. Ga pernah sebelumnya dia begini.
Setelah menunggu akhirnya dia selesai beres-beres dan mandi, Rya menghampiri dan menyalamiku di ruang tamu dengan muka yang aku tangkap sangat berbeda. Bahkan muka dan matanya berusaha menghindar tatapanku. Ini hal lain yang membuat hatiku kembali ga enak.
Jujur, saat itu aku kembali canggung berhadapan dengan Rya. Grogi dan bingung harus membuka pembicaraan dari mana. Jantung ini berdetak kencang, keringat dingin membasahi telapak kaki dan tanganku. Saat ku buka pembicaraan, dia tengah asik memainkan HP-nya. Bahkan pembicaraan selanjutnya pun lebih sering dia senyum-seyum ke HP-nya, beberapa pertanyaanku pun sering tak dijawab. Ini hal lain lagi yang buat hatiku ga enak. Aku tanyakan ada agenda keluar atau engga. Dia bilang mungkin agak siangan dia akan keluar dengan teman-temannya walaupun ga tau pasti mau keluar ke mana. Dugaanku benar, pasti dia bakal alesan akan keluar. Ini jadi sebuah sinyal kalau aku ga perlu berlama-lama di rumahnya.
Akhirnya aku beranikan diri mendekat dengan duduk di sebelahnya. Ku coba meraih tangannya, tapi dia berusaha menolak. Aku ajak ngobrol dia sambil ku belai rambutnya, dia diam saja walaupun awalnya dia agak menghindar. Saat itu aku bilang minta maaf dan bilang kalau masih sayang dengannya. Tapi tanggapannya dia aneh, sok becanda dan menghindari pembicaraan.
Rya mulai bercerita tentang foto teman di instagramnya. Aku menangkap sinyal lain. Bahwa dia ingin menunjukan ada beberapa orang laki-laki yang sering main atau sekedar jalan-jalan dengannya. Dari cara dia bicara, aku menangkap bahwa dia ingin mengatakan “ini lho beberapa teman cowo yang dekat denganku, sering ngajak jalan-jalan, traktir makan, perhatian …..karena ga ada apa-apa lagi dengan kamu, jadi boleh dan bebas donk aku pergi dan dekat dengan siapapun..”
Aku hanya menanggapi dengan senyum seolah tak mengerti apa-apa. Padahal dalam hatiku mulai meneteskan air mata. Kemudian obrolan berlanjut ke hal lain, tapi kemudian ia bercerita tentang jalan-jalan dan perhatian teman-teman kantornya, khususnya yang cowo. Bahkan dengan gambling dia bilang beberapa cowo itu emang ada modus dan suka bahkan bilang dengan jelas banyak cowo yang bilang sayang. Bilangnya sih, semua ga di bawa perasaan, ga mau bermain hati. Tapi semua perhatian cowo itu keliatannya dia tanggapi semua. Dari cara dia bercerita, seolah ingin melihat reaksi cemburuku. Jujur aku sangat sangat cemburu dan makin sesak dada ini. Ini hal lain lagi yang membuat hatiku making a karuan.
Ketika aku bilang bahwa sekarang dia gemukan, dia jawab “iya donk, bahagia sekarang mah…” dengan ucapan yang penuh maksud. Aku pun paham maksudnya. Lagi-lagi aku pura-pura tenang menanggapinya. Tapi aku yakin dia masih paham dalam membaca pikiran dari tanggapan dan ekspresiku. Walaupun mungkin untuk orang awam pasti mengira aku biasa aja. Tapi aku sangat yakin Rya paham, karena memang cuma dia yang paham tentang hal yang tersembunyi dari aku. Walaupun sekuat tenaga aku berpura-pura di depan dia, pasti dia bisa membaca ada yang ga beres.
Saatnya adzan duhur pun tiba. Aku segera bergegas ke masjid sekaligus agar air mata ini ketika menetes tak terlihat olehnya. Dalam langkah menuju masjid, mataku sudah tak kuat dan berkaca-kaca. Sampai di masjid aku solat sunah ingin menumpahkan keluh kesah ini. Selesai sunah aku coba baca Ar-Rahman seingatku. Tapi baru beberapa ayat, dadaku makin sesak dan mataku tak tertahankan lagi. Aku malu karena di masjid orang mulai berdatangan. Untuk menutupi raut muka, aku tundukan kepala. Dadaku panas dan suaraku tercekat di tenggorokan.
Usai solat duhur kembali aku ke rumahnya. Sebisa mungkin pikiran aku alihkan ke hal-hal lain. Sampai di ruang tamu, tak lama kemudian Rya datang. Ternyata dia sudah mulai dandan. Ini pertanda kalau aku ga perlu lebih lama lagi. Dia sibuk dengan HP-nya, mungkin kontak dengan teman-temannya yang janjian mau jalan-jalan. Aku tanyakan jadi keluar kapan. Dia jawab nanti karena temannya baru mandi, katanya.
Kita mulai ngobrol-ngobrol lagi. Aku lihat dia mulai biasa lagi saat bicara dan bercerita, sudah mulai lepas. Tapi saat aku ngomong, dalam sekejap dia tertidur. Kebiasaan dia masih sama, cepat tidurnya. Obrolan selanjutnya setelah dia terbangun mulai ga ditangggapi karena dia makin asik SMS atau BBM-an mungkin. Aku tau kalau temannya akan segera meluncur ke rumahnya. Salah seorang temannya telepon. Dan sepintas aku dengar kalau temannya bertanya kalau tamunya udah pulang belum. Aku langsung bersiap-siap pamit. Kemudian tiba-tiba dia dimiscall temannya lagi. Kali ini sepertinya seorang laki-laki. Tanpa pikir panjang, dia langsung telpon balik dan menanyakan ada apa tadi telepon atau miscall. Sepertinya orang di seberang sana yang diajak berbicarapun menanyakan apakah aku sudah pulang, atau kapan pulangnya. Rya menjawab, “iya mungkin ini sebentar lagi mau pulang..” Dalam hatiku makin menjerit. Ini adalah sebuah sinyal pengusiran secara halus berikutnya. Yaa memang dia tuan rumah, dan aku hanya tamu. Aku pun makin cemburu. Sms ku sangat jarang dibalas, teleponku ga pernah diangkat, tapi kini dia sangat tanggap terhadap temannya itu. Seolah dia juga sekaligus ingin manas-manasin aku.
Jantungku serasa berhenti, ulu hatiku mendadak sakit serasa ada yang nonjok. Aku udah ga tahan, mataku berkaca-kaca di hadapan Rya sambil aku bilang maaf dan sayang. Tapi dia tetap bilang sudah biasa aja, udah ga ada perasaan. Ga mau nanggepin sayang-sayangan. Aku sudah jelaskan kalau aku cuma lagi focus untuk kita. Tapi dia ga peduli. Bahkan saat aku bilang target melamar dia bulan Desember pun seolah dia menolak.
Rya bilang kalau sudah memaafkan dan sudah tidak perlu ada yang dipersoalkan. Tapi kenyataannya sikap dia padaku akhir-akhir ini sama sekali ga mengindikasikan kalau dia sudah memaafkanku. SMS, BBm, WA ku tak pernah digubrisnya. Kalaupun dibalas hanya singkat dan hanya sekedarnya. Bahkan pertanyaanku seringkali tak dijawab. Telponku pun tak pernah diangkatnya. Sakit rasanya hati ini. Bilang dimaafkan tapi sikapnya masih seperti itu. Itulah yang membuat aku masih berat hati karena belum mendapat maafnya.
Saat mengucapkan maaf lagi dan ingin menjelaskan dan menanyakan hal lain, suara ini sudah sulit keluar. Cuma bisa nyangkut di tenggorokan. Air mata udah ga tahan untuk keluar. Akhirnya aku segera pamit dan bersalaman. Keluar rumah malah papasan dengan mamah papahnya yang baru saja pulang. Sesegera mungkin aku kuasai raut muka dan mataku. Aku ijin untuk pamit pulang ke mamah papahnya. Tadinya ada hal yang ingin aku katakana ke papahnya. Tapi mulut udah terlanjur kelu. Jadi bergegas ku nyalakan motor. Saat keluar pagar, masih sempat ku tatap Rya yang luar dari pintu depan memandangiku saat ingin pergi. Jujur mataku udah ga kuasa lagi.
Belum sampai gigi 3, dan belum sampai keluar gang rumahnya, air mataku sudah banjir. Sampai malu saat berpapasan dengan orang di depan gang rumahnya. Sore itu sekitar jam 15.00 aku pulang dengan perasaan, pikiran, dan hati sangat kacau. Sepanjang jalan aku menangis. Saat lampu merah atau jalanan ramai, sebisa mungkin aku tahan air mata ini. Saat jalanan sepi dan bisa sedikit ngebut, barulah aku tumpahkan tangis itu dalam perjalanan. Aku bicara sendiri sambil nangis. Bahkan aku tak sadar harus jalan ke arah mana. Sudah ga peduli dengan laju motorku.
Perasaan ini terlalu sakit. Sampai benar-benar sakit secara fisik dada ini, dan perut pun tiba-tiba mules. Beberapa kali pun aku sempat gelagapan karena kesulitan bernapas karena dada dan kerongkongan terasa sesak. Aku bayangkan, seandainya di jalan pulang itu aku kecelakaan parah pun, mungkin rasa sakitnya masih kalah dengan sakit di dada ini. Saat itu aku pun berpikir, mungkin mati akan lebih baik daripada menanggung derita dan sakit yang tiada tara ini. Tapi Allah masih melindungi. Allah masih menyelamatkan nyawaku dari kecelakaan maut.
Cuma dua hal yang ada di pikiran saat itu, Rya kembali padaku atau lebih baik mati. Aku kendarai motor dengan pelan. Tapi terkadang aku pacu motor sampai kecepatan tinggi tanpa perhitungan apapun, terlebih saat nyalip kendaraan lain. Otakku ga bisa berpikir jernih di jalan. Di pikiranku cuma ada Rya, Rya, dan Rya.
Aku cuma berdoa semoga aku bisa mendapatkan cintanya lagi. Semoga hatinya kembali seperti dulu lagi. Dan aku yakin dia takdirku. Tapi menjalani proses ini yang terkadang aku tak tahan. Terlalu perih dan sakit, bahkan luka di tubuhku tak dirasa sama sekali.
Semoga kau kembali ke pelukanku sayang

di ruang sunyi dalam tangisan,
Purbalingga, 29 Juni 2015

Wibiono

Senin, 09 Maret 2015

Dialog Akhir Hayat


Mamah : wib, pulang aja yuk..
Sy        : ntr ja mah pulangnya.
Mamah : lah ngapain lama2 di rmh sakit, percuma. Mw pulang ja.
Sy        : yaudah, ntr ja ya pulangnya nunggu papah dtg. Papah lg mw nyari mobil dulu.
Mamah : bedug msh lama ya? Mamah mw plg abis bedug aja lah wib, anterin ya.
Sy        : (mikir keras, apa ini prtanda)..
Mamah : yuk anter mamah pulang abs bedug.
Sy        : yaudah klo mamah mw plg, ntr ya sabar nunggu pd dtg smw. Anak2nya mamah smw lg dipanggil k sni, tp budi msh di jln dr purwokerto. Gmn donk?
Mamah : lama lah. Udh ga betah.
             (Adzan duhur berkumandang)...
Mamah : udh bedug blm wib?
Sy        : blm, itu adzan mah (padahal tanda bedug itu ya waktu solat sebelum adzan).
Mamah : msh lama ya?
Sy        : iyaa, sabar..
             (Kondisi makin parah, udh mulai ga mengenali anak2nya. Ditengah sekarat, msh manggil2 nama adik2nya, anak2nya).
Mamah : wib, anter pulang aja lah.
Sy        : mamah mw kemana? Udh ada yg jemput?
Mamah : udah lah.
              Sy suruh adik2 bacakan yasin dkt tmpt tidur mamah.
Sy        : mah, terus nyebut allah. Baca syahadat. Jgn lupa sampein salam wibi sama yg jemput mamah.
mamah : ada setan
Sy        : di mana? yaudah terus baca syahadat. klo ga, bisa cukup sebut allah, klo susah, sebut dlm hati. jgn dengerin setan.
             (Adzan ashar berkumandang)...
Sy        : (berfikir, mungkin yg dimaksud bedug itu bedug ashar). Mah, itu udh bedug. Klo mamah mw pulang, sok pulang. Yg di sini udh ikhlas. Maafin wibi klo blm bisa jd anak yg baik. (sambil berbisik). Yuk tak anter.
Yaa ayatuhannafsul mutmainah, irji'i ila robbiki rodiatan mardiyah. Fadkhuli fii ibadi wadkhuli jannati..
Ikutin mah, asyhaduala ila hailallah wa asyhaduanna muhammadurosulullah. Laa ila ha ilallah.....
Sepertinya secara perlahan nafas terakhir udh dihembuskan...
Selamat jln mah, engkau kini udh jd insan paripurna. Tugasmu di dunia udh selesai dan g prlu merasakan sakit lg. Semoga selamat sampai tujuan.
(Hujan deras mungguyur tanah cirebon mengiringi roh yg hari itu dipanggil Pencipta)

#in memories Maret 2012

Selasa, 17 Februari 2015

Rekonstruksi Cinta

Kemarin, tanggal 15 Pebruari tepat 4 tahun sudah saya menjalani hubungan dengan perempuan yang bernama Innas Rizky Afria. Tak terasa sudah cukup lama juga waktu berjalan sampai detik ini. Padahal seolah baru tahun kemarin saya berkenalan dengannya.

Rasanya berbagai situasi sudah kami lewati. Mulai dari pacaran layaknya para ABG yang baru dirundung cinta, yang selalu mengumbar kemesraan, meskipun hanya sebatas kita berdua saja yang tau. Pacaran jarak jauh, atau bahasa gaulnya "LDR" juga sering kita lalui sejak dulu. Maklum, kita pacaran saat saya sudah hampir lulus. Jadi dia sering saya tinggal-tinggal. Terlebih saat saya lulus dan bekerja merantau ke manapun. Tapi itu masih mending, sebab biasanya tetap saya sempatkan seminggu sekali atau dua minggu sekali saya kunjungi sekedar melepas rindu. Semenjak dia lulus, LDR kami makin jauh. Kalau sebelumnya masih bisa bertemu walaupun cuma seminggu atau dua minggu sekali, kini bisa bertemu sebulan sekali saja sudah bagus.

Canda, tawa, kemesraaan, bahkan pertengkaran sering kami alami. Terlebih saat jauh. Hal kecil pun bisa jadi penyebab pertengkaran yang lumayan heboh. Terkadang sulitnya mempertemukan waktu yang pas untuk sekedar "say hello" bisa berujung uring-uringan. Maklum, kami berdua sibuk dengan pekerjaan. terkadang dia senggang, saya yang sibuk atau lelah. Begitu juga sebaliknya, saya senggang, dia yang sibuk atau kelelahan. Parahnya lagi, kalau dia sedang datang bulan. Adaaaa aja yang jadi masalah.

Banyak yang bilang umumnya pacaran hanya bertahan sampai 3 tahun. Ternyata kami bisa melewatinya. Ada juga yang bilang paling mentok sampai 4 tahun dan habis itu bubar tanpa kejelasan. Alasannya mungkin karena bosan terlalu lama pacaran. Tapi bagi kami, menurut saya, semua bisa dilewati. Semiua omongan orang itu terbantahkan.

Namun ada yang berbeda di tahun ke empat ini. Kami mencoba merekonstruksi makna "pacaran". Ya, kami coba rekonstruksi cinta ini menjadi hal yang lebih positif dan lebih membangun kedewasaan. Konsekuensinya, secara pengertian umum anak muda, mungkin ini sudah bukan disebut pacaran lagi. Tapi bagi kami tidak. Kami hanya mencoba meng-upgrade soal cinta atau pacaran ini ke tingkat yang lebih tinggi. Secara harfiah, status "pacaran" memang kami lepas. Namun secara hakikat, masing-masing kami tetap menjaga cinta di hati, saling mendukung dan mendoakan. Kami serahkan persoalan ini pada Yang Maha Mencinta dan Maha Merajai Hati. Dia yang mempertemukan kami, biarlah Dia juga yang akan menyatukan kami di akhir perjalanan ini.

Kami mencoba untuk menahan diri untuk tidak mengumbar kemesraan, atau gaya-gaya pacaran anak alay. Kami fokuskan untuk membenahi diri dan mempersiapkan diri masing-masing untuk tujuan hubungan yang lebih serius. Kalau sebelumnya kita bela-belain untuk bertemu hanya sekedar melepas rindu, kini kami tuangkan rindu itu dalam sajadah, dalam lantunan doa kala solat atau dikala perasaan rindu itu menghinggapi hati dan fikiran. Biarkan Allah yang memelihara cinta ini agar tetap bersih. Biarkan Allah yang menyampaikan rasa rindu ini lewat caraNya.

Langkah ini bukanlah langkah putus asa, apalagi kebosanan hubungan. Hanya mencoba mencari bentuk yang lebih berkualitas lagi dari cinta ini. Selain itu, langkah ini justru untuk tetap menjaga ritme rasa cinta dan rindu di hati. Langkah ini juga merupakan kilas balik perjalanan cinta. Agar kelak ketika kami dipertemukan dalam hubungan yang sah, melalui pernikahan yang insya Allah tidak lama lagi, kami berharap akan bisa kembali merasakan bagaimana awal mula jatuh cinta dan berpacaran. Pada akhirnya hubungan ini tidak akan monoton, apalagi mengalami jalan buntu dan kebosanan. Dijamin tidak akan!

Rekonstruksi cinta ini juga bertujuan untuk melatih dan menguji komitmen masing-masing. Dengan adanya "pembatas", kita diuji untuk seberapa kuat dan seberapa besar kita mampu mempertahankan perasaan cinta yang sudah bersemi di dalam hati. Cuma kekuatan keyakinan dan percaya yang bisa mempertahankan hubungan ini. Tentunya harus dilandasi dengan doa.

Semoga rekonstruksi makna cinta dan pacaran ini membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Insya Allah.


=Purbalingga, 16 Februari 2015=

Wibiono
Afria

Selasa, 23 September 2014

Psikologi Orang Capek

Manusiawi ga sih kalau merasakan letih badan? Manusiawi ga sih kalo saat lelah, tiba-tiba harus tertidur? Tapi kenapa dia malah marah-marah saat saya bilang tidur? Bilang telepon ga diangkat lah, dan ga telpon balik lah. BBM dicuekin lah. Lho ya namanya tidur, mana denger ada suara bbm? jangankan bunyi bbm masuk, suara telepon aja ga denger kok. Pas sedikit sadar dan angkat telepon, malah yang didenger suara orang ngomel ga jelas dan tiba-tiba nutup telpon.

Saya yang sedang dalam kondisi setengah sadar, boro-boro berpikir jernih, yang ada malah melanjutkan ngantuknya karena pikiran ga sanggup untuk menyadarkan diri. Agak susah payah mengembalikan kesadaran untuk membaca sms atau bbm yang masuk. Wuiiddiihh ternyata isinya omelan. Emosi juga dapet omelan. Sempat tak lempar tuh hp. Untungnya ga rusak.

Sebenernya soal simpel sih, posisi cape malah ada yang ngajak ribut, ya makin jadi deh. Ibaratnya nih ya, api lagi nyala, eeh ada bensin deket-deket. Orang lagi cape banget dan emosi ga stabil tuh prinsipnya cuma satu, "senggol bacok". Jadi saran saya kepada siapapun, jangan usik orang sedang cape berat. Sebaiknya beri dia kenyamanan untuk istirahat. Apalagi pulang ke rumah saat weekend, ga punya duit sepeserpun, sampai rumah adik-adik pada ribut minta duit, minta jajan, undah gitu perut lapar karena seharian belum makan nasi, eehh pas ga sengaja tertidur, tiba-tiba ada yang ngomel-ngomel. Orang penyabar pun, mungkin akan tetap emosi saat situasi krisis seperti itu. Rasanya tuh ya, kepala nyut-nyutan mau pecah.

Embuh lah!


Beberapa hari ini saya lagi malas semuanya. Malas kerja, malas makan, malas mandi, malas segalanya. Why? Ga tau kenapa. Mungkin sedang gejala gangguan psikologis atau gangguan jiwa. Selalu gagal fokus dan lebih mudah melamun tanpa pikiran apapun. Bahkan kadang saya ga sadar di mana sekarang berada. Setelah sadar dari lamunan, baru deh bingung. Impuls syaraf di otak harus bekerja keras untuk merangkai memori dan kesadaran satu per satu. Barulah setelah itu bisa sadar seutuhnya kenapa ada di sini, bagaimana bisa di sini, mau apa di sini, dan bagaimana jalan pulang.

Yang saya takutkan ketika sedang nyetir motor, tiba-tiba pikiran kosong entah sedang di mana. Beberapa saat kemudian sadar dengan kondisi jarak motor sangat dekat dengan kendaraan di depannya. Beberapa kali bahkan harus mengerem tiba-tiba untuk menghindari tabrakan. Untungnya kesadaran cepat kembali disaat yang tepat. Kalau telat sedikit saja, mungkin sudah berkali-kali saya nabrak. Entah itu nabrak orang yang sedang menyebrang, nabrak mobil atau motor yang ada di depannya, atau nabrak tiang dan pohon yang ada di pinggir jalan. 

Ada apa dengan pikiran saya ini? Kondisi ga sadarkan diri sangat singkat. Tapi seolah saya melewatkan waktu yang cukup lama dalam lamunan itu. Kenapa terjadi akhir-akhir ini? embuh lah!

Jumat, 24 Januari 2014

Maybe is true ..

Aku ingat yang kau pakai di hari pertama
Kau datang dalam hidupku dan kupikirkan

Kau tahu ini bisa jadi sesuatu


Karena apapun yang kau lakukan dan kata-kata yang kau ucapkan

Kau tahu semuanya itu membuatku bahagia

Dan kini aku tak punya apa-apa


Jadi mungkin memang benar

Bahwa aku tak bisa hidup tanpamu

Mungkin berdua
 
Lebih baik daripada sendiri..

Tapi ada banyak waktu
Tuk mencari tahu selama sisa hidupku

Dan kau tlah membuatku gelisah

Kurasa berdua lebih baik daripada sendiiri


Aku ingat tiap rona di wajahmu

Caramu menggerakkan mata, caramu merasakan

Kau membuatku sulit bernafas


Karena saat kupejamkan mata dan terombang-ambing
Kupikirkan dirimu dan segalanya kan baik-baik saja

Kini akhirnya aku percaya
..


Aku tak bisa hidup tanpamu,
Dan kurasa berdua lebih baik daripada sendiri.



 

Special Repost 15/01

(Repost 1)

Engkaulah kilatan cahaya yang menyapu lenyapkan segala jejak dan bayang,
engkaulah bentangan sinar yang menjembatani antara duka mencinta dan bahagia terdera,
engkaulah terang yang ku dekap dalam gelap saat bumi bersiap diri untuk selamanya lelap,
andai kau sadar arti pelitamu, andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu..

Ajarkan aku melebur dalam gelap tanpa harus lenyap,
merengkuh rasa takut tanpa perlu surut,
bangun dari ilusi tapi tak memilih pergi..

(Repost 2)

Seperti puisi yang kau tuliskan.
seperti nyanyian yang kau lantunkan,
seperti senyum yang kau sunggingkan,
seperti pandangan yang kau kerlingkan.

Seperti cinta yang kau berikan, 
Aku tak pernah..
Tak pernah..
Tak pernah merasa cukup.. Sayang..

-wibiono-

Kamis, 17 Oktober 2013

Hari Ke 15 (tanpa kamu)..

Sayang, ini hari yang ke 15 aku tanpa kamu di sini.  15 hari yang lalu, (waktu itu tanggal 2 Oktober) kamu pergi ninggalin aku, dan kata-kata yang masih aku inget adalah pas kamu pamit mau cari sesendok berlian..hihhi..(semoga beneran deh). ah sayaang.. kamu tuh ngangenin. Aku disini rindu kamu sayang, aku rindu jeleknya kamu, aku rindu bawelnya kamu, aku rindu kata-kata ga mutunya kamu, aku rindu perhatian kamu, aku rindu manjanya kamu, aku rindu gombalan-gombalan kamu, aku rindu pandangin kamu tidur, aku rindu jalan berdua sama kamu, aku rindu makan bareng kamu, aku rindu semuanya tentang kamu sayaang....

Ah, tapi itu semua bukan masalah, aku justru menikmati rasa rinduku ini.. ini hanya masalah waktu :) aku sayang kamu, yang paling penting buat aku, di sana kamu tetap baik-baik aja, selalu sehat, dan aku akan selalu menanti kabar baik dari kamu, sayaang.. dan kita sama-sama terus berdoa ya buat kesuksesan kita berdua. Sayang, semoga Allah senantiasa membukakan pintu rizki buat kamu.. 

Sayang, doain aku juga disini ya biar aku ga cengeng, lebih sabar, tetep semangat kuliah, doain juga proses skripsi aku lancar ya yaaank :-* sayang, tetep sayangin aku yaa..tetep perjuangin apa yang udah kita lalui sama-sama ya, pertahanin semua tentang kita ya sayaaang. Aku ga mau semua cerita tentang kita hanya tinggal kenangan, aku mau kita tetep bisa terus sama-sama ngadepin apa yang bakal terjadi di depan.. aku mau kita tetep bisa saling menguatkan sayang.. 
Mudah-mudahan kebahagiaan berpihak pada kita, dan semoga segalanya akan indah pada waktunya..



Sayang, selamat malam ..
Selamat beristirahat yaa..
***



Selasa, 26 Februari 2013

Apa? Hancur ?

Oke, saya mengerti apa yang anda rasakan, yang anda pikirkan, yang anda maksudkan. Saya cukup tau. Saya tidak pernah sedikitpun ingin membuat anda hancur. Saya hanya meminta, mungkin mengemis sedikit waktu untuk saya berlatih mengendalikan diri. Bukan berarti saya tidak sayang atau tidak butuh kamu, BUKAN. Saya hanya merasa sedang tidak stabil, saya hanya merasa saya sedang tidak bisa mengerti, saya sedang egois, bahkan saya mungkin sedang sangat sensitif. Saya takut mengganggu pekerjaan kamu, saya takut mengganggu jam istirahat kamu, saya takut tidak bisa memahami kondisi dan keadaan kamu. Saat keegoisan saya yang sangat besar ini muncul, saya lebih memilih untuk diam dan didiamkan, barang sejenak.  Itu akan membuat saya lebih baik, saya tidak akan rewel, minta ini-itu, nuntut ini-itu, dan kamu juga akan lebih baik, kamu tidak harus meladeni telp.saya yang ga penting, kamu tidak harus mengorbankan jam-jam istirahat kamu. Ini hanya demi kita. Toh saya yakin semuanya akan baik-baik saja. Tapi ternyata maksud dan pilihan saya mungkin salah dimata kamu.. Oke, apapun anggpn kamu tentang saya, saya hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk KITA berdua. Saya tau, kita sama-sama merasa kita sudah berusaha mengerti satu sama lain. Tapi ga semua pengertian diangggap memang sebuah pengertian. Segala ilustrasi dan analisis kamu tentang saya yang seolah2 selalu menekan kamu itu ga salah, oke aku terima. Yang seolah2 semua yang kamu lakukan slah, yang seolah2 saya tak pernah sedikit pun menghargai apapun yang kamu lakukan. Oke, dengan setulus hati saya memohon maaf. Maaf atas sikap saya yang membuat kamu sakit atau tertekan. Saya tidak pernah memaksa kamu untuk mencintai saya.. Saya tidak pernah memaksa kamu untuk menyayangi saya. Dan saya tidak akan pernah bahagia ketika cinta dan sayang yang kamu berikan kepada saya terselip tekanan2, paksaan2, dan beban2 yang justru mengganggu kamu dalam menjalani hidup. Saya hanya ingin rasa cinta, kasih, dan sayang yang pada akhirnya membawa kita berdua mencapai masa depan yang bahagia tanpa tekanan apapun. Saya ingin agar kita terus belajar untuk bisa lebih saling memahami. Saya tahu, kekurangan dan kelemahan saya sangat banyak, saya membutuhkan kamu untuk dapat mengingatkan dan membimbing saya. Dengan kekuatan cinta kita, saya yakin semuanya bisa teratasi walaupun tidak mudah.. Saya samasekali tidak keberatan kalau kamu memang harus meluapkan segala ketidakterimaan kamu atas sikap saya ,, 

Kamu selalu berarti dalam hidup saya..

-LP-

Kamis, 21 Februari 2013

Hancur


Semuanya hancur saat kau ingin mengakhiri semuanya, walaupun hanya untuk sementara. Kamu pikir dengan begini masalahnya akan selesai? Kamu pikir dengan berakhir kamu dan aku ga akan semakin tersiksa?? Kamu pikir dengan begini aku ga semakin tertekan? Salah besar! Aku semakin tertekan, semakin ruwet, semakin pusing.

Aku pernah bercerita tentang kisah anak kelas 6 yang menyukai pelajaran matematika namun kemampuannya jauh di bawah teman-teman seusianya. Karena rasa sukanya pada matematika, ia terus berusaha untuk belajar matematika walaupun sering dimarahi guru dan diolok-olok temannya karena ia tidak mampu menghitung perhitungan sederhana. Setiap usahanya sesuai kemampuannya, walaupun sedikit tidak membuahkan hasil bahkan selalu dianggap “bodoh”.  Yang dikhawatirkan pada akhirnya anak itu akan mulai membenci usahanya untuk belajar matematika. Yang dikhawatirkan anak itu akan menganggap bahwa ia memang ga bisa matematika. Yang dikhawatirkan anak itu menganggap bahwa semua guru adalah sama. Dan yang lebih parah lagi ia akan mulai membenci pelajaran matematika sampai pada akhirnya ia membenci belajar pelajaran apapun sampai ia akan berhenti untuk sekolah. Lantas, apakah dengan tidak belajar matematika itu akan membuat lebih baik? Apakah dengan berhenti belajar itu akan semakin meringankan beban anak itu?? Dampaknya akan jauh lebih buruk dari itu. Masa depan anak itu diambang suram dan kegelapan sepanjang hidupnya!!

Oke, jika ada tawaran alternatif kalau untuk beberapa lama anak itu tak perlu belajar lagi sampai akhirnya nanti dirasa perlu belajar lagi, apakah itu juga jalan yg terbaik? Mungkin setelah beberapa lama tidak belajar dan tidak membuka pelajaran lagi, anak itu sudah lupa sama sekali dengan pelajaran, apalagi pelajaran matematika. Apakah anak itu akan mungkin dapat mengikuti pelajaran? Yang pasti, anak itu akan semakin tertinggal kemampuannya dibandingkan teman-temannya. Ditambah lagi pengalamannya selama ia belajar matematika dahulu itu akan semakin menutup pikirannya.
Itu hanya ilustrasi sederhana untuk menggambarkan kasus ini. Silahkan dicamkan baik-baik.

Entah bagaimana penilaianmu, sejauh ini aku terus berusaha untuk mengerti kamu. Aku coba untuk menuruti saran kamu dalam ngertiin kamu. Misalnya ketika aku melakukan kesalahan A, kemudian kamu ngambek-ngambek dan bilang harusnya aku melakukan B biar ga ngelakuin kesalahan A. Dikemudian hari aku menemui kasus yang sama, lalu aku coba melakukan B, tetapi yang aku terima kamu bilang harusnya aku melakukan C, bukan cuma ngelakui B. Di lain waktu aku coba lakuin B dan C, tapi kamu malah bilang harusnya ga begitu, atau aku menganggap bahwa langkah B dan C itu bukan solusi saat itu. Itu terbukti dari ketidakberhasilan ketika melakukan solusi B dan C, mungkin perlu solusi D. Di kasus yang lain, kamu malah bilang “aku hanya perlu B, ga minta banyak-banyak. Cukup melakukan B buat aku itu udah cukup”.

Saat jauh, rindu pasti mendera sampe bingung menghadapinya. Aku mencoba mengalihkan semua itu dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan atau apapun. Ternyata itu lumayan membantu. Soalnya setiap kali aku bilang kangen, rindu, setiap itu juga persaan kangen semakin menjadi. Bukan maksud ga mau telpon atau ga mau mendengar suaramu, tapi aku takut itu membuat perasaan semakin ga karuan dan ga konsen. Alasan lainnya karena di rumahku ga ada tempat privasi buat kita mesra-mesraan saat telpon. Itu alasan kenapa tiap telpon-telponan sama kamu, aku harus ke luar dan menyendiri di lapangan yang gelap dan dingin kalau malam.

Pernah suatu ketika aku kangen dan aku nekat utk menghubungimu malam-malam. Tapi rupanya kamu udah tertidur karena lelah aktivitas seharian. Tapi aku bersikeras untuk telpon kamu sampai kurang lebih 15 atau 20 panggilan masuk ke hp mu. Setelah itu aku berfikir, ternyata aku egois kalau harus memaksa seperti ini. Karena jika itu ada di posisi aku dan keadaan yang sama, mungkin aku pun akan merasa sangat lelah dan ngantuk. Saat itu mungkin aku ga akan sanggup untuk meladeni telpon. Akhirnya aku mulai menahan diri untuk tidak mengganggu mu jika sekiranya kamu sedang lelah. Setiap aku ada waktu untuk menghubungimu, pagi hari misalnya, lebih sering kamu sudah mulai beraktivitas seperti beres-beres, nyuci, mandi, dsb. Akhirnya aku pun mengalah dan menahan diri. Itu sudah resiko jika kita jauh. Kadang sulit menemukan waktu yang tepat.

Akhir-akhir ini badanku mudah lelah dan gampang ngantuk. Kebetulan pekerjaanku akhir-akhir ini juga cukup memakan tenaga. Mungkin itu juga sebabnya kenapa aku ga sanggup terjaga hingga larut malam untuk menunggumu yang biasanya ada brifing hingga larut malam. ...

(bersambung..)

Sabtu, 17 November 2012

Seuntai Kalung dan Sebatang Coklat :)

Selamat Pagiii.... :D

Hari ini tepat tanggal 17 November 2012, hari Sabtu . Aku ingin sedikit berbagi kisah melalui berbagai ketikan huruf disini. Tak terasa, waktu berlalu dengan sangat cepat. Dua hari yang lalu, 15 November 2012 kita peringati hari jadi kami yang ke 1 tahun 9 bulan. Dihari itu kami hanya bertemu hanya beberapa jam, tak lama memang, namun kami masih tetap bersyukur masih bisa bertemu di hari jadi kami. Di waktu yang   singkat, kami menciptakan quality time untuk memperingati hari jadi kami, walaupun hanya sekedar berbincang-bincang. Sama sekali tak disangka, aku mendapat simbol kasih sayang. Seuntai kalung berliontin cinta diberikannya padaku.. waw, it's a surprise for me! yap, excited! Aku yang hanya memberikan sebatang coklat Silver Queen sangat terkejut dengan pemberiannya. Tak bermaksud melebih-lebihkan, namun sama sekali tak disangka saja diperlakukan romatis oleh seseorang seperti "dia" . (hahayyy, mmuuuahhh:-*)

Dua puluh satu bulan bukan waktu yang bisa dibilang singkat... tiba-tiba sudah hampir saja memasuki tahun kedua yaaa :), cuma kurang tiga bulan lagi udah masuk di tahun kedua. Kenangan manis, pahit, hambar, apapun kenangan yang sudah kami ukir bersama telah terekam di memori kami masing-masing. Berharap semua bisa dijadikan pelajaran di masa yang akan datang. Saling menyayangi, mengasihi, mencintai, memahami, mengerti, menghargai, itulah yang mengiringi langkah kami untuk menghadapi segala rintangan, masalah, dan hambatan. Aku yakin kami mampu melewati dan menghadapi semuanya di masa yang akan datang. Seberat apapun masalah yang akan kami hadapi, kami sama-sama telah bertekad untuk tetap bertahan dan memperjuangkan semuanya sama-sama tak peduli terpisah jarak, ruang, dan waktu..

Semoga keharmonisan ini tetap terus terjaga yaa..

hey, kamu .. kamu yang bisa buat aku merasa nyaman, buat aku bahagia, buat aku merasa dicintai, berharap kamu terus selalu bisa membuat hidupku lebih berkesan :)

" Tak perlu dia yang sempurna untuk bersamaku, karena yang aku butuhkan adalah dia yang tau segala kekuranganku namun masih tetap ingin terus bersamaku.. "



u're litelprincess

Sabtu, 06 Oktober 2012

FIGHT, FIGHT, and FIGHT !

Berjuang, Berjuang, Berjuang, Bertahan..

Terimakasih kamu telah menganggapku sebagai orang terdekatmu, terimakasih kamu mau berbagi suka maupun duka bersamaku.. terimakasih kamu menyayangku dengan keterbatasanku, dengan kekuranganku, dengan kelemahanku..

Aku tau, aku tak kan bisa menjadi sempurna untukmu, namun aku yakin cinta lah yang akan membuat kita menjadi sempurna, dimata kita sendiri. Cinta itu sederhana, hanya AKU dan KAMU, maka itulah cinta. Aku itu kamu, kamu itu aku. Aku ngrasain apa yang kamu rasain dan kamu rasain juga apa yang lg aku rasain. Sangat indah kedengarannya. Namun ternyata cinta tak sesimpel itu, tak sesederhana itu, dan tak semudah itu, namun juga tak serumit yang dibayangkan. Ada kalanya aku merasa menjadi orang asing buat kamu, ada kalanya aku menjadi orang terjauh buat kamu, ada kalanya aku merasa tak bisa melakukan apapun buat kamu, ada kalanya aku sama sekali tak tahu apa mau dan ada kalanya aku tak slalu bisa memahami kamu, walaupun judulnya tetap aku sayang kamu..aku sayang kamu, dan aku sayang kamu.

Terkadang aku bingung aku harus bagaimana, aku hanya ingin melakukan yang terbaik buat kamu, walau kadang akhirnya menjadi tak baik. Aku berusaha terus menyayangmu, menerimamu di situasi apapun.. bagaimanapun kondisinya, aku mencoba untuk tak mengeluh, untuk tak menuntutmu lebih. Aku slalu berfikir aku takut menambah beban pikiran kamu, aku takut membuatmu menjadi tambah frustasi ketika aku sedang tak bisa menjaga dan mengendalikan sikap. Setiap ku tanya apa aku menambah beban buat kamu, kamu slalu jawab tidak. Aku takut sikap-sikapku justru malah semakin menekanmu, walaupun aku hanya berniat ingin membuatmu bangkit, semangat, tapi mungkin caraku salah. Lantas? aku harus bagaimana lagi? Saat kamu down, aku bingung. Aku tau, perasaan kamu sangat sensitif. Mungkin memang aku belum cukup dewasa menghadapi kamu. Kamu yang sangat dingin, kaku, dan tiba-tiba aku seperti tak mengenalmu. Kadang aku pun tak mengerti ketika tiba-tiba emosimu meninggi, ucapanmu tak mencerminkan kedewasaan dari sosok kamu. Aku mengerti atas apa yang kamu rasakan, aku mengerti atas semua beban fikiranmu, tekanan kehidupan yang ada, tuntutan sebagai seorang pria.

Aku rela menjadi pelampiasan atas kekesalanmu, atas kelelahanmu, atas segala kerisauanmu, tapi jangan sok belaga baik-baik saja didepanku tapi sebenarnya tak terima atas semua sikapku. Semua sikapku ke kamu pun bukan tanpa alasan. Aku sayang kamu, aku cuma ingin kamu terus berjuang , setidaknya untuk diri kamu sendiri. Setidaknya aku bisa bangga menjadi orang terdekat kamu, aku sama sekali tak bermaksud menghakimi, mengharuskan, menuntut, menekan, atau apalah.. Aku hanya berharap, bahkan sangat berharap kamulah yang terbaik buat aku. Materi bukan hal yang utama buat aku, tapi aku juga ga akan munafik bahwa orang hidup itu butuh yang namanya materi. Tapi yang terpenting buat aku cuma kesungguhan kamu sayangi aku, kesungguhan kamu berusaha buktiin sayang kamu ke aku. Seandainya aku boleh dan bebas memilih, aku siap saat ini juga dampingin hidup kamu, suka dan duka kita hadapi berdua.. Tapi situasinya tak sesederhana itu, tak semudah itu, aku dan kamu hidup diantara masyarakat, aku dan kamu masih punya keluarga yang turut menentukan pilihan. Kamu pilih aku, banyak sekali konsekuensi-konsekuensi yang harus kamu terima, banyak sekali tuntutan-tuntutan yang harus kamu penuhi (walaupun bukan aku yang menuntut). Dari awal, aku slalu warning kamu, apa kamu yakin pilih aku?

Aku sayang kamu, aku cuma mau kamu yang sanggup bahagiain aku, jangan buat aku tak nyaman berada di dekatmu .. 
kita harus tetap berjuang yaaa, smoga kita memang berjodoh, dimudahkan dan dilancarkan jalan untuk menggapai ridhoNya ..
aku tunggu kamu yaa ,,

Minggu, 23 September 2012

Kejamnya Mereka!!

Hukum masyarakat memang sangat kejam. Hukum tidak tertulis ini tidak hanya berefek secara fisik namun juga secara psikologis dan moral. Bayangkan saja, jika seseorang sudah di cap jelek oleh masyarakat, maka akan selamanya demikian. Masyarakat menilai tanpa peduli apa yang sebenarnya terjadi. Yang terlihat itulah yang dinilai.

Hai kawan, tau ga cap "pengangguran" itu sungguh menyakitkan. Itulah yang kualami. Jadi teringat kata temanku "menjadi tua itu pasti, tapi menjadi sarjana itu SUSAH!!" Susah dan serba salah tepatnya. Sudah 6 bulan sejak kelulusanku, aku menganggur belum mendapat kerjaan. Entah memang nasib yang belum berpihak atau aku yang terlalu bodoh.

Pandangan masyarakat, sarjana adalah sebuah status sosial yang cukup wah. Mereka beranggapan bahwa sarjana akan mudah mendapatkan kerja yang enak di kantor, akan mudah mendapatkan uang banyak dan bisa hidup makmur. Waw!! ternyata ga seperti itu kenyataannya.

Ketika ku wisuda, semua orang yang mengenalku tersenyum bangga dan mengacungkan jempol. Ku sadar itu cuma sesaat. Semua itu berubah setelah beberapa bulan statusku ga jelas. Sudah puluhan lamaran ku kirim baik lewat pos, email, maupun diantar langsung. Belasan  panggilan dan balasan juga sudah diterima. Namun semuanya belum membuahkan hasil. Lama-lama cukup frustasi juga hidup luntang-lantung ga jelas.

Dalam kondisi seperti ini, emosi semakin sensitif terutama kepada hal-hal yang berkaitan dengan masa depan, pekerjaan, penghasilan, status, usia. Di awal kelulusan orang tua dan orang terdekat menyuruhku untuk cepat mencari kerja. Kemudian setelah sekian lama mulai menasehatiku agar jangan terlalu milih-milih dalam mencari kerja. "Kerja apa aja dulu yang penting halal. Barangkali rejeki kamu dimulai dari situ. Lakoni dulu". Tetapi ternyata pandangan masyarakat ga sesimpel itu. Ketika ada orang yang bekerja sebagai kuli, pedagang asongan, tukang ojek, atau sales itu dipandang sinis. Apalagi dengan status pendidikan seorang sarjana, tentu pekerjaan itu dianggap "nista" dan rendah.

Paling menyakitkan ketika dikatai orang "makanya kerja ya jangan nganggur aja!", "makanya cari kerja yaa..", "kerja ya, biar punya duit!", "sarjana kok nganggur aja?", "wani piroo?", "punya modal atau jaminan apa? berani-beraninya....", "nganggur ajaaa..gayanya..", "modal yaa...maunya gratisan aja.."...bla bla bla blaaa.......

Semua kata itu seperti menusuk tepat di jantungku. Jlebbb..!! sesek napas, emosi, marah, pengen nangis, dendam, benci,,semuanya berkumpul jadi satu.. fiuuhh.... ingin ku hajar muka orang yang ngomong gitu.
Kamu kira nyari kerja gampang?? kamu kira dapet duit tuh gampang? kamu kira sarjana tuh gampang dapet kerja enak??? kamu kira aku ga usaha nyari kerja? kamu kira aku ga malu nganggur terus?? kamu kira aku ga ngerasa beban kalo ga punya duit?? kamu kira aku mau ngutang terus??? kamu kira aku mau gini teruusss haahhh???? Enggak..!!! Mana ada orang yang mau susah. Tapi hidup seperti ini ternyata bukan pilihan. Paling juga orang cuma bisa nasehati "sabaarr...mungkin belum rejekinya...mungkin besok ada rejeki yang lebih baik buat kamu". Adeeemmm banget kata-katanya, tapi selang beberapa waktu, beberapa hari kemudian, kata-kata sindiran tadi dilontarkan lagi. Sakit! Semoga kalian ga merasakan seperti ini.

Aku bisa kerja apa aja yang penting halal dan dapat penghasilan walaupun sedikit. Tapi apa kamu-kamu semua bisa terima?? Apa masyarakat ga memandang sebelah mata?
"sarjana kok jadi sales gitu",
"kerja kok jadi kuli, tukang becak?"
"sarjana kok kerjanya jadi pedagang kaki lima?",
"sarjana kok cuma bisa jadi buruh kasar??"
"ngapain cape-cape kuliah kalo cuma kerja gitu?".
"Mau makan apa besok kalo kamu cuma kerja jadi sales?? mau di kasih makan apa anak-anakmu nanti kalo kamu cuma kerja jadi kuli atau pedagang kaki lima?"
Laknat!! Kenapa semua diukur dari materi, duit, jabatan???

Sekuntum Doa dan Bunga Untuk Para Pahlawan Nasib

Hukum masyarakat yang kejam itu ga pandang bulu, kawan. Beruntung aku masih punya sedikit iman yang tersisa yang membuatku bertahan dan ga berbuat di luar batas. Tidak sedikit orang di luar sana yang frustasi akhirnya memutuskan untuk berprofesi jadi maling ayam, copet, bahkan ga sedikit juga yang lebih memilih  mengakhiri hidupnya karena tekanan batin. Ga sedikit juga dari mereka yang tertangkap dan akhirnya dihakimi warga sampai babak belur bahkan tewas. Tragis kan kawan??

Tau ga kawan kalau para "sampah masyarakat" itu sebenarnya ga mau bernasib seperti itu. Kalau ga percaya coba saja tanya ke mereka. Pasti mereka bilang ga mau kerja jadi copet, kerja jadi maling ayam, kerja jadi rampok atau mengemis. Semua salah tetangga-tetangganya! semua salah keluarganya! semua salah orang-orang terdekatnya! semua salah masyarakat yang menghukumnya!! ingat itu kawan kalau mereka ga sepenuhnya salah, bahkan menurutku mereka ga salah. Karena susahnya dapet kerja, susahnya dapet uang banyak dengan ditambah tekanan keluarga dan masyarakat serta karena perutnya yang perih karena lapar akhirnya mereka maling, akhirnya mereka nyopet, ngrampok, ngemis, ngamen. Tapi siapa yang mau peduli? siapa yang mau menghargai? Mungkin mereka ga menemukan cara dan jalan lagi. Mungkin pikirannya sudah buntu, mungkin masyarakat sudah tidak peduli lagi kawan.

Apakah salah kawan ketika kita ingin bertahan hidup?? Karena ga tahan lapar dan cibiran orang akibat jadi pengangguran, lantas mereka berbuat nekat, lalu tertangkap dan dihakimi warga dan dicap "sampah masyarakat, penyakit masyarakat". Itulah kawan akibat penilaian dan hukum masyarakat yang kejam dan ga mau peduli permasalahannya, ga mau peduli siapa dan mengapa.

Nyatanya masyarakat lebih memandang hormat pada pejabat korup ketimbang pemulung. Lebih hormat dan takjub pada pejabat berdasi namun amoral ketimbang sales alat-alat rumah tangga yang baru mengetuk pintu saja sudah diusir. Masyarakat lebih mengagumi artis bejat ketimbang pengamen jalanan yang dekil dan kumal. Artis bejat akan mudah dimaafkan ketika mereka dengan tampang akting memelasnya meminta maaf kepada pemirsa dan para fans. Tapi label maling akan tetap melekat sampai akhir hayat meski orang itu baru sekali maling dan telah insaf. Tahukah kawan mereka yang berdasi itu kerja enak karena orang tua-orang tua mereka yang memberi kerjaan, karena keluarga mereka memang keluarga kaya dan kalangan pejabat yang dengan mudahnya masuk instansi atau perusahaan besar tanpa jelas kerjanya. Tahukah kawan para pejabat itu duduk karena menjual penderitaan rakyat, menjual kemiskinan?? Bulshit kerjaan yang penting halal. Omong kosong dengan kejujuran dan moral bersih ketimbang kaya tapi dari hasil korupsi.

Kawan, mari kita angkat topi buat pejuang hidup yang tak kenal lelah seperti para pemulung, pedagang asongan, pengamen, dkk. Mari kita kirim sekuntum bunga dan doa buat para pahlawan nasib yang gugur akibat diamuk massa karena maling ayam atau mencopet dompet demi hidupnya, demi perutnya, demi anak istrinya yang kelaparan di rumah, demi membayar tagihan kontrakan semi sebuah kata "berjuang hidup" ketimbang bunuh diri. Semoga kalian diampuni dan dimaklumi oleh Dzat yang Maha Pengampun.

Duh Gusti mugi-mugi abdi dipun paringi rizki ingkang halal, ingkang barokah, lan manfaat dunya akherat. Mugi abdi dipun paringi iman ingkang kuat, diparingi dalan supados enggal hadir saking pitulung Panjenengan. Kun ngadikane Allah, Fayakun ngadikane Kanjeng Nabi Muhammad SAW.


Jumat, 15 Juni 2012

Cuma Ingin Pencarian Ini Berakhir

Malam semakin larut, bahkan sebentar lagi akan berganti pagi. Namun entah mengapa dan tumben-tumbennya mata saya enggan terpejam. Mungkin gara-gara terlalu bukan terlalu sih, tapi sok sibuk mengerjakan tugas. Walaupun sebenarnya bukan tugas yang berat, hanya mengirimkan email tugas tentang artikel yang sudah jadi kepada salah seorang teman, kemudian menyimpannya sendiri untuk di print out. Sebenarnya sekitar pukul setengah sembilan malam tugas itu sudah selesai, hanya saja ada beberapa orang teman meminta bantuan, hal teknis sih, hanya sedikit. Saya sendirian awalnya, menghadap laptop disambi smsan dengan seseorang yang spesial dalam hidup saya (lebay sedikit tak apalah). Kebetulan saya sedang menginginkan perhatian lebih sebenarnya, namun mungkin si mas yang disana sedang capek, sudah berpamitan untuk tidur duluan, masih sekitar pukul sembilan malam, jadi ya sudahlah, tak masalah. Tak lama kemudian, dua orang teman saya menghampiri, mendiskusikan masalah tugas dengan santai. Disambi saling membantu mengerjakan dan memperbaiki tugas tak terasa pula ternyata jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Badan memang terasa capek setelah seharian jadwal kuliah padat hingga waktu maghrib. Namun mata belum bisa dipejamkan.

Ketika tugas sudah beres, yaaa.. anggap saja beres, karena sudah malam juga teman-teman saya bergegas meninggalkan kamar saya untuk beristirahat di kamar masing-masing. Tinggalah saya sendiri, mendadak sepi. Saya ingat sesuatu, ya..malam ini malam menuju tanggal 15, hhmmm...ada apa sih dengan tanggal 15? ada kah sesuatu yang berarti di tanggal itu? Mungkin biasa saja bagi orang lain, namun tidak bagi saya. Mata semakin tak bisa terpejam, ingin melewati tengah malam dan memberikan ucapan selamat atas hari jadi saya dan 'mas wibiono' ku tersayang. Tepat satu tahun lebih empat bulan kita merajut kisah, bukan hal yang mudah melewati semuanya. Saya pun berhasil memberikan ucapan selamat padanya, walaupun hanya sekedar lewat sms, dan tanpa balasan. Mungkin dia memang sedang sangat lelah, mungkin juga dia lupa. Tak apalah saya habiskan malam ini sendiri.

Dalam sepi dan heningnya suasana malam, tiba-tiba kisah itu muncul dipikiran saya. Runtut slide demi side tertata rapih menampakkan kisahnya sendiri. Saya merasa bahagia ada dihati nya, saya bahagia merasakan kasih sayang dan cintanya, saya merasa menjadi wanita yang beruntung ketika bisa berada didekat nya dengan perasaan nyaman, seolah tak sanggup jika harus jauh. Rasanya separuh hidup saya telah ada dalam dirinya. Entah mengapa saya bisa merasakan hal sedahsyat itu. Terdengar belebihan mungkin, tapi memang seperti itulah yang saya rasakan.

Kadang saya juga merasa pesimis dengan hubungan ini, dengan kontrasnya sifat-sifat saya dan dia, dengan situasi dan kondisi sekitar. Tapi saya ingin dia yang terakhir, terakhir dalam hidup saya. Tak ada orang lain lagi. Saya hanya inginkan dia yang bahagiakan saya dan keturunan saya kelak. Salahkah saya jika saya berharap lebih padanya? Salahkah saya jika dia saya jadikan harapan bagi masa depan saya? Salahkah saya ketika perasaan sayang ini muncul dengan sangat besar? Saya takut harapan dan mimpi-mimpi saya justru menambah beban pikirannya yang sudah berat. Saya takut sifat-sifat saya memberatkan dan membuat dia semakin tertekan. Padahal yang saya inginkan adalah mendorong dan memotivasinya agar selalu bersemangat meraih segalanya, termasuk dapat meraih 'saya'.

Maaf Tuhan, kadang saya juga berfikir, jika Kau tak izinkan saya dan dia bersatu mengapa Engkau pertemukan kami? mengapa Engkau limpahkan perasaan sayang yang begitu dahsyat ini kepada kami berdua? Perasaan ini adalah anugerah indah yang telah Engkau titipkan kepada kami berdua. Tolong jaga perasaan kami Tuhan, mudahkanlah jalan kami untuk mencapai sebuah kebahagiaan, untuk menjemput saat-saat paling bahagia dalalm hidup, untuk menuju hubungan yang lebih di Ridhoi..

Saya butuh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam hati yang selama ini cukup menimbulkan kerisauan, kegundahan, dan keresahan dalam hati saya.. Mungkin semua akan terjawab seiring berjalannnya waktu. Hanya perlu sedikit saja bersabar ..


selamat pagiii .. tak terasa sudah pukul setengah tiga pagi, ayam pun sudah ada yang mulai berkokok. oke, mencoba memejamkan mata barang sejenak ...

Jumat, 06 April 2012

Sebuah Catatan Tempo Dulu

Catatan yang ku tulis pada tanggal 9 Desember 2011
(pada saat itu entah mengapa aku teringat sosok mamah dan merasa takut jika harus jauh dari mamah)

Kini dunia mulai menghimpitku. Semua yang ku lihat acuh padaku, seolah tak mempedulikanku yang berjalan di hadapnya. Yang sebelumnya ku lihat ramah pada ku, kini tak lagi mengenalku. Apakah mereka amnesia, atau apa yang ku alami selma ini bersama mereka hanya dalam hayalanku saja?
Aahh... Sekarang sulit aku membedakan mana yang nyata dan mana yang maya.

Suatu ketika yang ku alami itu mimpi, namun ternyata itu nyata. Dan kadang yang ku rasa itu nyata, namun ternyta hanya mimpi. Apa batas dan beda antara nyata dan tidak? Ku harap yang ku alami kini hanya mimpi dan ketika ku buka mata ku dapati semua indah tersenyum padaku. Tak lagi acuh, namun ramah.

Tapi kini yang masih ku rasa dunia menghinaku, mengacuhkanku. Pepohonan, ranting, dedaunan, rumput, angin, tiang-tiang lampu jalan, kendaraan-kendaraan yang lalu lalang, aspal dan tanah yang ku pijak sulit ku ajak bercengkrama..
Hey ada apakah ini? Bukankah kalian sebelumnya bisa bicara? Kenapa diam? Bahkan senyum pun enggan. Apa gerangan yang buatmu demikian?
Ayolah kawan kita kembali bersenda gurau melewati hari-hari yang kadang menyebalkan. Kalian pun mrasakannya bukan?
 Aahh... kenapa kehidupan ini begitu kejam? Semakin ku mengerti hidup, semakin ku rasa itu menakutkan. Tak seperti balita-balita yang tertawa dan menangis tanpa mengerti apa itu kehidupan. Aku rindu masa-masa itu mamah. Rindu kau usap dan engkau tenangkanku ketika ku menangis hingga kau berhasil tenangkanku. Engkau cium ketika ku sedih dan gembira. Aku rindu itu.

Kini, aku merasa berat menjalani masa depan yang tak pernah ku tau. Ajari aku untuk bisa tenangkan diriku seperti waktu aku kecil. Ajari aku untuk bisa tersenyum kembali seperti ketika ku jatuh waktu kecil.
Waktu kecil, kau mampu membuatku tersenyum dan tertawa kembli ketika ku jatuh, walau sakit. Kini aku tak mengerti bagaimana caranya aku bisa tenang, tersenyum ketika ku takut, ketika ku sakit. Ajari aku mamah, ajari tentang menghadapi hidup yang kejam.

Engkaulah pahlawanku yang selalu membelaku, taj peduli aku benar atau salah. Kau tinggikan aku, kau banggakan aku. Aku ingat kata-katamu ketika aku takut atau ketka aku terjatuh.
"anak mamah harus kuat, ga boleh nangis".

Aku butuh kata-kata itu dari mulutmu ketika kini aku takut menghadapi masa depan ku.
Dulu kau tuntun aku ketika ku mulai belajar berjalan, kau ajak ngobrol aku ketika aku ngoceh sendirian. Aku tau kau pun tak mengerti apa yang ku ucapkan waktu itu, tapi kau seolah mengerti.
Kini ku harus merangkak dan berjalan sendri melangkahkan kakiku dalam hamparan kehidupan ini. Aku tau kau percaya kalau aku mampu seperti halnya kau percaya ketika ku belajar berjalan waktu bayi.
Mamah, anakmu bingung, anakmu takut layaknya pecundang dan pengecut. Anakmu takut tak bisa membahagiakan dirinya, apalagi membahagiakan dirimu.
Mamah, aku ingin dengar bisikanmu di telingaku
"kamu kuat, kamu anak mamah pasti bisa".

Mamah, lihatlah kini semua seolah memusuhiku. Enggan untuk ku ajak bicara. Tidak seperti mu yang mengajakku bicara walau kau tak mengerti bahasa ku waktu bayi. Kau ajak ku bicara dan tersenyum yang membuat ku ikut tersenyum dan tertawa melihat tingkah dan ucapanmu yang tak ku mengerti. Tapi kau ajarkan pada ku bahasa cinta dan kasih sayang. Bahasa yang di pahami semua manusia dan semua umur. Bahkan di pahami oleh seluruh alam. Tapi lihatlah mereka yang kini acuh. Bahkan kini umat manusia tak lagi mengerti bahasa cinta, tapi menggunakan bahasa keserakahan. Siapa yaang kuat itulah yang menang tidak bicara siapa yang lemah harus di kuatkan.

Kehidupan yang ku pahami kini tidak seperti yang kau ajarkan dulu mamah. Aku bingung apakah kau yang salah mengajarkan atau dunia yang kini telah berubah?  Anakmu terlalu durhaka untuk meminta uluran tanganmu, untuk meminta peluk cium mu.. Aku malu..

Engkau memang pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang keras agar anakmu tak repot menjalani hari-harinya. Pahlwan yang selalu membela atas nama cinta.  Ajari aku untuk mengajarkan cinta pada dunia ini agar tak lagi ada kekacauan.

*di tengah kegundahan ku, ku persembahkan utk mu mamah.
Selamat hari ibu (walau masih lama)
9 Desember 2011

Kamis, 05 April 2012

Selamat Jalan Mamah (2)

Jum'at, 9 Maret 2012

Pagi itu mamah minta pulang aja. Aku bilang nanti nunggu papah, karena pagi-pagi papah pulang untuk berangkat ke kantor. Dokter memeriksa sekitar jam 8. Dokter menyarankan untuk dirujuk ke Bandung saja, karena di sini angkat tangan. 

Sekitar jam 10an papah datang dan meminta pendapatku tentang mamah. Papah juga meminta pendapat mamah mau dibawa ke bandung atau tidak. Tapi mamah geleng kepala. Mamah minta pulang saja. Aku pun begitu. Ngapain juga dibawa ke bandung. Mending di rumah, atau di sini aja. Biar bisa dapet infus supaya ga lemes. 
Saat papah datang, papah bilang

"mah, kenal ga ini siapa?" sambil menunjuk dadanya sendiri.
"papah, hehe.."
"kirain ga kenal"

Papah pun kembali ke kantor untuk meminjam mobil untuk bawa pulang mamah dan meminta pendapat teman-teman kerjanya. 

Kembali mamah meminta pulang dan menanyakan papah. Aku bilang nanti saja pulangnya nunggu papah, mungkin habis jum'atan. 

"eh belum bedug tah? kirain tuh udah bedug. mamah mau pulang aja lah. Cape di sini terus. mau istirahat. Mamah tuh pengen tidur yang nyenyak, jangan sampe ada yang ganggu tuh. duh, masih lama ya bedugnya?" kata mamah.

"belum mah. ini baru juga jam 9 pagi. Nanti aja pulangnya, nunggu papah dateng."
"kalau mau tidur, sini di pangkuan wibi. Nyandar di Wibi aja"

"Duh, masih lama ya bedugnya wib?, cape ah"

Sekitar jam setengah 10an mamah mau kencing. Ga seperti biasanya, kali ini mamah minta kencing di WC. Aku sarankan untuk kencing di kasur aja pake pispot, tapi mamah menolak. Akhirnya aku setengah bopong mamah ke WC dengan susah payah dan dibantu Nok dan tante Neneng. Begitu sulitnya mamah untuk kencing di WC dengan kondisi kesakitan seperti itu, membuat kamiu pun bingung setengah mati. Empat orang berada dalam 1 WC. Keningku bercucuran keringat dingin waktu menahan berat badan mamah yang lemah untuk jongkok. Yang bikin sulit adalah aku hanya bisa memegangi bagian tubuh mamah sebelah kanan saja, karena sebelah kirinya ada luka bekas jaitan. Kami kewalahan, dan mamahpun menjerit-jerit kesakitan. 

Setelah selesai tinggal kami mengangkat mamah dan membawanya kembali ke kasur. Perjalanan yang hanya beberapa meter saja serasa jauh dan membuat kami kepayahan.

Sejak saat itulah mamah merintih kesakitan. Mamah minta tiduran, tapi yang ada malah tambah kesakitan dan sesak napas. Aku pun mengangkat mamah untuk duduk dan membiarkannya bersandar di tubuhku. Mulailah mamah agak tenang. Tapi entah kenapa mamah kembali sekarat sekitar jam 11. Kebetulan saat itu banyak saudara-saudara mamah yang datang. Beberapa diantara mereka meneteskan air mata menyaksikan rintihan dan sekaratnya mamah. 

Hari itu aku tidak solat Jum'at. Aku lebih memilih berada di samping mamah. Karena yang ada di situ perempuan semua yang tidak mungkin dan tidak mengerti cara merawat mamah. Terlebih lagi kalau mamah kencing atau buang air besar. Aku putuskan untuk tidak solat Jum'at. Semoga Allah mengampuni. 

Setelah selesai solat Jum'at dan papah datang, kondisi mamah semakin menghawatirkan. Mamah seperti sakaratul maut. Sebelumnya mamah memanggil semua anak-anaknya. Papah pun akhirnay menelpon Budi untuk segera pulang ke Cirebon siang itu juga, karena Budi baru saja seminggu yang lalu berangkat kuliah setelah sebulan liburan. 
Ketika Purnomo, Widia datang, mamah tidak mengenali. Hampir semua yang ada di situ menangis, mungkin cuma aku yang ga nangis. Aku hanya senyum memandangi wajah teduh mamah yang sedang merintih. Entah kenapa aku merasa itulah hari terakhir aku bisa melihat wajah mamah. Aku bisikan di telinga mamah bacaan syahadat.

"mah, mamah masih dengar suara wibi kan? Kalo masih dengar, ikuti suara wibi ya?"
"mmmhh...iaaa", jawab mamah sambil merintih dan mata terpejam.
"asyhadualaa ila ha ilallah....wa'asyhaduana muhammadurosulullah...." ucapku pelan di telinganya.
"awhhh ahh ahhh...ihh aahhh aaahhh...iihh awhhh ahhhh..... mmmmhhh..." dengan suara yang samar-samar tak jelas, mamah mengikuti ucapanku. Aku cium keningnya sambil ku bacakan salawat.
"Mah, maafin salah wibi ya. Wibi belum bisa jadi anak yang baik, belum bisa nyenengin mamah. Wibi selalu bikin susah mamah dari kecil sampe gede gini. Ampunin wibi mah."

Setelah itu mamah sekarat tak karuan lagi, selang infus dan selang oksigen pun dilepasnya. darah dari infus pun berceceran membasahi selendangnya. Aku suruh Nok untuk memanggil perawat agar memasangkan kembali infusnya. Saat aku tenangkan mamah, mamah melihat tangannya yang berlumuran darah,

"ih ini darah ya? tuh berdarah ya...ga papa laah..mmhhh...aahh.."

Aku baringkan mamah seenak mungkin agar tidak terlalu sesak napas. Aku ganjal kepala mamah dengan tumpukan-tumpukan bantal agar posisi kepala agak mengangkat, karena mamah udah tidak bisa dibawa duduk. Mulai saat itulah mamah sakaratul maut. Aku tak henti-hentinya membisikan kalimat tauhid di telinga mamah. Aku bacakan syahadat, tahlil, istigfar, agar mamah terus mengingat Allah. Di samping mamah, nok pun membacakan yasin.

Selama sakaratul maut aku tak beranjak dari samping mamah dan terus membisikan kalimat Allah ditelinganya. 

"mah, ayo jangan berhenti nyebut Allah. baca syahadat mah. Jangan sia-siain akhir hidup mamah. Kalau susah, cukup baca Allah..allah..allah..."
"awaaahhh awaahh.... aaahhh, ada setan!!" racau mamah.
"ayo mah, makanya terus sebut allah. jangan dengerin setan". "audzubillahi kalimati minsyarimaa kholaq" ku usap muka mamah.

Saat kondisi mamah seperti itu aku sms ke Wa Elang untuk mengabarkan kondisi mamah. Wa Elang menyuruh papah untuk menelponnya. Akhirnya papah menelpon wa elang. Papah disuruh membacakan doa ke dalam segelas air, dan air itu diminumkan ke mamah. Katanya supaya jalannya dimudahkan.

Selama beberapa jam mamah sakaratul maut dan hanya ucapan Allah yang terdengar samar dari mulut mamah. Aku bisikan pelan di telinga mamah:

"mah, kalau mamah mau pergi, silahkan. Kita di sini udah ikhlas ko. Silahkan mamah pergi dengan tenang, apa lagi yang di beratkan mamah?"

Aku pegang dari kaki hingga kepala mamah. Hanya tinggal kepala saja yang masih hangat, selebihnya sudah dingin. Aku teringat ucapan mamah yang ingin pulang setelah bedug, tapi bedug apa?? Bedug duhur sudah lewat dari tadi. Sekarang sudah jam 2 dan hampir ashar. Aku pun teringat ucapan papah tadi. 

"mamah tinggal nunggu hari baiknya, mungkin nunggu hari lahirnya, hari sabtu"


Wah, kalau hari Sabtu masih lama donk pikirku. Masih harus melewati 1 malam lagi. Kasihan mamah kalo gitu. Tapi kata papah kalau sudah sore itu sudah ikutnya hari sabtu. Aku langsung berpikir apa mungkin yang dimaksud tuh bedug ashar??


Tak henti-hentinya aku membisikan mamah kalimat-kalimat allah supaya mamah jangan sampai berhenti berucap, meski dalam hati karena mulut sudah sulit untuk mengucapkan secara jelas. Hanya hembusan nafas saja yang bisa keluar diiringi suara menyebut "allah" secara samar.
Makin lama nafas mamah semakin melemah. Azan ashar pun berkumandang disertai mendung. Aku pun berbisik lagi di telinga mamah, karena sebagian kepala pun mulai dingin.

"mah ini sudah bedug mah, bedug ashar. Kalau mamah mau pulang, silahkan. Wibi ikhlas, semua yang ada di sini juga ikhlas. Apa yang mamah beratkan lagi? Pergi yang tenang ya mah. Maafin semua salah wibi dan semuanya, kita semua juga udah maafin salah mamah. Maaf kalo wibi banyak dosa ke mamah, wibi sayang sama mamah. Setelah ini, mamah ga akan ngerasain sakit lagi. Mamah bisa istirahat. Mamah ga bisa dateng wisudaan Wibi juga ga papa, yang penting mamah tenang di sana. Salam buat para malaikat yang jemput mamah, salam juga buat Gusti Allah."
"yaa ayatuhannafsul mutma'inah irji'i ila robbiki rodiatan mardiyah, fadkhuli fii ibadi fadkhuli jannah..."
"laa ilaa ha ilallah....muhammadurosulullah"


Setelah aku berucap itu, tepat ketika sayup-sayup suara azan berhenti, sekitar pukul 15.14 (jam di hp ku) mamah menarik nafas dalam dan sangat pelan, kemudian menghembuskan nafas terakhirnya disertai dengan turunnya hujan. Semoga ini pertanda baik, karena hujan adalah rahmat dari Allah. Alhamdulillah, mamah sudah pergi dengan tenang dan selamat.

Semua yang menyaksikan itu menangis, tak terkecuali papah yang meneteskan air mata. Tante neneng, nok, adi, widia, purnomo, tante nani, mba erna semuanya nangis. Uwa Sri yang datang terlambat pun sudah menangis duluan sejak di jalan menuju kamar mamah. Tapi entah mengapa aku tersenyum lega melihat mamah pergi. Sampai ada yang bilang kenapa aku tidak nangis, malah senyum-senyum? Aku senyum melihat mamah tak lagi menderita kesakitan, tak lagi menderita menahan kantuk yang amat sangat, tak lagi menderita lelah dan beban pikiran yang bertumpuk tentang dunia. Hari itu mamah akan bertemu dengan Sang Khaliq Pemilik kehidupan. Aku lega dan puas atas semua upaya papah untuk berjuang menyembuhkan mamah, walaupun akhirnya Allah berkehendak lain. Setidaknya semua ikhtiar sudah dicoba, semua syariatnya sudah dijalankan, yaitu terus berusaha dan berdoa.

Wajah mamah teduh dan terlihat cerah. Tidak seperti biasanya. Memang selama sakit wajah mamah aneh. Terkadang terlihat pucat, lesu, tetapi kadang juga terlihat cerah seperti tidak sakit. Air mataku tak keluar sama sekali. Aku kecup kening mamah sekali lagi.


Tidak seperti biasanya orang meninggal yang tubuhnya kaku, tubuh mamah sangat lemas. Tidak sulit untuk menyilangkan kedua tangan mamah di dada. 
Selamat jalan mamah, semoga engkau tenang di sana.

Setelah dokter dan perawat memeriksa, dokter memastikan mamah telah pergi. Aku disuruh papah untuk mengurus adminstrasi di Rumah Sakit dan membawa mamah pake mobil ambulan. Sementara saudara-saudara yang lain pulang duluan dengan papah pake mobil pinjeman. Aku dengan dibantu bapak-bapak dari keluarga pasien kamar sebelah menggotong mamah ke ranjang untuk kemudian di bawa ke tempat di mana ambulan menunggu.


Tinggallah aku duduk berdua dengan sopir ambulan. Aku memandang jauh ke depan, menembus derasnya hujan seolah memandang mamah yang sedang berjalan pergi menjauh menerobos lebatnya air hujan dan melambaikan tangan. Alam pun serasa menjadi melankolis dan dramatis dalam guyuran hujannya. Aku pun menghela nafas panjang.. fiiiuuuuhhh......


Mungkin inikah jawaban kegundahanku beberapa bulan yang lalu, ketika aku tiba-tiba teringat mamah dan seolah mamah akan pergi jauh?? padahal waktu itu mamah masih sehat-sehat saja. Aku pernah menulis note atau catatan kecil di fesbuk tentang mamah.
Mungkin inikah firasatku tempo hari, yang tiba-tiba aku ingin belajar memandikan jenazah dan kembali membuka buku tata cara solat jenazah??

Selamat jalan Mamah, meski engkau telah tiada dan jasadmu berkalang tanah, namun jiwamu ada di hati kami semua. Di hati papah dan anak-anakmu....



"di sebuah ruang sunyi beratapkan rindu"


Anakmu..

Kamis, 23 Februari 2012

jenguk si doi dan dapet kado

Kemarin, hari rabu, 22 februari aku nekat nylonong pergi ke rumah si putri centil di TMG. Udah sebulan lebih aku tidak berjumpa dengannya, dan saat ini dia tengah sakit cukup serius. Berbekal nekat dan kangen, aku beranikan diri untuk pergi ke rumahnya sendirian. bodo amat.

Cukup kesiangan juga aku berangkat. sekitar jam 11 siang aku berangkat dengan motor. sampai di rumahnya pas waktu ashar. hanya sekitar 2,5 jam aku maen ke rumahnya untuk kemudian sekitar jam 6 aku kembali pulang ke PWT.

Rupanya dia kaget ketika aku datang. Dia ga menyangka kalo aku bakal senekat itu. hahaa.... "demi kamu sayang..". Semoga dengan kamu bertemu denganku, itu akan mempercepat kesembuhanmu. Supaya kamu cepat ke PWT dan bersiap kuliah lagi, dan tentunya supaya kita bisa ketemu dan berpacaran lagi. heheee...

Oh iya, waktu itu aku dikasih bingkisan lho. Mau tau isinya?? mmmhhh....isinya foto aku berdua dengannya yang dipigura dan coklat silver queen. coklatnya manis kaya kamu sayang. ^,^
Aku cuma bisa ngasih surat cinta yang isinya gombalan-gombalan ga mutu. hehee...

Setelah sebulan lebih ga ketemu, rasanya pangling aku melihatnya. Dia terlihat lebih cantik dan putih. hihiii... Jatuh cinta lagi deh waktu dia senyum memandangku. Jatuh cinta lagi seperti ketika pertama melihatnya.

Sayaaaaaanng......mas sayang banget sama kamuuu.....
sayang cantik deh.. ^,^
^,^    :-*