Halaman

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Oktober 2013

Istimewanya wanita ~~

1. Allah anugerahkan wanita kekuatan, karna tangan, kaki dan hatinya ia pakai untuk memberikan yang terbaik bagi yang dikasihi
2. Allah ciptakan wanita sedemikian istimewanya. Kelembutan hati untuk memberikan kenyamanan, kekuatan hati untuk menguatkan yang lainnya
3. Wanita itu hampir bisa semua. Allah titipkan banyak kemampuan untuk mengendalikan, mengurusi dan memastikan semuanya berjalan baik
4. Senyum wanita itu kebahagiaan. Sedihnya masih tersisa ketulusan. Ia bisa tetap tersenyum meski harus berjuang terhadap hal ini itu..
5. Wanita banyak sabar memaafkan, karna Allah karuniakan kelembutan. Lembutnya seorang ibu, istri, kakak, dan sahabat semua orang
6. Selemahnya wanita ia kuat, sesedihnya wanita ia tegar. Air matanya adalah kekuatan dan impian baru :')
7. Allah Maha pengasih dan penyayang, IA berikan kasih dan sayang yang lebih untuk wanita, maka IA muliakan kita dengan kehendakNya
8. Wanita itu peka, bukan manja. Karna ia perlu tau sekecil-kecilnya yang terjadi, agar bisa memberikan yang terbaik di setiap keadaan..
9. wanita punya banyak kekuatan. Kekuatan menyayangi, empati, keikhlasan dan kesabaran. Cintanya menguatkan kekasih hatinya :)
10. Lihat wanita pada mata dan hatinya. Karna disanalah cintanya ada :)
11. Se istimewanya itu wanita, semoga Allah istimewakan setiap akhlak kita, agar bisa didampingi lelaki yang baik hatinya. aamiin :')

Mari Bersyukur :)

Sabtu, 22 Januari 2011

Berbincang tentang Cinta dan Konsep Keimanan

Berbincang tentang Cinta dan Konsep Keimanan

Oleh: Bambang Wibiono


Saya menulis tentang topik ini berawal dari pengalaman, penuturan atau kisah-kisah orang serta renungan terhadap pengalaman tentang percintaannya. Setelah dipikir, ternyata ada kesamaan antara konsep cinta sesama manusia dengan konsep keyakinan terhadap Tuhan. Meskipun konteks dimensi yang berbeda antara manusia (yang terbatas ruang dan waktu) dan Tuhan (yang tak terbatas ruang dan waktu), namun pada taraf tertentu dapat disamakan. Persoalan keyakinan dan juga cinta kasih adalah persoalan perasaan yang sulit diukur dengan ukuran kasat mata atau ukuran inderawi.


Ikrar sebagai Pernyataan tentang Perasaan

Dalam proses percintaan manusia atau dalam bahasa gaulnya adalah pacaran, sebenarnya mirip dengan proses keyakinan kita kepada Allah sebagai Tuhan kita. Soal cinta dan kasih sayang bukan persoalan ucapan lewat kata-kata semata. Misalnya ketika seseorang jatuh cinta pada lawan jenis, tentu akan mengungkapkannya lewat kata “aku cinta kamu”, “aku suka kamu”, atau “aku sayang kamu”. Pada dasarnya lafadz cinta itu sama halnya dengan lafadz syahadat ketika kita meyakini Allah Tuhan kita, yaitu “laa illa ha ilallah” (aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah). Pada taraf ini, kedua lafadz atau kalimat itu bisa disamakan kedudukannya sebagai pernyataan atau ikrar kita.


Persoalan sebenarnya adalah bukan pada lafadz atau ikrar yang diucapkan, tetapi ada pada hati dan perasaan kita seberapa jauh meyakininya. Cinta dan begitu juga dengan keyakinan tentang Ketuhanan tidak hanya bisa diukur dengan sebuah ikrar atau perkataan semata. Meskipun ikrar atau ucapan itu bisa dijadikan tolak ukur yang disaksikan orang lain sebagai tanda pernyataan kesaksian kita. Namun lebih dari itu, sesungguhnya keyakinan ada pada perasaan individu itu sendiri.


Lamanya proses jatuh cinta bisa bermacam-macam. Mungkin ada yang dalam waktu cepat seseorang merasakan cinta karena pengalaman batin atau spiritual tertentu yang akhirnya meyakinkan hatinya. Tetapi ada juga yang melalui proses dan pencarian yang cukup lama. Begitupun dengan keimanan. Ada yang sampai memerlukan hampir seluruh usianya untuk dapat meyakini keimanannya, namun ada juga yang dalam waktu singkat.


Persoalan perasaan ini tidak dapat dipaksakan pada seseorang. Semuanya harus berdasarkan kesadaran dan keyakinannya sendiri. Pada kasus lain, misalnya kita dapat memaksakan seseorang untuk meminum air yang kita berikan walaupun dia tidak mau. Namun jika cinta dan keyakinan berTuhan tidak bisa dipaksakan. Meskipun secara lisan kita bisa berucap cinta atau syahadat, namun itu belum bisa menjamin. Bisa saja kita seribu kali kita berikrar, namun jika tidak diyakini dalam hati dan perbuatan, sama saja bohong besar.


Pedekate

Pada tahap selanjutnya, ketika kita menyukai lawan jenis, tentu kita akan mencari tahu apa yang disukainya, apa yang tidak disukainya, kebiasaannya, dan lain sebagainya untuk dapat menarik perhatiannya. Begitu juga dengan keber-Tuhanan kita. Ketika kita sudah berikrar bahwa kita mengakui Allah Tuhan kita yang Esa, maka kita harus menjalankan semua yang diperintahkannya dan menjauhi apa yang tidak disukainya atau yg dilarangnya. Sebuah konsekuensi logis dari ini adalah bahwa syariat harus dijalankan oleh manusia yang telah menyatakan diri bertuhan kepada Allah yang Esa (beriman).


Semakin kita meyakini perasaan cinta kita, maka akan semakin berkorban untuk si “Dia”, betapapun beratnya dan rintangan yang ada akan diterjang. Misalkan ketika kita jatuh cinta pada seseorang, tentu hal yang akan dilakukan adalah mendekatinya dengan cara sering berkunjung ke rumahnya untuk menemui si doi, atau dalam bahasa gaulnya ngapel, mengajak jalan-jalan, makan bareng, sering berkomunikasi dan lain sebagainya yang akan membuat kedekatan hubungan. Begitu halnya dengan kecintaan kita kepada Allah. Untuk dapat menarik perhatian-Nya kepada kita, tentu kita harus menjalankan apa yang diperintahkannya, tidak hanya yang sifatnya fardu atau wajib, tetapi juga sebisa mungkin melaksanakan hal-hal yang disunahkan. Dengan cara ini maka Allah akan semakin memperhatikan karena kesungguhan kita.


Inrelationship (Berpacaran)

Pada tahap selanjutnya, ketika kita telah mendapatkan hati si doi, tentu dia akan menerima kita apa adanya. Karena cinta adalah soal perasaan di dalam hati, maka cinta akan menegasikan faktor inderawi atau yang berorientasi pada apa yang terlihat, seperti wujud fisik. Kata banyak orang, cinta itu buta dan tidak memakai mata, tetapi menggunakan hati.


Ketika dia telah menerima cinta kita, proses yang dilakukan pada saat pedekate masih dilakukan. Namun perbedaannya adalah, jika dulu kita harus benar-benar berkorban untuk si dia, sekarang beban kita sedikit lebih ringan. Karena dia pun akan menaruh perhatian pada kita. Kadang dia pun akan memberi tanpa kita harus memintanya. Jika pada awal selalu kita yang membayari makan dan jalan-jalan, sekarang dia siap berbagi bahkan bukan tidak mungkin kadang dia yang mentraktir kita.


Saat kita telah mendapatkan cinta Allah, maka apa yang kita inginkan tentu akan dikabulkannya. Bahkan tanpa kita meminta Dia akan memberinya, karena Dia mengetahui isi hati kita. Bahkan pada taraf tertentu, mungkin Allah akan mengampuni dan memaklumi kita ketika ada kewajiban kita yang lupa tidak dilaksanakan. Begitu juga dengan berpacaran. Saat kita lupa penuhi janji ngapel malam minggu, atau lupa untuk menelpon, lupa membalas sms, tentu si doi akan memaafkannya asal dengan alasan yang sungguh-sungguh.


Ma’rifatullah

Pada tahap yang lebih tinggi, proses-proses yang telah disebutkan tadi hampir tidak diperlukan lagi. Pada tahap ini kedua pihak sudah benar-benar satu hati. Apa yang dilakukan untuk pasangannya sudah tidak lagi mempertimbangkan untung rugi dan motif lainnya. Keduanya saling mengisi dan saling mendukung. Apa yang menjadi milik dia adalah milik kita juga, begitupun sebaliknya. Hubungan pada tahap ini adalah hubungan yang intim, dan sudah melalui jenjang pernikahan. Apa yang sebelumnya dilarang untuk dilakukan, menjadi diperbolehkan. Proses pedekate, ngapel, ngedate, sudah tidak diperlukan lagi, sebab mereka tinggal dalam satu atap dan segalanya menjadi tanggungjawab bersama dalam mengarungi kehidupan berkeluarga.


Dalam hubungan keTuhanan, ini sudah mencapai pada taraf ma’rifat atau bahkan insan kamil. Dalam bahasa sufi, manusia yang telah mencapai tingkatan ini akan manunggaling kawula gusti atau menyatunya “wujud” Tuhan dengan hambanya. Sehingga ada yang berpendapat bahwa ketika telah mencapai tahap ini, syariat tentang tata cara beribadah menjadi tidak penting untuk dilaksanakan. Semua yang dilakukannya dianggap sebagai kehendak atau perilaku Tuhan.


Satu hal yang perlu diperhatikan dalam semua proses yang telah disebutkan itu, adalah HINDARI PENGHIANATAN!! Ketika kita berikrar dan meyakininya dengan sepenuh hati bahwa tiada yang lain selain dia, maka kita tidak diperbolehkan mendua. Karena ini merupakan kesalahan terbesar dalam proses berhubungan, baik itu hablumminallah maupun hablum minannas. Tidak heran jika dalam kehidupan beragama, khususnya Islam, bahwa dosa terbesar adalah menyekutukan Allah atau dalam bahasa manusianya adalah mendua atau selingkuh, mengakui ada yang lain selain Dia. Tetapi mungkin, pada kondisi tertentu, karena kekhilafan kita, perbuatan ini bisa dimaafkan asalakan kita sungguh-sungguh bertobat dan kembali meng-Esakan Allah.


Itulah beberapa aspek persamaan yang bisa saya sampaikan terkait hubungan kita dengan manusia dan juga hubungan kita kepada Allah. Semua argumen yang disampaikan adalah sepenuhnya berdasarkan ijtihad penulis sendiri yang mungkin bersifat subjektif, dan masih kurang memahami ilmunya, sehingga masih menyisakan ruang dialektika bagi kita.

Wallahu’alam bissawab

Minggu, 18 Juli 2010

Ternyata Atlantis Itu di Indonesia


Cerita mengenai keberadaan Benua Atlantis hingga kini terus menjadi misteri sejak dideskripsikan filsuf Yunani, Plato, pada ribuan tahun lalu dalam dua dialognya, “Timaeus” dan “Critias”. Tak hanya Plato, penulis kuno klasik lainnya seperti Homer, Hesiod, Pindar, Orpheus, Appolonius, Theopompos, Ovid, Pliny si tua, Diodorus Siculus, Strabo, dan Aelian juga ikut meramaikan soal keberadaan Atlantis.

Kenyataan ini pada akhirnya memunculkan perdebatan tak kunjung usai di kalangan saintis klasik dan modern. Bahkan, masing-masing meletakkan Atlantis di tempat yang mereka yakini sesuai dengan hasil temuannya seperti Al-Andalus, Kreta, Santorini, Siprus, TimurTengah, Malta, Sardinia, Troya, Antartika, Australia, Kepulauan Azores, Tepi Karibia, Bolivia, Laut Hitam, Jnggris, Irlandia, Kepulauan Canary, Tan-jung Verde, Isla de la Juventud dekat Kuba, dan Meksiko.

Pandangan yang paling mutakhir mengenai Atlantis dan sangat mengejutkan kita datang dari seorang geolog dan fisikawan nuklir asal Brazil Prof Arysio Santos. Dia membantah tesis di atas dan meyakini bahwa Atlantis yang pernah digambarkan Plato sebagai sebuah negara makmur dengan kekayaan emas, batuan mulia, dan mother of all civilization dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, mpmiliki iarinean irieasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik. dan olahraga itu adalah Indonesia.

Kesimpulan Santos yang merujuk pada pandangan Plato bukan tanpa pertimbangan kuat. Selama 30 tahun ia melakukan studi dan penelitian. Selama itu pula hidupnya dipergunakan untuk mengungkap letak Atlantis yang sebenarnya. Hasil penelitiannya itu kemudian ia tulis dalam buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization. Untuk memperkuat argumentasinya, Santos juga merujuk pada tradisi-tradisi suci tentang mitos banjir besar yang melanda seluruh dunia.

Dalam buku ini, secara tegas Sa¬ntos menyatakan bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia. Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis. Mereka memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi. Itu terjadi sebagai hukuman dari Tuhan atas keseraka-han dan keangkuhannya.

Dengan menggunakan perangkat ilmu pengetahuan mutakhir seperti geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan comparative mythology, Santos juga mengungkap sebab-sebab hilangny Atlantis dari muka bumi. Dia pun membantah hipotesis yang menyatakan bahwa musnahnya Atlantis disebabkan tabrakan meteor raksasa yang disebabkan oleh komet dan asteroid. Menurut Santos, tabrakan di luar angkasa itu adalah order of magnitude yang lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan letusan gunung berapi. Hipotesis lain yang dibantah Santos adalah tesis yang mengatakan Atlantis musnah disebabkan pergeseran kutub dan memanasnya Antartika pada zaman es. Menurut Santos, fenomena seperti itu mustahil terjadi pada masa lalu jika dilihat dari sisi fisik dan geologisnya.

Musnahnya Atlantis, menurut Santos, lebih disebabkan banjir maha dahsyat yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan dunia, yang membinasakan 70 persen penduduk dunia termasuk di dalamnya binatang. Yang memegang peran penting dalam bencana tersebut adalah letusan Gunung Krakatau dan Gunung Toba, selain puluhan gunung berapi lainnya yang terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan.

Bencana alam beruntun itu, kata Santos, dimulai dengan ledakan dahsyat Gunung Krakatau, yang me-musnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaIdera besar, yaitu Selat Sunda, hingga memisahkan Pulau Sumatera dan Jawa. Letusan tersebut menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran rendah antara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, antara Jawa dan Kalimantan, serta antara Sumatera dan Kalimantan. Bencana besar itu disebut Santos sebagai “Heinrich Events”.

Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa fly-ash naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (zaman es pleistosen). Abu itu kemudian turun dan menutupi lapisan.es. Karena adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yarg diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di Kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.

Banjir akibat tsunami dan lelehan es itulah yang mengakibatkan air laut naik sekitar 130 hingga 150 meter di atas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam di bawah permukaan laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Tekanan air yang besar itu menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhimya zaman es pleistosen secara dramatis.

Terlepas dari benar atau tidaknya teori tersebut, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Santos sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang luar ke Indonesia. Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan. sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya, ini adalah suatu proses dari hukum alam tentang masa keemasan dan kemunduran suatu bangsa. (*)


Presensi : Mohamad Asrori Mulky
diambil dari http://hminews.com/buku/ternyata-atlantis-itu-di-indonesia/
Pernah dimuat di Indo Pos

Senin, 02 Juni 2008

Ketauhidan Sebagai Sistem Keyakinan dalam Islam
oleh: Bambang Wibiono

Setiap aktivitas dan gerak hidup manusia, didasari dengan sebuah keyakinan. Tanpa keyakinan, mustahil apa yang kita kerjakan akan sukses. Ambi saja contoh seseorang yang sedang mengikuti pertandingan olahraga. Orang yang merasa ragu akan kemampuannya saat bertanding, maka dapat dipastikan segala yang dilakukan tidak akan optimal dan dapat berakibat pada kekalahan. Begitu juga dengan keyakinan dalam beragama, khususnya bagi seorang muslim. Keyakinan terhadap keberadaan Tuhan beserta kekuasaannya menjadi landasan berpijak dalam segala aktivitasnya.
Dalam hal keyakinan, setidaknya ada 2 pandangan mengenai sistem keyakinan terhadap Tuhan di luar Islam. Pertama, sistem keyakinan yang obyeknya didasarkan pada sesuatu yang nyata. Namun secara filosofis, kebenaran ilmiah memiliki kelemahan karena tidak dapat menjelaskan sisi kehidupan yang berada di luar pengalaman inderawinya.
Kedua, sistem keyakinan yang didasarkan pada doktrin literal. Sistem ini mengingkari arti pentingnya akal sebagai sarana verifikasi kebenaran. Kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang sudah jadi secara sempurna dan harus diterima tanpa perlu menyadarinya terlebih dahulu. Sistem keyakinan ini sering terjai pada kebiasaan budaya yang diwarisi dan diyakini oleh nenek moyang kita.
Berbeda dengan Islam. Islam mengajarkan nilai ketauhidan. Tauhid merupakan konsepsi sistem keyakinan yang mengajarkan bahwa Allah SWT adalah zat Yang Maha Esa, sebagai sebab dari segala sebab rantai kausalitas. Tanpa adanya Allah, mustahil alam semesta ini terbentuk dengan sendirinya.
Manusia dibekali fitrah yaitu suatu potensi alamiah berupa akal sebagai bekal untuk mengenali dan memverifikasi kebenaran dan kesalahan secara sadar. Tauhid mengajarkan arti pentingnya akal sebagai alat menekati kebenaran mutlak. Selain itu, ajaran tauhid memberikan penjelasan berupa wahyu yang disampaikan melalui rosul, di mana Tuhan menyatakan dan menjelaskan diri-Nya kepada manusia. Wahyu ini bersifat universal yang disampaikan pada seluruhmanusia di setiap zaman.
Secara naluriah, setiap manusia percaya dan membutuhkan Tuhan, walaupun akalnya menolaknya. Itu mungin terjadi karena keterbatasan akal manusia. Hal ini dapat dibuktikan ketika kita mengalami kesulitan, merasa hina, merasa lemah tak berdaya, kita akan mengharapkan kekuatan Yang Maha Dahsyat untuk menolong kita dan tanpa sadar kita akan bedoa, dan memohon pada zat Yang Maha Kuasa, yang sebenarnya kita sendiri tidak pernah tahu keberadaannya, tetapi kita percaya akan keberadaannya.
Sebagai seorang muslim yang mendasarkan tindakannya pada ajaran tauhid, maka hidupnya akan terasa tenang dan selalu optimis karena percaya Allah Yang Maha Kuasa akan mengatur dan menolongnya.