Imajinasi tidak sama dengan mimpi. Imajinasi menciptakan energi untuk terus berharap, dan mewujudkan mimpi itu.!!
by: Ksatria Khayalan
Senin, 04 Oktober 2010
Berhentilah menjadi sebuah gelas
“Guru, belakanan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.
He.he.he.he..”Sang guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.” Si muridpun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
“Coba ambil segenggam garam itu dan masukan ke dalam segelas air,”kata sang guru. “Setelah itu coba kamu minim airnya sedikit.” Si muridpun melakukanya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.”Bagaimana rasanya?’ Tanya sang guru. “huuhh.. Asin dan perutku jadi mual,”jawab si murid dengan wajah masih meringis. Sang Guru hanya tersenyum melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
“Sekarang kamu ikut aku.”Sang guru pun membawanya ke danau di dekat mereka.”Ambil garam yang tersisa dan tebarkanlah ke danau.”Si murid menebarkan segenggam garam sisa tadi ke danau tanpa bicara apapun. Walaupun Rasa asin dimulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dimulutnya, tapi tak dilakukanya. Tak sopan rasanya meludah di hadapan mursyid.
“Sekarang coba kamu minum air danau itu,”kata sang guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat dipinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tanganya , mengambil air danau dan meminumnya. Ketika air dingin segar mengalir di tenggorokanya, sang Guru bertanya,”Bagimana rasanya?”
“mmmh..Segaar, segar sekali,”kata simurid sambil mengelap bibirnya. Tentu saja air danau ini berasal dari sumber mata air diatas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil dibawah. “Terasakah rasa garam yang kau taburkan?” tanya sang Guru. “Tidak sama sekali guru!,”kata si murid sambil mengambil air minumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum dan membiarkan muridnya mengambil minum sampai puas.
“Nak,”kata sang Guru setelah muridnya selesai minum.”Segala masalah dalam hidup ini hanya seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang kau hadapi dalam hidupmu itu sduah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap segitu-gitu aja tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia inipun demikian. Tidak ada satupun manusia,walau dia seorang nabi yang terbebas dari penderitaan dan masalah.”
Si murid terdiam mendengarkan.”Tapi Nak, Rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, Berhentilah Menjadi ‘Gelas’. Jadikan qalbu dalam dadamu itu sebesar ‘danau’.”
Terkadang masalah yang kecil menjadi besar tatkala hati kita sempit. Banyak sekali kita menyaksikan dalam perjalanan hidup kita ada orang saling bunuh hanya karena masalah yang kecil. Masalah yang kecil itu menjadi besar tatkala hatinya sempit.
Minggu, 01 Agustus 2010
Dialog Imam Abu Hanifah dengan orang Atheis (2)
Baghdad, sebuah kota pusat pemikiran Islam pada masa Kejayaan Islam sering menjadi tempat berkumpulnya para delegasi dari berbagai negeri. Tujuan kedatangan mereka ke kota Baghdad adalah untuk berdebat dengan ulama-ulama Islam mengenai Dzat Allah. Salah seorang ulama yang sering menjadi sasaran mereka adalah Syaikh Hammad, gurunya Imam Abu Hanifah. Dikisahkan bahwa ketika para delegasi itu sedang menunggu kedatangan Syaikh Hammad, tiba-tiba muncul Imam Abu Hanifah. Dia langsung memberi salam kepada para hadirin dan berkata,
“Syaikh Hammad tidak dapat hadir pada perkumpulan yang membahas permasalahan-permasalahan seperti ini. Beliau mewakilkan kepada muridnya yang terkecil yaitu Abu Hanifah Nu’man bin Tsabt untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian”.
Setelah itu, Abu hanifah duduk di tempatnya yang berada di tengah-tengah para hadirin. Tidak lama setelah ia duduk, para delegasi itu langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan.
“Tahun berapakah Tuhanmu dilahirkan?”, Tanya para delegasi.
Abu Hanifah menjawab, “Allah tidak dilahirkan, sebab jika dilahirkan berarti Dia memiliki kedua orang tua. Dia juga tidakberanak, sebab jika beranak berarti Dia memiliki anak” dan hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakan.” (Al-Ikhlas: 3, jawab Abu Hanifah.
“Tahun berapakah Tuhanmu ditemukan?”
“Allah ada sebelum adanya penanggalan, zaman dan waktu”
“kami minta kepadamu untuk menjawab dengan contoh-contoh dari realita kehidupan ini.”
“Bilangan berapakah sebelum empat?”
“Tiga”
“sebelum tiga?”
“dua”
“Sebelum dua?”
“satu”
“sebelum satu?”
“tidak ada lagi sebelumnya.”
“jika dalam ilmu hitung saja tidak ada angka atau bilangan sebelum angka satu, bagaimana dengan Satu Yang Hakiki yaitu Allah. Sesunguhnya Dia Maha terdahulu dan tidak ada permulaan bagi-Nya.”
“ke arah manakah Tuhanmu menghadap?” Tanya para delegasi lagi.
“Jika kalian meletakkan sebuah lampu di tempat yag gelap, maka menghadap ke arah manakah cahaya lampu itu?”
“menghadap ke semua arah”
“jika cahaya yang dibuat oleh manusia saja seperti itu, bagaimana dengan cahaya langit dan bumi?”
Beritahukan kepada kami tentang dzat Tuhanmu, apakah berupa zat cair seperti ari, zat padat seperti besi, atau zat gas seperti asap?”
“apakah kalian pernah duduk di samping orang sakit yang sedang menghadapi sakaratul maut?”
“Ya, kami pernah”
“apakah setelah mati dia berbicara kepadamu?”
“tidak”
“sebelum mati dia dapat berbicara. Tetapi setelah mati, tidak dapat berbicara. Demikian pula sebelum mati ia dapat bergerak. Tetapi setelah mati tidak dapat berbuat apa-apa. Lalu apa yang telah merubah kondisinya itu?”
“keluarnya ruh dari badannya itu”
“apakah ruhnya telah keluar?”
“Ya”
“berilah gambaran kepadaku tentang ruh tersebut. Apakah ia berupa zat padat, cair atau gas?”
“kami tidak mengetahuinya sama sekali”
“jika kalian tidak dapat memberikan gambaran tentang hakikat ruh padahal ruh itu termasuk mahluk Allah, lalu mengapa kalian meminta kepadaku untuk menggambarkan tentang Dzat Allah?”
“di tempat manakah Tuhanmu beraada?”, mereka bertanya lagi.
“jika kalian menyuguhkan segelas susu segar, apakah dalam susu tersebut terlihat ada minyak samin?”
“Ya”
“di bagian manakah minyak itu?”
“minyak itu tidak menempati tempat tertentu, tetapi ia tersebar di seluruh bagian susu tersebut”
“jika sesuatu yang diciptakan oleh manusia saja, yaitu minyak samin bisa tidak menempati suatu tempat tertentu, lalu mengapa kalian meminta kepadaku untuk mengatakan bahwa Allah berada di suatu tempa tertentu. Ini benar-benar merupakan suatu yang sangat aneh.”
Mereka masih bertanya lagi, “jika segala sesuatu telah ditakdirkan sebelum alam ini diciptakan, lalu apa yang diperbuat oleh Tuhanmu sekarang?”
“memperlihatkan segala sesuatu dan mengangkat derajat sebagian kaum serta merendahkan sebagian lainnya.”
“Jika masuk surga memiliki permulaan waktu, mengapa tidak ada akhir dan tiada ujungnya. Bahkan para penduduk surge akan kekal di dalamnya?”
“bukkankah bilangan ilmu hitung yang kita kenal sekarang ini memiliki permulaan tetapi tidak memiliki akhir?”
“di surga nanti, kita akan selalu makan, tetapi mengapa kita tidak pernah membuang air kecil maupun air besar?”
“saya dan kalian adalah mahluk Allah. Ketika dalam perut ibu kita selama 9 bulan, bukankah kita selalu makan melalui darah ibu kita tetapi tidak pernah membuang air sedikitpun baik air kecil atau air besar?” beliau balik bertanya.
“bagaimana mungkin kenikmatan-kenikmatan surgawi akan selalu bertambah dan tidak akan pernah habis meskipun telah digunakan?”
“bukankah jika kalian mengamalkan ilmu yang telah dimiliki, ilmu itu akan terus bertambah dan tidak pernah berkurang sedikitpun?”
Dialog Imam Abu Hanifah dengan orang atheis
Diriwayatkan bahwa Imam Abu hanifah adalah bagaikan sebilah pedang yang sangat tajam di mata kelompk Ad-Dahriyyah. Karena dia selalu menang dalam berdebat dengan mereka. Kelompk Ad-Dahriyyah adalah sekelompok orang yang menuhankan masa (waktu) dan berangapan bahwa kehidupan manusia hanya di dunia ini, tidak ada kehidupan lagi setelahnya karena sel-sel tubuh manusia akan rusak setelah terkubur di dalam tanah.
Pada suatu hari, ketika Imam Abu Hanifah sedang berada di dalam masjid, kelomok ini berniat menyerang dan membunuhnya, sehingga mereka tidak akan tergangu denganperkataan-perkataannya. Tetapi ketika mereka hendak membunuhnya, Imam Abu hanifah berkata dengan penuh keimanan dan keteguhan hati, “jawablah pertanyaanku tentang satu permasalahan, setelah itu perbuatlah sesuka hati kalian”.
Mereka berkata, “bertanyalah”
“apa pendapat kalian jika sebuah perahu yang penuh dengan muatan dan beban berlayar di tengah samudra yang luas. Meskipun diterjang ombak dan badai yang sangat besar, perahu itu tetap berjalan dengan tenang dan tak goyah sedikitpun, padahal tidak ada seorang nahkoda yang mengendalikannya?”
“ini sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal”
“Maha Suci Allah, jika tidak mungkin ada sebuah perahu yang berjalan di tengah lautan tanpa nahkoda yang mengendalikannya, maka bagaimana mungkin alam semesta yang luas dan terdiri dari berbagai macam bentuk dengan gerakan yang berbeda ini ada tanpa ada yang menciptakan dan memeliharanya”, ungkap Abu hanifah.
Mendengar penjelasan itu, mereka terkejut dan berujar, “engkau benar, wahai Imam”.
Kemudian mereka masuk Islam dan kembali ke rumah masing-masing dengan hati yang telah bertaubat.
Dialog Imam Jafkar dengan Orang Atheis
Dikisahkan bahwa seorang atheis pernah mendatangi Imam Jafkar Ash-Shadiq untuk berdialog dengannya tentang adanya Allah. Imam Jafkar bertanya kepadanya, “apakah engkau pernah naik perahu di tengah lautan?”
Orang itu menjawab, “Ya”.
Beliau bertanya lagi, “apakah engkau pernah merasakan pengalaman yang pahit dan menakutkan?”
“pada suatu hari, perahu yang saya tumpangi diterjang badai yang sangat besar, sehingga perahu tersebut pecah dan banyak diantara penumpangnya yang tenggelam. Kebetulan, syaa berpegangan pada salah satu papan dari perahu tersebut. Kemudian papan itu hanyut terbawa oleh ombak hingga saya selamat sampai ke daratan”
Mendengar penuturannya itu, beliau menimpali, “pada mulanya, engkau hanya menggantungkan hidupmu pada perahu yang engkau tumpangi. Lalu setelah perahu itu terpecah, engkau menggantungkannya pada papan yg telah menghantarkanmu ke tepi lautan. Tetapi bagaimanakah jika semua alat itu tidak ada, apakah engkau tetap mengharapkan keselamatan?”
“Ya, aku mengharapkan keselamatan”
“sungguh, hanya Allah-lah yang engkau harapkan ketika saat-saat seperti itu. Sungguh pada saat itu hatimu telah mengakui keberadaan-Nya, meskipun ketika engkau telah selamat, mulutmu tidak mau mengakui-Nya. Dan Dia-lah yg telah menyelamatkanmu sehingga engkau tidak tenggelam”
Kisah Tauhid
Suatu hari seorang guru yang menganut aliran atheism berkata kepada murid-muridnya, “tidak dapat disangkal lagi bahwa segala sesuatu yang terlihat oleh mata kalian adalah termasuk sesuatu yang maujud (ada)”.
Murid-murid berkata “Ya”
Guru itu berkata lagi “sekarang ini, kalian dapat melihat papan tulis, pena, buku, dan kursi. Hal ini disebabkan karena benda-benda tersebut ada di hadapan kalian. Dan kalian dapat melihat serta menyentuhnya. Bukankah begitu, wahai murid-muridku??”
“Ya”
“apakah kalian dapat melihat Allah?”
“tidak”
“jadi Allah itu tidak ada”.
Mendengar perkataan itu, para murid menjadi bingung dan tercengang karena mereka tidak pernah mendengar perkataan seperti itu sebelumnya. Mereka adalah orang yang meyakini adanya Allah meskipun mereka tidak pernah melihat-Nya. Akan tetapi tidak lama setelah itu, tiba-tiba salah seorang dari mereka meminta izin kepada sang guru untuk bertanya kepada teman-temannya,
“apakah kalian mendengar perkataan guru kita ini?”
Murid-murid yang lain menjawab, “ya”
“apakah sekarang kalian melihat guru kita ini?”
Mereka menjawab “Ya, dia ada di hadapan kita”.
“apakah guru kita ini memiliki akal?”
“Ya”
“apakah kalian dapat melihat akalnya?”
“tidak”
“berdasarkan perkataan sang guru tadi bahwa segala sesuatu yg ada pasti dapat dilihat dan sesuatu yg tidak dapat dilihat berarti tidak ada, maka saya berkesimpulan bahw guru kita ini tidak memiliki akal karena kita tidak dapat melihatnya,” ungkap sang murid panjang lebar.
Mendengar perkataan itu, murid-murid yang lain secara spontan menertawakan sang guru. Sedangkan sang guru sendiri merasa heran dengan kepandaian sang murid tersebut. Dia menyadari bahwa kepandaian murid tersebut telah ditakdirkan oleh Allah untuk meluruskan kebatilan dan kesesatannya.
Selasa, 27 Juli 2010
Sang Pohon dan Sebutir Debu
Namun kemudian si debu tersenyum, sekulum senyum yang membuat sang pohon tersentak heran dan tak kuasa bertanya ”Mengapa engkau tersenyum simpul begitu ?” Tetap dengan senyum simpulnya, si debu mejawab, “Pasti DIA punya rencana untukku.”
Tak berselang lama, bertiuplah angin sepoi, angin lembut yang akhirnya menerbangkan si debu jauuh tinggi dan mengucapkan selamat tinggal pada sang pohon besar. Dia terbang diterpa angin bersama dengan seulas senyum tipisnya. Sang pohon semakin keheranan dengan sikap si debu yang menurutnya malang ini. Dalam hati dia menduga kalau si debu sudah putus asa atas nasib buruknya.
tapi, Tiba-tiba cuaca berubah, angin sepoi yang membuai berubah menjadi topan yang melumatkan apa saja yang dilaluinya. Wusshhh…wusshhh…! dan menumbangkan si pohon besar dengan hanya menyisakan akarnya yang memang terhunjam di perut bumi dan sebagian batangnya.
Sepuluh tahun berselang, hinggaplah sebutir debu di pohon tua dengan batang yang telah terkoyak dan sedikit daun. Tanpa bunga apalagi buah. “Hai, bukankah engkau si debu malang itu ?”, sapa sang pohon tua ini. “Iya benar, dan bukankah engkau pohon gagah yang sepuluh tahun menjulang tinggi dengan buahmu yang meranum yang membuat semua terkagum ?” “Benar”, jawab sang pohon, “Setiupan angin topan besar yang datang selepas angin sepoi yang menerbangkanmu telah membuatku begini. Waktu sebenarnya bisa saja mengembalikan ‘kegagahanku’, namun kerontang kemarau berkepanjangan telah menahannya. Lihatlah di sekitar kita saat ini, nyaris hanya tersisa aku dan si tua pohon oak di sebarang bukit sana. Bagaimana denganmu ? Sudah kemana saja engkau diterbangkan nasib ?”, tanya sang pohon. ”Nasib telah mengantarku ke puncak Himalaya hingga ke padang pasir Afrika. Sungguh, dunia lebih luas dari yang kau kira.”, jawab si debu.
Sahabatku yang luar biasa, Apa yang bisa Anda ambil hikmah dari cerita diatas? terkadang kita hanya perlu membiarkan nasib menerbangkan kita. Bersyukur atas segala yang ada dan tak mengeluh atas yang belum terengkuh. Kita diCiptakan oleh-NYA dengan derajat paling Tinggi, begitu luar biasanya Anda, Anda pun pasti bisa menjadi apa yang Anda inginkan.
Sekarang, Apa sih yang Mustahil bagi-NYA untuk menjadikan Anda Hebat, Bahagia dan Sukses?
Soal Berat Beban
Para siswa pun mulai menjawab dari 200 gr sampai 500 gr. Dosen Covey pun berkata, "Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. " kata Covey.
"Jika saya memegang air dalam gelas ini selama 1 menit, tentunya tidak ada masalah, bukan?. Namun, bagaimana jika saya memegangnya selama 1 jam? Sudah pasti lengan kanan saya akan pegal dan terasa sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya.
Berat air dalam gelas ini sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.
"Apa yang harus kita lakukan agar bebn tak lagi berat? Ya.. meletakkan gelas tersebut, istirahatlah sejenak sebelum mengangkatnya lagi". Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.
Sahabat, kehidupan bukan saja masalah yang harus diselesaikan melainkan juga karunia yang perlu dinikmati.” Tak dapat dipungkiri rutinitas yang padat setiap hari membuat jiwa kita jenuh dan lelah, bukan saja secara fisik tetapi jiwa. Oleh karena itu kita membutuhkan sebuah penyegaran. Karena hidup itu indah, jadi nikmatilah.
Selasa, 20 Juli 2010
kata bijak untuk direnungkan
tertawalah kita jika kita menghadapi jalan yg menanjak.... karena
sehabis itu kita pasti akan menemukan jalan yg menurun...
menangislah kita jika kita menemukan jalan yg menurun....
karena sehabis itu kita pasti akan menemukan jalan yang menanjak...
Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur? ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan? ketika kita berciuman? Ini karena hal terindah di dunia TIDAK TERLIHAT..
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan..Orang2 yang tidak ingin kita tinggalkan... Tapi ingatlah.......
melepaskan BUKAN akhir dari dunia.. melainkan awal suatu kehidupan baru..
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti, mereka yang telah mencari...
dan mereka yang telah mencoba.. Karena MEREKALAH yang bisa menghargai
betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.
Kekayaan, Kesuksesan, dan Cinta
Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata:
"Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut”.
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya,
"Apakah suamimu sudah pulang?”
Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar”.
"Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suami mu kembali”, kata pria itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya,
"Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”.
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama", kata pria itu hampir bersamaan.
"Lho, kenapa?”, tanya wanita itu karena merasa heran.
Salah seorang pria itu berkata,
"Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, dan "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan”, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya.
”Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu”.
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran.
"Ohho...menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan”.
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya,
"sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita."
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.
"Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta”.
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka.
"Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita”.
Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu.
"Siapa diantara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini”.
Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho..ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.
"Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?”.
Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan.
"Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan, Saat kami menjalani hidup ini”
Rintihan Seorang Hamba
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah... ya Tuhanku yang Maha
Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi
Tetapi ya Allah...
Seandainya telah Engkau takdirkan...
...Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada
disisiku
Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha
Mengerti...
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada
langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa
bersama dengannya
Dan ya Allah yang tercinta...
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya....
Ya Allah ya Tuhanku...
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau
takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini
Ya Allah...
Cukuplah Engkau saja yang menjadi
pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang
daif ini
Kamis, 08 Juli 2010
Untukmu Ibu
Waktu kamu berumuran 1 tahun , dia menyuapi dan memandikanmu ... sebagai balasannya ... kau menangis sepanjang malam.
Waktu kamu berumur 2 tahun , dia mengajarimu bagaimana cara berjalan ..
sebagai balasannya ..... kamu kabur waktu dia memanggilmuWaktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang .. sebagai balasannya ..... kamu buang piring berisi makananmu ke lantai
Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna ... sebagai balasannya .. kamu corat coret tembok rumah dan meja makan
Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya ... kamu memakainya bermain di kubangan lumpur
Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah .... sebagai
balasannya ... kamu berteriak "NGGAK MAU ..!"Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola ... sebagai balasannya .kamu melemparkan bola ke jendela tetangga
Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim ... sebagai balasannya...kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumuWaktu kamu berumur 9 tahun , dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu .sebagai balasannya .... kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar
Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun .. sebagai balasannya ... kamu melompat
keluar mobil tanpa memberi salamWaktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop .. sebagai balasannya ... kamu minta dia duduk di barisan lain
Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa ... sebagai balasannya .... kamu tunggu sampai dia keluar rumah
Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya .sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode
Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan .. sebagai balasannya .... kamu nggak pernah menelponnya
Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu ...
sebagai balasannya ... kamu kunci pintu kamarmuWaktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil ....sebagai balasannya .... kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa
mempedulikan kepentingannya Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting ... sebagai balasannya .... kamu pakai telpon nonstop semalaman,
waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya .... kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi
Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu
ke kampus pada hari pertama ... sebagai balasannya ..... kamu minta
diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temenWaktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. sebagai balasannya ... kamu menjawab "Ah,
cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang." Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu ... sebagai balasannya ..... kamu bilang "Aku nggak mau
seperti kamu."
Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus
perguruan tinggi .. sebagai balasanmu ... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri
Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah
barumu ... sebagai balasannya ... kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu
Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya
tentang rencana di masa depan .... sebagai balasannya ... kamu mengeluh
"Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."
Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu ..
sebagai balasannya .... kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.
Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat
bayimu ... sebagai balasannya .... kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."
Waktu kamu berumur 40 tahun , dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah
satu saudara dekatmu .. sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali,
nggak ada waktu."
Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu ... sebagai balasannya ..... kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya
dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang ... dan tiba-tiba kamu
teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, ... dan itu menghantam
HATIMU bagaikan pukulan godam
MAKA ....
JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA ... BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI
JIKA ORA NG TUAMU SUDAH TIADA ... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU
Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak
yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.
Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang
bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima
kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.
OngKos upah membantu ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
2) Menjaga adik Rp20.000
3) Membuang sampah Rp5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
5) menyiram bunga Rp15.000
6) Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp85.000
Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak
yang raut mukanya berbinar-binar.
Si ibu mengambil pena dan menulis
sesuatu dibelakang kertas yang sama.
1) OngKos mengandungmu selama 9bulan - GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu - GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu - GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu - GRATIS
6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu - GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS
Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak
menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".Kemudian si
anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang
ditulisnya: "Telah Dibayar" .
APAKAH KAMU SAYANG ORANGTUAMU????
KARENA ORANGTUAMU SELALU MENYAYANGIMU.
Senin, 24 Mei 2010
apakah Tuhan menciptakan kejahatan???
Pemikir langka seperti Anda pasti sudah memahami bahwa segala yang ada diBumi ini adalah hasil karya indah Luar biasa ciptaan Allah yang Maha Agung.
Trus, apa Tuhan juga menciptakan kemiskinan, Peperangan, kejahatan dan hal-hal Negatif lainnya? Hey..heyy.. tidak usah berprasangka dulu ya, sebelum Anda membaca cerita motifasi berikut ini, yuukk
Suatu hari, Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".
Lalu Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".
"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".
"Tentu saja," jawab si Profesor,
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."
Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda SALAH, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih sayang Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."
Profesor itu pun terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.
jadilah manusia yang positif dan Raihlah kasih sayang Allah untuk hidup lebih berkah. Tetaplah bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki. Allah selalu bersama kita, Belajarlah bersandar pada-Nya.
Jadikan Aku Cermin Itu!
Layaknya seseorang membersihkan kaca dari bercak dan noda-noda bandel, ada kalanya ia perlu sedikit menekan dan menggosok agak keras, demi memulihkan kejernihan dan kebeningan kaca. Pun ketika gigi seseorang hendak dibersihkan dari plak-plak yang mengeras. Kadang terasa agak sedikit ngilu dan nyeri. Bahkan ketika seseorang hendak meminum obat pembersih perut, ia akan merasakan sedikit sakit.
Demikian analogi sederhana dari sebuah kritik dan masukan yang diberikan oleh seseorang kepada saudaranya. Bukankah seorang mukmin adalah cermin dari saudaranya? Dan bukankah cermin adalah sebuah simbol kejujuran?
Akankah kita marah saat cermin memberitahu bahwa di kening atau di pipi kita ada beberapa butir jerawat? Ataukah kita mencoba ragu dan membohongi diri ketika dahi kita sudah banyak berkerut dan rambut mulai memutih? Ah, rasanya tidak seperti itu. Mungkin sama kagetnya ketika seseorang mendengarkan hasil rekaman suaranya. Suaraku, kok, seperti ini? Tetapi itulah. Begitulah sebuah kejujuran. Kadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Apalagi bila dihubungkan dengan sesuatu mengenai diri kita, tepatnya dengan sesuatu yang kurang mengenakkan, maka secara reflek kebanyakan kita sibuk merasionalisasi atau mencari pembelaan.
Bila kita hendak mencari cermin bagi diri kita, maka carilah cermin yang jernih, yang akan memberikan informasi tentang kita dengan obyektif. Karena di saat yang sama, diri kita pun akan menjadi cermin yang serupa. Cermin yang kita gunakan melihat diri kita pun harus kita jaga dari noda, debu, dan bercak yang membuatnya keruh dan tidak jernih. Sama halnya saat kita menjaga kejernihan hati kita untuk memaksimalkan peran kita sebagai cermin bagi saudara kita. Bila kita siap menjadi cermin yang jernih, maka kita takkan kesulitan mencari cermin yang jernih pula. Karena senyawa kejernihan akan melebur jadi satu dalam tautan cinta dan persaudaraan.
Lantas, mengapa ada yang marah ketika cermin yang jernih itu menunjukkan yang benar, hingga ia merasa perlu untuk geram dan memecahkan cermin tersebut? Hal tersebut, bisa jadi dikarenakan beberapa faktor internal: Pertama, merasa dirinya sudah tidak mungkin bersalah. Kedua, merasa dirinya selalu lebih dalam hal apapun dan dari siapapun. Ketiga, merasa bahwa dirinya selama ini selalu dipuji dan dimuliakan di mana-mana dan kapan saja. Keempat, terlalu mendewakan akal dan kecerdasannya. Kelima, tertipu oleh posisi strategis pada strata sosial di tempatnya berada serta terlenakan dengan popularitas yang diraihnya dengan berbagai cara. Keenam, tidak siap menerima kritik dan nasihat. Ketujuh, secara eksternal, berada di lingkungan orang-orang yang membiarkan kesalahan merajalela dan menjadikan kemalasan sebagai kebiasaan mereka serta memahami pola hidup individualis yang acuh tak acuh dengan sekelilingnya.
Cermin yang bagus bukanlah cermin yang tak tersentuh debu dan bercak-bercak noda, tapi cermin yang terjaga. Karakter cermin selain kejujuran adalah kepercayaan dan amanah. Karena cermin takkan memberikan informasi dan kekurangan orang lain selain kepada yang bersangkutan. Sungguh tak masuk akal, bila si A bercermin namun yang ada dalam cermin adalah bayangan si B.
Setelah ini, siapkah Anda menjadi cermin bagi saudara Anda? Dan siapkah Anda menerima informasi yang valid tentang diri Anda melalui penuturan cermin yang jernih? Dan bukankah Anda lebih puas bila bercermin di dalam kamar Anda, karena Anda bisa mengamati diri Anda dengan detail dan seksama? Ataukah justru Anda lebih puas menenteng cermin kecil dan memasukkannya dalam tas mungil Anda, sehingga Anda bisa menggunakannya dengan segera di saat Anda memerlukannya?
Orang sekharisma Umar bin Khattab saja menerima dengan lapang dada sebuah teguran bernada protes dari seorang perempuan tentang pembatasan mahar. Atau ketika seorang Umar bin Abdul Aziz ditegur oleh putranya ketika ia berbaring hendak memejamkan kedua matanya, “Ra‘âyâka, ya Abî! (Rakyatmu, wahai Bapakku!),” beliau langsung berdiri menunaikan amanah sebagai seorang pimpinan kaum muslimin. Bahkan tak sedikit para ulama tarâju‘ (menarik kembali) dari pendapatnya yang lama setelah dirasakan salah atau kurang tepat.
Adapun cara penyampaian kritik dan saran, tentunya Anda lebih tahu dari saya. Dan sebagaimana cermin pun lebih sering digunakan secara tersembunyi, ia juga akan digunakan dengan sangat hati-hati, supaya tidak pecah. Dan budaya saling menasihati ini merupakan salah satu ciri orang yang dikecualikan Allah dari katagori orang merugi (surat Al-‘Ashr). Yaitu orang yang saling berwasiat dan menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Setelah ini, Anda akan semakin yakin dalam berpenampilan. Karena Anda telah memiliki sebuah cermin yang sangat jernih. Karena Anda merawatnya. Karena Anda menjaga kebersihannya. Siapkah jika kemudian Anda diminta untuk menjadi cermin itu?
Selasa, 04 Mei 2010
Kisah Seorang Atheis
dan binatang-binatang di sini!" katanya sambil menikmati pemandangan di sekelilingnya.
Saat sedang berjalan dipinggiran sungai, tiba-tiba ia mendengar suara dari balik semak. Seekor
beruang besar setinggi 2 meter muncul menyerangnya. Dia berusaha lari, tapi malah
tersandung dan tersungkur ke tanah. Pada waktu ia berusaha untuk bangun, ia melihat beruang itu sudah tepat diatasnya dengan cakarnya yang sudah siap merobek-robek.
Si Atheist kontan menjerit, "Oh Tuhaaannn...!!!" dan mendadak waktu berhenti. Beruang itu menjadi diam, aliran sungai terhenti dan seisi hutan menjadi sepi. Seberkas sinar muncul menerpa wajah dan suara dari langit terdengar, katanya, "Selama ini kau menentang-Ku,
menghasut semua orang bahwa Aku ini tidak ada, serta menyangkal semua ciptaan-Ku. Berani-
beraninya kau menyebut nama-Ku untuk minta tolong! Haruskah Aku menolongmu?"
"Mungkin terlalu munafik dan tidak adil bagi-Mu jika aku mendadak meminta untuk menganggapku orang Islam dan langsung menolongku", jawab si Atheist, "tapi sudikah Kau menjadikan beruang ini Islam?" Suara itupun menjawab, "Baiklah".
Sinar surgawi itupun lenyap dan seketika itu juga semua kembali seperti semula. Beruang itu masih berdiri di depan si Atheist namun tidak jadi menyerangnya, malah melipat kedua cakarnya, menundukkan kepalanya sambil berkata, "Ya Allah, berkatilah makanan yang sudah tersedia di depanku ini... agar menjadi kekuatan bagiku untuk memuliakan nama-Mu... Amin.."