Apa kamu?? Lagi nunggu cerita selanjutnya?? Mau tau curhat apa lagi yang bakal aku tulis di sini?? Kepoo???!
Sory akhir-akhir ini aku malas menulis curhatan di sini.
Nih aku tulis sesuatu lagi...
Intinya aku udah bubar bar!! dengan si R. The End! Dia mau njengking kek, mau nyungsep kek, mau sekarat kek, mau seneng kek, mau bahagia kek, mau susah kek, mau punya cowo lagi kek, mau lamaran kek, mau galau kek, bodooo amaattt!
Dia yang ga pernah menghargai usaha laki-laki yg sedang berjuang untuk menghalalkannya, sedang berjuang untuk memenuhi janjinya, sedang ikhtiar untuk kebaikan masa depannya, sedang berupaya mensucikan hubungannya, suatu saat dia pun akan paham tentang sesuatu yang tak ada harganya. Mungkin, jika Tuhan berkenan, aku akan menyaksikan saat dia dalam kondisi tak ada harganya lagi.
Sampai tgl 15 Desember kemarin, saat papahku menghadiri wisuda adikku, masih saja menanyakan hubunganku. Seolah tak yakin kalau hubunganku bubar. Seolah antara masih berharap dan kecewa. lalu aku tegaskan, tidak! Tidak perlu datang ke rumahnya kalau hanya membuat muka malu.
Usiaku kini sudah lewat dari 30th. Dan kini kembali sendiri. Dan belum ada minat untuk menjalin hubungan lagi dengan perempuan. Kalaupun ada, hanya ingin untuk senang-senang. Ga lebih. Nanti dulu kalau untuk serius. Kecuali perempuannya yang datang memintaku dan mau menerima segalanya tentangku yg brengsek, yang kere, yang ga jelas masa depannya, yang jelek, kuper.
Entah sejak kapan pikiranku menjadi liar, tingkahku menjadi masa bodo, menjadi nakal, menjadi seolah bukan aku. Aku menjadi orang yang tak percaya lagi dengan perempuan yang sok suci soal hubungan. Sok romantis, sok idealis, sok toleran.
"ya Tuhan, pertemukanlah aku dengan orang yang terbaik menurut pilihan-Mu"
Fuck dg kata-kata itu!! tebaik menurut nafsu dan keinginanmu mungkin maksudnya. Setelah kau melihat ada kerugian dimasa depan, maka kau akan berupaya mencari yang lain. Mencari yang "terbaik", menurut pikiranmu sendiri tentunya. Bukan berupaya membangun kebaikan bersama. Bukan berupaya membangun visi bersama untuk lebih baik. Lihat saja, kau tak akan dapatkan itu! Saat itu kau akan sadar, yang terbaik itu telah berlalu. Mungkin dia ada di belakangmu, atau mungkin sudah jauh melesat di depanmu yang sudah tak mungkin lagi untuk kamu kembali, atau mengejarnya. Cinta, jodoh, diukur dengan kalkulasi ekonomi. Dihitung tentang untung rugi.
Apa?? kau bilang aku terlalu kejam menghakimi? terlalu berburuk sangka? Iya! Aku menjadi orang yang memandang sinis tentang itu.
Imajinasi tidak sama dengan mimpi. Imajinasi menciptakan energi untuk terus berharap, dan mewujudkan mimpi itu.!!
by: Ksatria Khayalan
Kamis, 31 Desember 2015
Rabu, 25 November 2015
Tidakkah Kau Pikirkan??
Kemarin, entah kenapa kamu tiba-tiba cerita tentang laki-laki barumu? tidakkah kau pikirkan perasaanku yg masih sakit dan hancur? Belum bisa aku bangkit dari keterpurukan akibat ulahmu, tapi kau malah bercerita soal seseorang yg membuatmu nyaman. Kau bilang bahwa dia mampu membuatmu nyaman dan kau berniat untuk komitmen dengannya.
Tidakkah kau memikirkan perasaanku yg hancur berantakan akibat komitmenmu yg kau campakkan begitu saja? Sempat aku tak kuat membalas sms mu. Kalau bukan karena perasaan sayangku, aku tak akan peduli lagi dengan semua tentangmu dan segala urusanmu. Aku coba kuatkan. Barulah aku beranikan diri membalas sms mu.
Dengan entengnya kau katakan "aku pun sudah bisa move on dan mencoba membuka hati untuk orang lain". Kau pikir hati kita sama? Tidak!! Hatiku tak semudah itu. Ketika hatiku ku putuskan berlabuh padamu pun butuh pemikiran dan pemantapan yang panjang. Karena aku yakinkan bahwa pilihan ini adalah serius, yg pertama dan terakhir. Jadi sungguh sangat sangat sulit untuk ku kembalikan hatiku seperti semula. Mungkin waktu beberapa bulan pun ga cukup. Terbukti, telah 8 bulan berlalu, hatiku tetap seperti ini. Tetap terpuruk. Tak ada yg tau seberapa terpuruknya aku.
Minggu lalu, sempat aku pulang ke rumah. Yang membuatku tak enak adalah saat papah menanyakan hubunganku denganmu. Bahkan papah berniat menemui orang tuamu bulan Desember nanti. Saat adikku wisuda, rencananya akan sekalian mampir ke rumahmu. Papah juga sudah ribut soal penyiapan mas kawin. . Bingung harus ku jelaskan apa dan dari mana. Biar sajalah. . Takut papah kecewa karena anak tertuanya kembali tak jelas kapan nikah. Itu artinya juga, semakin lama pula papah bisa menimang cucu.
Tak kau pikirkan itu semua kah?
Aku hanya menyarankan bahwa jika kau serius dan merasa nyaman, silahkan lanjutkan. Pesanku padamu hanya jangan kau ingkari janji dan komitmenmu lagi. Jangan sekali-kali kau coba-coba lg soal perasaan. Ketika kau mengulanginya lagi dengan laki-laki barumu, itu sama saja kau melukaiku untuk yg kedua kalinya. Semoga kau bahagia dg laki-laki barumu. Aku hanya menunggu kabar baikmu.
Tidakkah kau memikirkan perasaanku yg hancur berantakan akibat komitmenmu yg kau campakkan begitu saja? Sempat aku tak kuat membalas sms mu. Kalau bukan karena perasaan sayangku, aku tak akan peduli lagi dengan semua tentangmu dan segala urusanmu. Aku coba kuatkan. Barulah aku beranikan diri membalas sms mu.
Dengan entengnya kau katakan "aku pun sudah bisa move on dan mencoba membuka hati untuk orang lain". Kau pikir hati kita sama? Tidak!! Hatiku tak semudah itu. Ketika hatiku ku putuskan berlabuh padamu pun butuh pemikiran dan pemantapan yang panjang. Karena aku yakinkan bahwa pilihan ini adalah serius, yg pertama dan terakhir. Jadi sungguh sangat sangat sulit untuk ku kembalikan hatiku seperti semula. Mungkin waktu beberapa bulan pun ga cukup. Terbukti, telah 8 bulan berlalu, hatiku tetap seperti ini. Tetap terpuruk. Tak ada yg tau seberapa terpuruknya aku.
Minggu lalu, sempat aku pulang ke rumah. Yang membuatku tak enak adalah saat papah menanyakan hubunganku denganmu. Bahkan papah berniat menemui orang tuamu bulan Desember nanti. Saat adikku wisuda, rencananya akan sekalian mampir ke rumahmu. Papah juga sudah ribut soal penyiapan mas kawin. . Bingung harus ku jelaskan apa dan dari mana. Biar sajalah. . Takut papah kecewa karena anak tertuanya kembali tak jelas kapan nikah. Itu artinya juga, semakin lama pula papah bisa menimang cucu.
Tak kau pikirkan itu semua kah?
Aku hanya menyarankan bahwa jika kau serius dan merasa nyaman, silahkan lanjutkan. Pesanku padamu hanya jangan kau ingkari janji dan komitmenmu lagi. Jangan sekali-kali kau coba-coba lg soal perasaan. Ketika kau mengulanginya lagi dengan laki-laki barumu, itu sama saja kau melukaiku untuk yg kedua kalinya. Semoga kau bahagia dg laki-laki barumu. Aku hanya menunggu kabar baikmu.
Jumat, 13 November 2015
Seandainya Tak Sendiri
Sering ku termenung sendirian. Saat aku sibuk mengurus sendiri, mengurus dan mebereskan kamar sendiri, aku berpikir betapa kasiannya aku mengerjakan semua ini sendirian. Bahkan saat kondisi sakit seperti ini, aku lebih merasa nelangsa. Aku harus merawat diriku sendiri yg kepayahan, ditambah harus melakukan ini itu sensiri.
Sering aku menjerit kesakitan sendiri saat aku merawat sakitku. Aahh... andai ada orang yg bisa membantu merawatku, tentu tak perlu kepayahan seperti ini.
Untuk mandi pun kesulitan, apalagi harus beraktivitas seperti mencuci, ngepel, nyapu, sampai merawat luka sendiri. Mungkin nasibku saat ini memang masih harus belajar sendiri dulu.
Seandainya ada seseorang yg bisa menemani dan merawatku...
Langganan:
Postingan (Atom)