Imajinasi tidak sama dengan mimpi. Imajinasi menciptakan energi untuk terus berharap, dan mewujudkan mimpi itu.!!
by: Ksatria Khayalan
Senin, 13 Maret 2017
Manusia Pembuat "Masalah" (2)
Sebenarnya, masalah yg dihadapi manusia itu bukanlah semata kesialan yg ditimpakan Tuhan atasnya. Semakin manusia melek terhadap segala sesuatu, saat itulah pintu "masalah" mulai terbuka untuk dirinya. Walaupun sejatinya masalah itu sudah hadir sejak mahluk bernama manusia lahir ke alam fana ini. Hanya saja, pemikiran yg belum sampai pada tahapnya. Sehingga kita belum menganggap itu sebagai masalah.
Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa agar masalah yg kita hadapi itu hilang, ada dua cara : tinggikan pengetahuan atau ilmu agar masalah ini menjadi semakin tak berarti, atau pasrahkan segalanya, terus jalani saja, percayakan pasti nanti ada jalan keluarnya. Layaknya anak kecil yang belajar berjalan.
Minggu, 18 Desember 2016
Manusia, Si Pembuat "Masalah;
Semakin Maju, Semakin Kompleks Masalah Kita
Kita dilahirkan ke dunia ini membawa nasibnya sendiri, dan kita menentukan nasib diri kita sendiri. Baik buruknya kita tergantung pada pilihan pribadi, meskipun kita lahir ditengah marsyarakat atau orang-orang yg heterogen.
Seberapa pun besarnya lingkungan mempengaruhi kita, pada taraf tertentu, dg perkembangan pemikiran kita, tentu dapat menimbang dan memilah mana yg terbaik diantara sekian banyak pilihan hidup. Karena itulah, Allah tidak menghukum manusia atas apa yg dipilihnya sebelum manusia itu sampai pada taraf pemahaman yg cukup dewasa. Allah membebani hukum sesuai taraf pengetahuan kita.
Untunglah, Allah, Tuhan semesta ini maha pemaaf dan maha mengetahui sehingga beban masalah, beban hukum diberikan sesuai kapasitasnya. Itulah bedanya dg hukum yg dibuat manusia. Hukum manusia berlaku menyeluruh sejak diberlakukannya peraturan meskipun orang tersebut belum mengetahui peraturannya.
Manusia lahir, tumbuh dewasa dengan pengalaman-pengalaman yg menyertainya. Manusia itu diberi bakat untuk terus berkembang. Karena itulah manusia mendapat tugas sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi ini. Naluri manusia adalah ingin menguasai, serba ingin mengetahui, dan berambisi. Manusia adalah mahluk peradaban.
Dulu sekali, manusia turun ke dunia ini dg ala kadarnya. Semua serba simpel, sederhana, ga njlimet. Manusia tidak perlu repot memikirkan tata masyarakat, tak perlu pusing membuat aturan-aturan, tak perlu capek membuat segala sesuatu untuk kebutuhan. Sederhananya, manusia hidup seadanya.
Dengan tabiat manusia yg cenderung berambisi dan tak pernah puas dg yg ada, maka manusia terus berkembang menciptakan "masalah-masalahnya" sendiri. Makin berkembang peradaban mahluk bernama manusia, maka secara bersamaan makin kompleks juga masalah yg dihadapi. ....
Senin, 05 September 2016
Generasi Jadoel
SEKEDAR KITA-KITA TAU*
*Yang lahir angkatan
60 - 70 - 80
Sekedar anda tau.
Kita yg lahir di tahun 60-70-80an, adalah generasi yg layak disebut generasi paling beruntung.
Karena kitalah generasi yg mengalami loncatan teknologi yg begitu mengejutkan di abad ini, dg kondisi usia prima.
Kitalah generasi terakhir yg pernah menikmati riuhnya suara mesin ketik.
Sekaligus saat ini jari kita masih lincah menikmati keyboard dari laptop kita.
ππππ»π»
Kitalah generasi terakhir yg merekam lagu dari radio dg tape recorder kita.
Sekaligus kita juga menikmati mudahnya men download lagu dari gadget. ππ»πΌπ±
Kitalah generasi dg masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, galasin adalah permainan yg tiap hari akrab dg kita.
Sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan berbagai game di gadget .
πππππ±π»
Masa remaja.
Kitalah generasi terakhir yg pernah mempunyai kelompok /geng yg tanpa janji, tanpa telpon/sms tapi selalu bisa kumpul bersama menikmati malam minggu sampai pagi.
Karena kita adalah generasi yg berjanji cukup dg hati.
Kalau dulu kita harus bertemu untuk terbahak bersama.
Kini kitapun tetap bisa ber ''wkwkwkwk
πππππππ''
Di grup Facebook/whatsApp/line.
Kitalah generasi terakhir yg pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet dimana-mana.
Juga bersepeda motor menikmati segarnya angin jalan raya tanpa helm di kepala kita. π΄ π΅
Kitalah generasi terakhir yg pernah menikmati jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik yg membayangi kita.
Kitalah generasi terakhir yg pernah merasakan nikmatnya nonton tv dg senang hati tanpa diganggu remote untuk pindah chanel sana sini .
Kita adalah Generasi yang selalu berdebar debar menunggu hasil cuci cetak foto, seperti apa hasil jepretan kita.
Selalu menghargai dan berhati2 dalam mengambil foto dan tidak menghambur hamburkan jepretan dan dan mendelete nya jika ada hasil muka yang jelek.
Saat itu hasil dengan muka jelek kita menerimanya dengan rasa ihklas.
Ihklas dan tetap ihklas apapun tampang kita di dalam foto.
Tanpa ada editan Camera 360 photoshop atau Beauty face.
Betul2 generasi yg menerima apa adanya.
Kitalah generasi terakhir yg pernah begitu mengharapkan datangnya pak pos menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih hati.
Kita mungkin bukan generasi terbaik. Tapu kita adalah generasi yg
LIMITED EDITION.
Kita adalah generasi yg patuh & takut kpd ortu (meskipun sembunyi2 nakal & melawan) tp kita generasi yg mau mendengar & komunikatif terhadap anak cucu.
Itulah kita.... selalu bersyukur atas nikmat yg telah kita terima
Anda generasi itu?
Bagikan ini...
Biar yg belum tau menjadi tau. Biar yg pernah tau tetap ingat kalau mereka tau dan menikmati lagi indahnya masa lalu yg tidak semua generasi tau..
*Indahnya waktu itu........*
Langganan:
Komentar (Atom)